Chapter 47 (1/1)
Warning: Okay, tarik napas dalam-dalam ketika baca chapter ini. New cast : Kang Minhyuk Jongin bersiul kecil sambil menata rambut legamnya dengan jel. Yah, suasana hatinya sedang sangat baik terlebih ketika akan bertemu pujaan hatinya pagi ini. Jongin tersenyum kecil ketika menyadari bahwa ada pesan masuk di ponselnya. Rupanya sang pujaan hati telah memberikan balasan pada pesan yang dikirimnya barusan. From: My JungieYah, bubur abalonmu sudah siap. Cepatlah kemari, atau sarapanmu akan dingin Senyum Jongin semakin lebar ketika membaca pesan dari gadisnya itu. Gadisnya? Yah, Jongin memang berencana untuk membuat Soojung menjadi gadisnya kembali. Mungkin tidak pas jika disebut ‘gadis’, karena Jongin menginginkan gadis cantik itu menjadi wanitanya, ibu dari anak-anaknya. Jongin tersenyum senang ketika membayangkannya. Dia, Soojung, dan anak-anak mereka. Bukankah itu akan terlihat sangat menyenangkan?Sambil menyeringai jahil Jongin mengetik balasan untuk ‘calon’ ibu dari anak-anaknya itu. Ingat, baru calon. Jongin terlihat puas setelah mengetikkan sebuah pesan yang mungkin akan membuat Soojungnya sedikit merona. Uhh, suatu kesenangan tersendiri dapat menggoda gadis itu.Selanjutnya Jongin segera mengenakan kemeja hitamnya. Digulungnya lengan kemeja dikenakannya sampai siku untuk menambah kesan cool. Dia kemudian memperhatikan kembali penampilannya di cermin. ‘Oh, Kim Jongin, kau benar-benar tampan,’ batinnya.Setelah merasa puas dengan penampilannya, Jongin segera melesat untuk menuju ke apartemen Soojung yang berada tepat di sebelah apartemennya. Senyum manis tidak pernah terhapus dari wajah tampannya. Apalagi jika membayangkan wajah Soojung dengan senyumnya yang menawan. Ahh, jantung Jongin rasanya berdebar-debar bahkan hanya dengan membayangkannya saja..........Namun, mendadak langkah Jongin terhenti. Kedua sudut bibirnya yang terangkat sempurna turun secara perlahan. Jongin benar-benar berharap bahwa yang dilihatnya hanya sekedar ilusi..........“Aku merindukanmu, Soojungie.”Jongin yakin bahwa pendengarannya sama sekali tidak bermasalah. Dua sejoli yang tengah berpelukan itu memang Soojungnya dan…. Entahlah Jongin tidak tahu siapa. O0O “Aku merindukanmu,” sekali lagi Soojung mendengar pemuda yang memeluknya ini bergumam.“Me too,” jawab Soojung sambil berusaha mengendalikan getar suaranya.Kedua manik kelamnya lantas menangkap sosok yang tak asing. Sosok yang memang Soojung tunggu sejak tadi. Kim Jongin. Soojung merasa sesak ketika pemuda itu tampak memandangnya penuh tanya. Pemuda itu seakan menuntut penjelasan lebih dari Soojung.“Jongin,” tanpa sadar Soojung menggumam. Pemuda yang memeluknya tertegun lantas memberi jarak antara dirinya dan Soojung. Dia kemudian menoleh dan melihat sosok pemuda yang diperkirakan seusia dengan Soojung. Kelihatannya pemuda itu telah mengamati dirinya dan Soojung sejak tadi.“Oh, euum, maaf jika aku mengganggu kalian,” kata Jongin sambil berusaha tersenyum.Soojung hanya terdiam tanpa berniat memberi tanggapan sedikitpun. Gadis itu kemudian dapat menangkap raut penasaran dari tamu tidak diundangnya itu.“Tidak apa,” sahut gadis itu akhirnya. Dia kemudian menatap Jongin dan pemuda lain di hadapannya bergantian. Mungkin ini saatnya Jongin mengetahui kenyataannya. Dan dirinya menerima kenyataan.“Eum, oppa kenalkan dia Kim Jongin, tetanggaku,” kata Soojung tenang.“Dan Jong, kenalkan dia Kang Minhyuk…,” Soojung berusaha menghirup napasnya dalam-dalam untuk mengendalikan ekspresinya.“Tunanganku.”Jongin membeku, Soojung sadari itu. Jongin terkejut, Soojung juga menyadarinya. Dan Jongin menatapnya kecewa, Soojung benar-benar tidak ingin menyadari yang satu itu.