Chapter 36 (1/1)
“Aku sudah menunggumu sejak tadi Jongin-ah,” sapa Suzy ceria ketika menyambut Jongin yang berkunjung ke rumahnya. Jongin hanya tersenyum menanggapi sapaan Suzy.Dengan patuh Jongin mengikuti Suzy untuk memasuki rumah gadis itu. Rumah Suzy benar-benar besar dan mewah. Jongin tidak bisa berhenti berdecak mengagumi setiap sudut rumah ini. Bahkan rumahnya dan juga sahabat-sahabatnya tidak semewah ini. Jongin menghela napasnya kasar. Lagi-lagi ia mengingat sahabat-sahabatnya. Soojung, Sehun, dan Jinri, mereka adalah bagian terbesar dalam kehidupan Jongin. Jongin tidak pernah menyangka akan kehilangan mereka satu per satu.Omong-omong soal Soojung, Jongin benar-benar tidak pernah melihat batang hidungnya lagi sejak insiden bersama Kim Myungsoo. Sejujurnya Jongin cukup penasaran mengapa gadis itu bisa bersama Myungsoo. Jika mengingatnya, Jongin akan kembali merasa sakit. Ia sadar tak sepantasnya dirinya berbicara sekasar itu pada Soojung. Tapi mau bagaimana lagi, amarahnya belum reda karena melihat Sehun dan Soojung berciuman, dan dia malah disuguhi pemandangan yang menunjukkan kedekatan antara Myungsoo dan Soojung.“Nah, inilah kamarku, Jongin,” lamunan Jongin buyar ketika mendengar suara Suzy memasuki indera pendengarannya.Jongin tersenyum memandangi kamar yang tertata rapi itu. Tak jauh berbeda dengan kamar Soojung. Nah kan, sekali lagi Jongin mengingat Soojung. Jongin benar-benar mengutuk dirinya karena sama sekali tidak bisa menghapus bayangan gadis itu.“Jadi, kenapa kita sampai harus rapat di rumahmu, Suzy-ah?” tanya Jongin akhirnya.Suzy sedikit kecewa dengan pertanyaan Jongin, “Apa sebenarnya kau tidak mau berkunjung ke mari?”“Hmm, bukan begitu. Hanya saja …”Suzy segera memotong perkataan Jongin dengan tawa renyahnya, “Jangan serius begitu, Jong. Aku hanya ingin kita lebih santai. Dan lagi kau bisa mengenalku lebih dekat jika sering bertandang ke mari,” katanya.“Aku ambilkan minum dulu ya?” pamit Suzy kemudian meninggalkan Jongin di kamarnya sendirian.Jongin mengamati setiap sudut kamar Suzy. Dia lantas mendekati rak buku milik gadis itu. Banyak buku tersusun rapi di sana. Kelihatannya Suzy cukup gemar membaca. Jongin tersenyum memandang sebuah buku yang cukupdikenalnya. ‘ABC Murders’ sebuah buku karangan Agatha Christie. Jongin pernah membaca buku itu karena dipaksa Soojung membacanya. Kebetulan saat itu keduanya ada tugas meresume buku secara berkelompok, dan Soojung segera memilih buku misteri itu. Jongin sempat pusing ketika membaca buku itu, saat itu mereka masih di kelas 5 SD, dan Soojung sudah menyuruhnya membaca buku yang berat? Jongin kembali menghela napasnya. Sekali lagi ia mengingat Jung Soojung.Jongin lantas mendekati meja belajar Suzy. Beberapa benda diletakkan di sana. Tapi hanya satu yang menarik perhatian Jongin, sepucuk surat dengan tulisan-To: Kim Jongin. Jongin mengerutkan dahinya heran. Ia merasa mengenali tulisan itu. Itu seperti tulisan….Tanpa pikir panjang Jongin segera membuka amplop surat itu dan membaca isinya. Tanpa sadar Jongin meremas kertas yang dipegangnya itu. Tangannya bergetar, dan jantungnya berpacu tak karuan.