Chapter 37 (1/1)
Jinri segera merapikan beberapa alat tulis serta agendanya selepas seminar selesai. Ia kemudian mencari sosok yang sedari tadi menarik perhatiannya, sang pembicara yang menurut Jinri sangat keren tadi.“Dokter Kang?” sapa Jinri pada seorang pria bertubuh jangkung yang sedang mengobrol dengan salah satu peserta seminar. Orang yang baru saja disapa Jinri, juga bersama rekan obrolannya tadi segera menengok dan mengerutkan dahinya. Jinri segera memasang kuda-kuda dengan memasang senyum terbaiknya pada dua orang di hadapannya itu. Baiklah, sedikit sok kenal juga bukan hal yang buruk, setidaknya itu yang ada di benak Choi Jinri.“Baiklah, kita bisa melanjutkannya lagi lain kali, dokter,” kata lawan bicara dokter Kang seraya pamit menjauh.“Hmm, kau?”“Choi Jinri,” sahut Jinri cepat sambil mengulurkan tangannya.Dokter muda tadi segera meraih uluran tangan Jinri sambil tersenyum manis, “Kang Minhyuk.”“Yah, saya sudah mengenal anda, dokter. Karena saya juga merupakan peserta seminar ini,” kata Jinri berbasa-basi.“Hmm, bisa kulihat itu dari co-cardmu nona Choi,” kata Minhyuk sambil menunjukan deretan gigi putihnya.“Hmm, yah sebaiknya jangan terlalu formal padaku,” kata Minhyuk lagi sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.“Ahh, berarti boleh kupanggil sunbae?” tanya Jinri sambil mengangkat sebelah alisnya.“Hmm, boleh juga, bisa diatur,” kelakar Minhyuk barusan membuat Jinri tertawa kecil.Jinri berdeham sejenak untuk mengatur napasnya sedikit, “Tadi aku sangat terkesan denganmu selama seminar berlangsung, sunbae.”“Kau benar-benar menginspirasiku,” lanjut Jinri membuat Minhyuk tersenyum senang.“Kau terlalu memuji, Jinri-ah,” kata Minhyuk malu-malu.“Benar. Kau dokter muda berbakat, lulusan luar negeri, dan juga dokter praktek di salah satu rumah sakit terkemuka di Amerika sana. Kau sungguh membuatku iri,” jelas Jinri panjang lebar.“Yah, kuanggap itu sebuah keberuntungan nona Choi,” kata Minhyuk merendah kembali.“Keberuntungan yang menyenangkan. Oh, aku mau satu kalau begitu,” Jinri menghela napas pelan dan memasang raut berharap.“Oh, iya. Kudengar kau memutuskan untuk pindah ke Korea, benar begitu?” tanya Jinri begitu antusias.Minhyuk mengangguk pelan, “Yah, jika tunanganku menyetujuinya,” kata Minhyuk ragu.“Tunangan?”“Ya, dokter Choi,” Jinri dan Minhyuk menoleh seketika begitu mendengar seseorang memanggil Jinri.“Bukankah seminarnya sudah selesai? Kenapa tak kunjung menemuiku?” tanya orang tadi sambil menatap Minhyuk tajam.“Haissh, kau ini bukankah sudah kusuruh menunggu di luar saja,” gerutu Jinri kesal. Minhyuk menatap dua orang di hadapannya bergantian, bingung.“Kalau begitu ayo, pulang,” tanpa persetujuan dari Jinri orang itu menarik paksa lengan Jinri untuk menjauh dari Minhyuk.“Ya, ya, ya,” protes Jinri sambil berusaha melepaskan diri.“Sampai ketemu lagi, sunbae,” seru Jinri sambil melambai.“Dalam mimpimu, dokter Choi,” sahut orang yang membawa Jinri cepat.Minhyuk yang masih belum mengerti situasi yang terjadi hanya melambaikan tangannya, yah sekedar membalas lambaian tangan Jinri. melihat tingkah kedua manusia tadi membuat Minhyuk merindukan seseorang. Dengan cekatan Minhyuk segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang di sana. Persetan dengan biaya panggilan luar negeri yang mahal, yang penting Minhyuk dapat mendengar suara gadisnya.“Hallo, Honey?”......Jinri masih merengut kesal walaupun sudah berada di dalam mobil. Ia sama sekali tidak suka kalau obrolannya diganggu seperti tadi.“Berhentilah merengut,”“Kau yang membuatku merengut, tuan Park,”“Baiklah aku minta maaf,”“Permohonan maaf diterima,”Suasana kemudian berubah hening. Tidak ada satupun yang berniat memulai pembicaraan.“Jadi, tadi itu siapa?”“Salah satu dokter yang menjadi pembicara dalam seminar yang kuikuti,” jawab Jinri malas.“Kenapa kau dekat sekali dengannya?”“Berhenti cemburu secara berlebihan, Park Chanyeol,” ungkap Jinri sambil menatap Chanyeol tajam.“Aku tidak cemburu,” bantah Chanyeol segera.“Cemburu,”“Tidak,”“Cemburu,” ckiiit. Suara gesekan antara aspal dan ban mobil Chanyeol terdengar karena pemuda itu mengerem tiba-tiba.“Baiklah, aku cemburu puas,” seru Chanyeol frustasi. Ia kemudian segera memalingkan wajahnya, malu.“Ohhh, nomu kyeopta,” gemas Jinri sambil mencubit pipi Chanyeol. Tapi pemuda itu segera menepis cubitan Jinri.Cup.Chanyeol segera menoleh sambil memegang pipinya. Oke, pipinya baru saja dicium Choi Jinri. Sekali lagi dicium Choi Jinri!!!!Jinri tersenyum melihat ekspresi terkejut Chanyeol, “Sudah tidak marah lagi, kan?” tanyanya.