“Ah, hai, Kang Minhyuk imnida,” sapa Minhyuk ramah sambil mengulurkan tangan kanannya.Jongin menatap pemuda yang tengah tersenyum padanya itu sedikit kosong. “Kim Jongin,” balas Jongin singkat sambil meraih tangan Minhyuk dan menjabatnya dengan sedikit keras.Sebelah alis Minhyuk terangkat. Kentara sekali bahwa pemuda yang baru saja dikenalkan Soojung padanya ini sedikit tidak menyukainya. Tapi karena apa?“Ahh, yah sebaiknya aku pergi sekarang,” kata Jongin berusaha memecah kecanggungan yang melingkupi mereka.“Kau tidak berniat mampir? Dari aroma yang kucium, kupikir tunanganku baru saja memasak bubur abalone. Jika kau mau, kau bisa ikut sarapan dengan kami,” tawar Minhyuk.Jongin menggeleng sambil berusaha tersenyum, “Tidak, terima kasih. Aku sudah janji pada ibuku untuk sarapan di rumah,” tolaknya sehalus mungkin.“Oh, sayang sekali. Padahal bubur abalone Soojung adalah yang paling enak,” sesal Minhyuk‘Aku tahu,’ batin Jongin.“Ya sudah, kurasa kalian sedang ingin menghabiskan waktu berdua. Aku pamit dulu,” pamit Jongin sambil melambaikan tangannya.Baru beberapa langkah, Jongin berhenti dan berbalik, “Eum, Krystal-ssi,” panggil Jongin. Soojung tertegun mendengar panggilan Jongin padanya. Krystal-ssi?“Mungkin aku bisa menunda meeting kita hari ini. Kupikir aku harus memberikan waktu bersantai untukmu dan tunanganmu sejenak,” kata Jongin sambil tersenyum.Soojung mengangguk. Dia kemudian menatap punggung Jongin yang terus menjauh. Punggungnya yang kokoh itu tampak rapuh di mata Soojung. Soojung menghela napasnya berat. Bagus Jung Soojung, kau baru saja berhasil mematahkan hati Kim Jongin. O0O “Mashitta,” gumam Minhyuk saat mencolek sedikit bubur abalone yang disiapkan Soojung dengan jarinya.Puk.Minhyuk meringis kecil saat Soojung menatapnya horror, “Jangan lakukan itu lagi, menjijikkan,” omel Soojung yang baru saja memukul pelan punggung tangannya.Minhyuk hanya tersenyum dan duduk dengan manis di pantry apartemen kekasihnya. Dipandanginya sosok Jung Soojung yang sedang menata bunga pemberiannya dalam sebuah vas kaca. Oh, Minhyuk sangat merindukan gadis ini. “Kenapa tak bilang di telepon kalau kau ada di Seoul?” tanya Minhyuk sambil tetap memandangi sosok Soojung dengan intens.“Mian, aku hanya tidak mau mengganggu pekerjaanmu, oppa,” sesal Soojung.“Jadi, bagaimana Jaeju?” tanya Soojung seantusias mungkin.“Indah, lebih indah dari terakhir kali aku ke sana,” jawab Minhyuk asal.“Memang kapan kau terakhir kali ke sana?” Minhyuk sedikit berpikir mengingat-ngingat.“Saat usiaku sepuluh tahun sepertinya. Karena setelah itu aku dan keluargaku kan pindah dan menetap di Amerika,” jawabnya sambil tersenyum. Terlihat kedua matanya membentuk lengkungan bulan sabit yang sangat manis.Soojung menganggukkan kepalanya mengerti. Minhyuk kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Apartemen yang bagus, benar-benar sesuai karakter Soojung, stylist dan modern. Perhatian Minhyuk kemudian terpatri pada bubur abalone yang memang sudah tersaji di meja.“Tumben kau membuat bubur? Biasanya hanya sarapan roti? Bukankah kau malas memasak jika makan sendirian?” tanya Minhyuk akhirnya. Soojung sempat menghentikan aktivitasnya menata bunga pemberian Minhyuk, namun kemudian dia berusaha mengendalikan dirinya kembali.“Aku hanya sedang ingin. Tidak boleh?” jawab Soojung sekenanya. Dia lalu menatap tunangannya itu dengan raut datar.“Boleh sih,” komentar Minhyuk asal.“Ahh, mungkin kau memang punya feeling jika aku akan berkunjung, benar?” tebak Minhyuk sambil menyeringai jahil.Soojung hanya mengangkat bahunya pelan, “Mungkin.” ‘Mungkin tidak,’ lanjutnya dalam hati.Soojung kemudian duduk di sebelah Minhyuk sambil tersenyum manis pada pemuda itu, “Makanlah oppa, nanti keburu dingin,” katanya sambil menyodorkan semangkuk bubur abalone yang tadinya sengaja disiapkan untuk Kim Jongin.Kim Jongin? Soojung menghela napasnya begitu teringat bagaimana ekspresi pemuda itu tadi. Jongin, kelihatannya dia benar-benar kecewa karena mengetahui kenyataan tentang status Soojung saat ini. Oh, Jung Soojung apa yang baru saja kau lakukan?