“Jongin, maaf membuatmu menung…,” Suzy membeku begitu melihat sorot mata tajam dan kecewa milik Kim Jongin. Yang lebih membuatnya terkejut adalah kertas yang digenggam pemuda itu. Itu adalah surat yang dicurinya kemarin dari loker Jongin. Sial, Suzy sudah bertindak ceroboh. Seharusnya ia membuang surat itu dari kemarin saja.“Apa-apaan ini Bae Suzy?” tanya Jongin dingin dan serius.“Kenapa surat ini ada padamu?” seru Jongin yang sudah tak kuasa menahan emosinya.“I-itu..,” lidah Suzy benar-benar kelu. Ia benar-benar bingung dengan apa yang harus dikatakannya pada Jongin.Jongin mendengus kesal lantas segera pergi dari sana. Ia bahkan mengabaikan suara Suzy yang terus memanggilnya. Hanya satu yang ada dipikirannya saat ini, semoga ia masih sempat menahan Jung Soojung untuk tetap tinggal. O0O Tok…Tok…Nyoya Oh perlahan membuka pintu kamar putra bungsunya. Sehun yang sedang berbaring sambil mendengarkan musik tersenyum tipis melihat sang ibu.“Ada apa eomma?” tanya Sehun sambil melepas headsetnya.“Hmm,” nyonya Oh bergumsm tidak jelas. Ia benar-benar bingung bagai mana harus mulai mengatakannya pada putranya itu.Sehun mengernyit ketika disodori sepucuk surat oleh ibunya, “Apa ini?”“Dari Soojung,” jawab nyonya Oh singkat.Nyonya Oh kemudian menepuk pundak Sehun pelan, “Eomma tinggal dulu.”Sehun hanya mengangguk menanggapi ibunya. Ia lantas segera membuka amplop surat Soojung dan membaca isinya. Tangan Sehun bergetar hebat setiap membaca kata demi kata yang dituliskan gadis itu. Kepala Sehun berdenyut pelan, dan tubuhnya lemas seketika. Ini tidak mungkin kan? Soojung tidak pergi, Soojung tidak akan meninggalkannya.Sehun segera bergegas untuk pergi. Semoga saja Soojung belum berangkat. Namun, Sehun berhenti melangkah ketika mendapati sesosok gadis hadir di depan rumahnya, dihadapannya. Sehun dapat melihat kemarahan dari mata gadis itu.Plak. O0O “Jinri?” sekali lagi Chanyeol memanggil nama gadis itu.“Di-dia benar-benar pergi? Soojung benar-benar pergi?”Chanyeol mendesah pelan. Sudah sejak tadi Jinri bergumam tak jelas seperti itu. Ia sebenarnya tak tega memberitahukan ini pada Jinri sekarang. Tapi, Jiyeon, adiknya telah memaksa Chanyeol untuk memberitahukan perihal kepergian Soojung pada Jinri hari ini. Tak lupa ia juga memberikan surat yang beberapa waktu sebelumnya Soojung titipkan padanya.“Ba-bagaimana ini, Oppa? Aku belum meminta maaf padanya. Aku jahat. Jahat sekali,” kata Jinri menahan isakannya.Chanyeol dengan segera merengkuh Jinri dalam pelukannya, “Sssshhh, jangan berkata demikian. Soojung tidak pernah marah padamu. Kau tidak perlu meminta maaf padanya.”“Ta-tapi, karena aku dia…,”“Jinri,” Chanyeol mengelus pelan punggung Jinri, berusaha menenangkannya.“Ini karena namja itu,”“Ini karena Oh Sehun,” Chanyeol mengernyit ketika Jinri menyebut satu nama yang sangat familiar di telinganya.Jinri kemudian segera melepaskan diri dari pelukan Chanyeol. Tanpa mengatakan apapun ia segera berlari menuju rumah keluarga Oh yang tepat berada di depan rumahnya....Jinri cukup terkejut karena bahkan sebelum ia mengetuk pintu dan memanggil Sehun, pemuda itu sudah ada di hadapannya. Raut wajah pemuda itu sungguh cemas.Plak.Dengan segenap emosinya Jinri menampar pipi Sehun. Sehun memegang pipi yang ditampar Jinri tadi sambil menatap gadis itu tajam. Sepertinya ia tidak terima telah ditampar oleh Choi Jinri.“Kau sudah puas, huh?” seru Jinri marah.“Kau sudah puas sekarang, Oh Se