Chapter 44 (1/1)

Soojung merasa seluruh tulangnya remuk seketika. Membawa Jongin hingga ke depan apartemennya bukanlah hal yang mudah. Untung saja security di sana mau membantu menyeret Jongin tadi. Setelah berterima kasih, security yang membantu Soojung pun segera pergi, dan tinggalah Soojung sendiri.Soojung mengamati tombol pengaman di depan pintu apartemen Jongin. Sial, Soojung tidak tahu sama sekali password Jongin. Soojung berpikir sejenak. Mungkin tanggal lahir pemuda itu? Soojung mencobanya. Salah. Tanggal lahir Taemin? Salah. Tanggal lahir nyonya Kim? Salah. Tanggal lahir tuan Kim? Salah. Tanggal pernikahanorang tua Jongin? Salah.Hmm, Jongin biasanya tidak menyukai sandi yang rumit. Mungkin 1111? Salah. 0000? Salah. Oh, Soojung mulai putus asa. Haruskah dia memasukkan Jongin ke apartemennya? Oh iya, ada kata sandi yang belum Soojung coba. Tapi mungkinkah? Dengan ragu Soojung mencoba menekan sekali lagi tombol pengaman apartemen Jongin Trililit. Binggo. Tebakan Soojung tepat sekali. Ternyata pemuda itu menggunakan tanggal lahirnya sebagai kode sandi. Sebenarnya Soojung bertanya-tanya soal ini, tapi dia akhirnya tidak mau ambil pusing. Ada baiknya jika Soojung segera membawa masuk Kim Jongin sekarang juga.Dengan susah payah, akhirnya Soojung berhasil menyeret Jongin dan merebahkan pemuda itu di ranjangnya. Soojung mendesah puas. Baiklah, pekerjaannya sudah selesai.Grep. Soojung yang awalnya mau beranjak pulang menghentikan langkahnya begitu merasakan tangan Jongin meraih pergelangan tangannya.Buk.Kedua mata Soojung melebar karena posisinya kini cukup menghawatirkan. Yah, Jongin baru saja menariknya hingga Soojung jatuh menindih pemuda itu. Dan apa-apaan ini? Jongin menyeringai penuh arti? Oh, menakutkan.“Jangan pergi,” pinta Jongin pelan, namun mampu membuat seluruh tubuh Soojung merasa kaku.Buk.Oh, baru saja Jongin membanting tubuh Soojung. Dan asal tahu saja, kini Jongin yang menindih tubuh Soojung. Sial, Soojung sama sekali tidak bisa bergerak. “Aku merindukanmu, Soojung,”“Sangat merindukanmu,” nah, bisa Soojung ketahui bahwa pemuda ini benar-benar mabuk, hingga kehilangan kesadaran.“Aku merindukanmu,” gumamnya sekali lagi.Kedua mata Jongin menyiratkan kerinduan yang mendalam. Sungguh, sebenarnya Soojung merindukan kedua mata kelam itu. Hanya saja, Soojung tidak ingin terjebak ke dalamnya lagi. Hembusan napas Jongin membuat wajah Soojung memanas. Darahnya berdesir. Dan saialnya jantungnya berdetak tidak karuan. Dan aroma tubuh Jongin begitu membuat Soojung mulas, yah meski aroma itu bercampur dengan bau alkohol.“I miss you, Jungie,”.Cup..Soojung memebelalak begitu bibir Jongin menempel di bibirnya. .Soojung berusaha melepaskan tautan Jongin, tetapi pemuda itu malah semakin menekan bibirnya dan menghimpit tubuh Soojung. Perlahan pemuda itu melumat lembut bibir manis Soojung. Sial, Soojung harus segera menghentikan kegiatan Jongin sebelum dirinya ikut terlena. Karena sungguh, perlakuan Jongin mampu meningkatkan hormonnya saat ini....Soojung menutup matanya rapat-rapat. Tangannya yang tadinya mencengkeram lengan kekar Jongin akhirnya malah berpindah tempat. Melingkar ke leher pemuda itu. .Pertahanan Soojung runtuh. Akhirnya dia malah terbuai dan mengikuti permainan Jongin. Memberikan respon dengan semua lumatan Jongin. Menayalurkan seluruh gairahnya saat ini. ...Ketika Soojung mulai terengah-engah dan kehabisan pasokan oksigennya, Jongin memberi jarak di antara mereka. Melepaskan tautannya, meski masih mengunci tubuh Soojung. Pemuda itu lantas tersenyum seduktif ke arah Soojung. .....Buk. Oh, tubuh Jongin baru saja menindih tubuh Soojung, dalam arti sebenarnya. Pemuda itu kelihatannya telah benar-benar kehilangan kesadaran hingga jatuh di atas tubuh Soojung. Sial, Soojung harus bisa menyingkir sesegera mungkin. Tubuh Jongin berat sekali...O0O Sehun mengamati sekelilingnya dengan malas. Sudah dua jam ini dia menjalani sesi foto dengan salah satu majalah fashion. Tentu saja ini merupakan rutinitas yang biasa Sehun jalani. Hanya saja dia sudah mulai bosan, mulai lelah. Berkali-kali pemuda berkulit putih itu melirik jam tangannya. Sepertinya dia menantikan jam cepat berlalu.