Chapter 46 (1/1)
Suzy segera memutuskan sambungan teleponnya dan menghela napas lega. Yah, dia sudah berhasil berbohong dengan baik pada Jongin di telepon.“Kenapa?” tanya Myungsoo begitu melihat wajah suram yang ditunjukkan kekasihnya itu.Suzy mengangkat bahunya pelan, “Entahlah, aku hanya merasa tidak enak dengan Jongin,” kata gadis itu.Myungsoo tersenyum kecil lantas mengusap lembut puncak kepala gadisnya itu. “Sudahlah, serahkan semuanya pada Luhan hyung. Ini kan rencananya,” katanya berusaha menenangkan Suzy.“Kau benar,” sahut Suzy masih berat.“Hei, bagaimana kalau kita manfaatkan ini untuk kencan? Sudah lama kita tidak kencan dan menghabiskan waktu berdua, bukan?” usul Myungsoo.Suzy menatap kekasihnya itu dan tersenyum senang.“Oh, bukan ide yang buruk,” sahut Suzy menerima usul Kim Myungsoo.Kemudian sepasang kekasih itu segera melenggang pergi untuk menghabiskan waktunya berdua saja. O0O Jongin terlihat mondar-mandir di depan pintu apartemen Soojung. Sesekali dia mencuri pandang ke arah lift, berharap tetangga kesayangannya segera muncul dari sana. Seharusnya Sehun sudah mengantar Soojung sampai ke rumah saat ini, tetapi nyatanya belum. Sebenarnya ke mana pemuda itu membawa Soojungnya pergi? Dia tidak mungkin berbuat curang dengan menculik Soojung bukan?“Jongin?”Jongin segera berbalik dan mendapati Soojung tengah menatapnya penuh tanya. Oh, dia terlalu kalut hingga tidak menyadari bahwa Soojung sudah tiba dengan selamat. Pemuda itu lantas mengedarkan pandangannya di sekitar Soojung, seolah mencari keberadaan supir Soojung tadi-Oh Sehun.“Di mana bocah albino itu?” tanya Jongin penasaran.“Sehun? Oh, dia langsung pulang begitu mengantarku,” jawab Soojung masih dengan tatapan menyelidiknya.“Kalian ke mana saja sih? Kenapa tidak langsung pulang?” omel Jongin kemudian.Soojung mengerutkan keningnya sejenak, “Ah, yah, kami hanya refreshing. Sekedar mencari udara segar di sekitar sungai Han,” jawab Soojung sekenanya. Dan Jongin menanggapinya dengan ber-oh ria.“Kupikir kau dan Luhan oppa pergi minum,” kata Soojung menyuarakan apa yang dipikirkannya sedari tadi.“Oh itu, aku hanya sedang tidak mood minum,” jawab Jongin sambil mengusap tengkuknya dan memasang cengiran lebarnya.Soojung mengangguk mengerti, “Baguslah, alkohol memang tidak baik untuk kesehatanmu,” gumam gadis itu pelan.“Ah, aku lelah sekali. Sebaiknya aku masuk sekarang,” kata Soojung sambil berjalan mendekati pintu apartemennya.Grep.Soojung menoleh begitu merasakan bahwa lengannya baru saja ditangkap oleh Jongin. Pemuda itu lantas menatapnya begitu teduh. Senyum manis pun tak ketinggalan di pamerkan pemuda berkulit kecokelatan itu.Cup.Jongin mengecup kening Soojug penuh sayang. Pemuda itu kemudian kembali menatap Soojung yang masih cukup terkejut akibat perlakuannya tadi. “Good night. Nice dream princess,” katanya lembut sambil menepuk puncak kepala Soojung.Setelah sekian detik Soojung akhirnya memperoleh kesadarannya. Dia lalu segera berlari memasuki apartemennya dan menutup pintuny cepat. Dengan sedikit lemas, Soojung bersandar pada pintunya itu. Soojung kemudian meremas pelan perutnya. Sial, letupan kembang api kecil di perutnya sama sekali tidak mau hilang. Sungguh mengganggu. O0O “Baiklah bersulang untuk keberhasilan proyek kita,” seru Taemin riang sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Beberapa orang mengikuti Taemin dan menegak bir mereka masing-masing.“Oh, Jong. Pekerjaanmu sungguh memuaskan kali ini,” kata Taemin sambil menepuk pelan punggung adiknya.Jongin hanya mendengus mendengar perkataan kakaknya itu, “Ralat, pekerjaanku memang selalu memuaskan,” kata pemuda itu sambil meneguk habis bir di gelasnya. Taemin hanya terkekeh menanggapi ocehan Jongin. Dan itualh yang membuat Jongin kesal. Taemin selalu saja menerima beres semua pekerjaannya, selalu melarikan diri dengan alasan yang klise, sibuk.Seulgi menatap kedua bosnya ini sambil tersenyum. Kedua kakak beradik ini selalu terlihat seperti kucing dan tikus. Tetapi sejujurnya mereka adalah saudara yang begitu akarab. Melihat gelas Jongin yang sudah kosong, membuat Seulgi tersenyum tipis.“Kau mau tambah sajangnim?” tanya Seulgi hingga membuat Jongin menoleh ke arahnya. Pemuda itu menatap sekretarisnya yang terlihat sedang tersenyum menggodanya.Jongin lantas tersenyum sambil mengangguk, “Beri aku segelas penuh lagi,” pinta Jongin. Yah, hanya bir yang bisa membuatnya rileks dari ribuan pekerjaan yang menumpuk.......“Oh, terima kasih sekretaris Kang.”Seulgi melotot horror begitu menyadari bahwa bukan Jongin yang menerima tuangan birnya. Melainkan sang model papan atas, Oh Sehun.