“Soojung?” panggilan Minhyuk menyadarkan Soojung untuk kembali ke dunia nyata.“Hum?”Minhyuk mendesah kecewa. Kelihatannya gadis ini sama sekali tidak mendengarkan ocehannya sejak tadi. Pemuda itu lantas meletakkan sendoknya agak keras. Yah, dia sedikit kesal.“Hei, kenapa tidak dihabiskan?” tanya Soojung.“Tidak mau, aku sedang tidak mood makan,” jawab Minhyuk sambil menopang dagunya. Soojung menggelengkan kepalanya, ternyata pemuda ini tengah merajuk.“Ya sudah, kubuang saja” ujar Soojung pelan.“Andwae,” cegah Minhyuk sambil menahan tangan Soojung yang berniat menyingkirkan mangkuknya. Soojung tersenyum kecil melihat tingkah Minhyuk yang sedikit kekanakan.“A-aku akan menghabiskannya,” ucap Minhyuk pelan sambil kembali menyuap sesendok bubur ke mulutnya.“Ahh, yah, Jungie. Kenapa tadi tetanggamu menyebut soal meeting?” tanya Minhyuk penasaran. Sebenarnya dia sudah penasaran sejak tadi, hanya saja lupa menanyakannya pada Soojung.“Oh, itu. Dia rekan bisnis Jessica eonnie. Dia juga yang berurusan denganku selama proyek Blanc & Eclare,” jawab Soojung sambil mengendalikan kegugupannya.“Oh,” hanya itu tanggapan Minhyuk.Sebenarnya dia ingin bertanya lebih jauh tentang tetangga Soojung yang satu itu. Namun, segera diurungkannya. Kelihatannya Soojung kurang nyaman dengan obrolan soal Kim Jongin. Entah kenapa Minhyuk merasa kurang nyaman saat melihatnya. Terlebih menyadari bahwa selama ini kekasihnya dekat dengan pria semenarik Kim Jongin. Minhyuk yakin pemuda seperti Jongin mampu menaklukan hati gadis manapun. Dan Minhyuk sama sekali tidak mau hal itu terjadi pada Soojung juga. Jung Soojung hanya miliknya, titik. O0O Jongin menutup laptopnya dengan kasar. Pemuda itu lantas mengusap wajahnya frustasi. Pikirannya sama sekali tidak dapat fokus pada pekerjaannya. Pikiran Jongin hanya diisi oleh satu nama Jung Soojung. Jongin sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan kenyataan pahit bahwa gadis yang dia cintai ternyata sudah ada pemiliknya. Dan memikirkannya membuat Jongin cukup uring-uringan hari ini.Soojung, yah Jung Soojung. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis itu? Sebenarnya apa yang coba gadis itu lakukan? Apa dia dengan sengaja datang untung mempengaruhi Jongin kembali, membuat pemuda itu menjadi kesulitan untuk melupakannya? Apakah gadis itu mencoba membalas perlakuan Jongin dulu?Jahat, memang jahat sekali jika Jongin menuduh gadis itu yang bukan-bukan. Tapi kenyataannya itulah yang dia pikirkan. Soojung sama sekali tidak pernah menceritakan soal tunangan maupun kekasih. Dia bahkan sedikit memberi celah pada Jongin untuk kembali berharap. Kenapa Soojung tega melakukan itu?Tapi Jongin tertohok karena menyadari satu kenyataan. Selama ini dialah yang berjuang sendirian. Dirinyalah yang mendekati Soojung terlebih dulu. Memberi perhatian pada gadis itu terlebih dulu. Dan menyatakan cinta pada gadis itu terlebih dulu. Tepatnya berkali-kali. Sudah seberapa sering Jongin mengumbar rasa kagum, sayang, dan cintanya untuk gadis pujaannya itu? Sangat sering. Setiap kali dan setiap detik. Tapi, pernahkah Soojung membalas pernyataan cintanya selama ini? Tidak, tidak pernah. Gadis itu hanya diam tidak menanggapi penyataan cinta Jongin. Gadis itu hanya memberi perhatian kepadanya seperti dulu ketika mereka bersahabat. Lalu siapa yang salah?Yah, Kim Jongin merasa dirinya benar-benar bodoh. Dialah yang bodoh karena tidak menyadari bahwa sebenarnya Soojung selalu menjaga jarak dengannya. Gadis itu dengan tegas seringkali mengabaikan perhatiannya. Iya, pantas saja selama ini Soojung selalu menghindar jika ditanyai soal perasaannya. Bahkan Jinri sendiri pernah mengungkapkannya pada Jongin. Bahwa sebenarnya Soojung terlihat aneh karena selalu menghindari pembicaraan soal hubungan, perasaan, yah semacam itulah.