“Hyung, bolehkah aku pulang sekarang?” tanya Sehun tidak sabar. Sang manajer menatapnya sejenak.“Yah, kurasa ini sudah selesai, tapi… Ya, Oh Sehun, mau ke mana kau?” sang manajer mulai panik karena model bimbingannya ini baru saja melarikan diri.“Ya, kau belum boleh pulang,” serunya lagi. Tetapi Sehun sama sekali tidak bergeming. Kelihatannya dia sedang terburu-buru.......“Soojung,” panggil Sehun begitu tiba di ruang desain X.O Group.Pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan ekspresi kebingungan yang ditunjukkan Jung Soojung. Terlebih dengan pandangan penasaran dari para staf di sana. Baginya hanya Soojung yang tertangkap oleh retinanya.“Se-Sehun? Kenapa kau bisa di sini?” tanya Soojung pelan. Diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Bagus sekali, dia menjadi pusat perhatian sekarang.“Untuk mengajakmu makan siang,” jawab pemuda itu sambil tersenyum manis. Bisa Soojung rasakan bahwa banyak karyawati yang mengagumi senyum yang baru saja Sehun tunjukkan.“Ini sudah jam istirahat, bukan? Berarti kau bisa keluar makan siang denganku,” kata Sehun sekali lagi dengan senyumnya yang menawan.“Ehm, tapi pekerjaanku masih banyak,” Soojung berusaha menolak ajakan Sehun. Yah, Soojung hanya mencoba untuk menghindari skandal.Sehun mendesah kecewa, “Apa orang hitam itu mempekerjakanmu secara paksa? Tanpa istirahat?” tanyanya kesal.“Bu-bukan begitu….,”“Ah, nona…,” Sehun segera memotong pembicaraan Soojung dengan mendakti seorang karyawati. Matanya memicing untuk memperjelas penglihatannya pada sebuah name tag yang digunakan karyawati tersebut.“Hmm, nona Park? Bisakah kau menggantikan tugas nona ini? Kulihat dia butuh sedikit refreshing saat ini,” pinta Sehun tanpa menghapus senyum sama sekali.“Eoh, tentu,” kata karyawati itu seakan terhipnotis dengan senyum Sehun.“Wah, terima kasih,” kata Sehun puas. Soojung menggelengkan kepalanya pelan. Sahabatnya yang satu ini benar-benar, memanfaatkan pesonanya untuk hal yang dia inginkan.Sehun kemudian mendekati Soojung kembali dan menggenggam tangan gadis itu lembut, “Ayo, kita pergi sekarang,” ajaknya.“Apa yang kau lakukan di sini?” O0O Jongin merenggangkan seluruh ototnya setelah menyelesaikan semua berkas yang harus dia tanda tangani. Semenjak Taemin pergi untuk bulan madu, pekerjaannya bertambah dua kali lipat. Meski sebenarnya pekerjaannya sudah bertambah sejak persiapan pernikahan kakaknya itu. Yah, Taemin memang melarikan diri dengan alasan ingin mempersiapkan pernikahan sebaik mungkin.“Kurasa sudah saatnya kau untuk istirahat,” suara Seulgi tiba-tiba datang.“Hei, kau tidak mengetuk pintu, di mana sopan-santunmu, nona Kang?” omel Jongin segera.“Ini sudah istirahat, jadi sekarang aku temanmu,” tukas Seulgi segera. Jongin hanya bisa mendesah pasrah. Sudahlah, dia sedang tidak ingin berdebat dengan gadis ini.“Eum, apakah staf desain juga sudah istirahat untuk makan siang?” tanya Jongin ragu-ragu. Kening Seulgi mengernyit seketika. dia sama sekali tidak memahami ke mana arah pembicaraan bosnya ini.“Ah, sudahlah. Tidak perlu dijawab. Biar aku cari tahu sendiri,” kata Jongin tidak sabar. Segera saja dirinya keluar dari ruang kerjanya.......Senyum Jongin yang semula lebar, perlahan menghilang. Yah, dia baru saja menemukan sosok Oh Sehun di ruang staff desainnya. Dan lihatlah sekarang, dia bahkan berani menggenggam tangan Soojungnya? O-oh, Jongin tidak bisa membiarkannya.......“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jongin membuat dua orang yang menjadi objek pandangannya menoleh ke arahnya.Sontak Soojung, yang terkejut atas kedatangan Jongin, mendadak melepaskan tangannya dari genggaman Sehun. Sehun terlihat kecewa, dan Jongin terlihat senang. Baiklah, setidaknya Jongin merasa lebih unggul saat ini.“Jadi, kenapa kau ada di sini?”