“Ya, Oh Sehun. itu minumanku,” protes Jongin segera.Sehun menggeleng pelan lalu dengan sengaja menggeser posisi Seulgi yang tadinya berada di sebelah Jongin. Dia menyeringai sekilas pada gadis- yang tengah melihatnya dengan tatapan membunuhnya itu- lantas kembali menatap Jongin.“A-ah,” kata pemuda itu sambil menggoyangkan jari telunjuknya.“Kau tidak boleh minum terlalu banyak, Jong. Kau menyetir,” kata pemuda itu kalem.“Huh, lalu kenapa? Kau peduli?” ketus Jongin.“Aku? Aku sama sekali tidak peduli denganmu,” jawab Sehun sambil tetap memasang senyum yang bagi Jongin terlihat sangat menyebalkan.“Tapi aku peduli pada Soojung. Kelihatannya dia tidak terlalu kuat minum,” terang Sehun sambil menunjuk Soojung yang sudah merebahkan kepalanya di atas meja. Gadis itu sama sekali tidak jago untuk urusan minum.“Dengar Jong, jika kau tidak segera membawanya mungkin akan jadi masalah besar,” bisik Sehun pelan.Pandangannya kemudian mengedar ke seluruh arah, “Banyak serigala yang siap memangsanya saat ini. Jadi, bawa dia pergi sebelum serigala-serigala itu menangkap gadismu, Jong,” tambah Sehun.Jongin mengerjapkan kedua matanya seolah mencerna perkataan Sehun. “Kalau kau tidak membawanya, maka aku akan…,”Dan Jongin segera berlari untuk membawa pergi dari club itu sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya. O0O Soojung menggeliat pelan sambil mengusap kelopak matanya yang terasa gatal. Dia kemudian memegang kepalanya yang masih terus berputar-putar. Uhh, lain kali sebaiknya dia tidak menyentuh bir atau sejenisnya lagi.Pandangan Soojung kemudian teralihkan untuk mengamati sudut kamar yang dia tempati. Kamar ini seluas kamarnya, seingatnya. Hanya saja sejak kapan tembok kamarnya bercat putih? Seingat Soojung, dia menempelkan wallpaper bermotif untuk tembok kamarnya.“Kau sudah bangun?”Soojung mengerjap ketika mendengar suara memasuki indera pendengarannya. Di pintu sudah terdapat Jongin yang menguap menahan kantuknya. Rambutnya acak-acakan, penampilan orang yang baru bangun tidur......Soojung benar-benar mulai meraih kesadarannya. Jongin? Kenapa Jongin ada di sini? Dan lagi kenapa pemuda itu tidak mengenakan bajunya?“Hei, Soo? Kau baik-baik saja?” tanya Jongin sambil mendekat ke arah Soojung yang tampak terlihat panik.“Hei…,”Buk.“Awww,” O0O Soojung meremas ujung kemejanya sambil menunduk dengan wajah memerah. Dia benar-benar malu sekali karena bersikap tidak sopan pada Jongin. Huh, pemuda itu hanya membawanya ke apartemennya karena kondisinya yang mabuk. Dan dengan catatan, Jongin sama sekali tidak mencuri kesempatan untuk menelanjanginya tadi malam.“Minumlah,” Soojung mendongak begitu Jongin menyodorinya segelas susu cokelat hangat.Gadis itu lantas menggumam tidak jelas lalu menyesap susu hangatnya sedikit demi sedikit. Jongin tersenyum melihat tingkah Soojung. Gadis ini terlihat menggemaskan jika sedang salah tingkah.“Eum, sekali lagi maafkan aku Jong,” kata Soojung sambil menggenggam erat gelasnya.Jongin hanya terkekeh pelan, “Tidak apa, bantal dan guling bukan benda yang keras. tidak terlalu sakit kok,” kata pemuda itu sambil mengusap kepalanya yang tadi terkena lemparan bantal dan guling dari Soojung.“Salahku sendiri karena toples di hadapanmu tadi, wajar jika kau berpikir yang bukan-bukan,” lanjut pemuda itu sambil meringis kecil.“Hmm, yah aku juga tidak berniat membawamu ke sini, hanya saja aku sama sekali tidak tahu password apartemenmu. Jadi yah, seperti yang kau lihat. Tapi sungguh aku tidak menyentuhmu. Aku tidur di sofa semalaman,” jelas Jongin lagi.“Yah, tidak apa. Terima kasih karena sudah menjagaku,” kata Soojung sambil tersenyum tulus.“Kurasa permintaan maaf dan ucapan terima kasih belumlah cukup,” tiba-tiba saja Jongin berpikir keras sambil mengetukkan jarinya ke meja.Soojung menghela napas perlahan, pemuda ini sungguh banyak maunya. “Bagaimana kalau aku membuatkan sarapan untukmu setiap hari?” tawar gadis itu padanya. Yah, setidaknya untuk menghindari permintaan Jongin yang macam-macam.“Kalau kau tidak mau ya..”“Tidak, aku mau. Sangat mau,” potong Jongin cepat. Kemudian senyumannya segera merekah. Satu langkah lagi untuk dapat lebih dekat dengan Jung Soojung. O0O Tok. Tok.“Masuk,” kata Jinri sambil tetap fokus pada berkas pasiennya.“Oh, kelihatannya aku mengganggumu, dokter,” Jinri menghentikan aktivitasnya dan mendongak untuk melihat lawan bicaranya.Jinri menganga begitu melihat sesosok pemuda di hadapanya. Pemuda yang bagi Jinri masih terlihat sangat menyebalk