Chapter 34 (1/1)
Soojung bisa merasakannya. Soojung sudah mengenal Jongin sejak kecil. Jongin bukanlah orang yang mudah marah. Dan sekalinya ia tersulut emosi, mungkin hal buruk akan terjadi. Jongin tengah menatap Soojung dan Sehun dengan kedua lensanya yang menggelap. Jujur saja, Soojung cukup ketakutan melihat aura kelam hadir di sekeliling Jongin.“Jong…,” Soojung menghentikan panggilannya begitu Jongin melewati Soojung.Bugh. Lensa Soojung melebar ketika Jongin melayangkan tinjunya ke muka Sehun. Sehun yang sama sekali tidak memasang kuda-kuda akhirnya tersungkur.“Jongin,” seru Soojung histeris. Namun, panggilan Soojung seakan tidak terdengar lagi di telinga Jongin. Pandangan Jongin benar-benar gelap. Ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Yang terlintas di benak Jongin hanya satu, menghabisi Oh Sehun.“Jongin berhenti,” Soojung tiba-tiba hadir di hadapan Jongin, menghalanginya. Soojung memandang Jongin penuh harap. Ia benar-benar memohon agar Jongin menghentikan aksinya.“Minggir Soojung,” kata Jongin dingin dan serius. Soojung menggeleng tegas. Ia tak mau siapapun di sini saling menyakiti, baik Jongin maupun Sehun.“Kubilang minggir, Jung Soojung,” bentak Jongin.“Tidak,” tegas Soojung.“Jika kau ingin memukul Sehun lagi, maka langkahi dulu diriku,” tambah Soojung. Jongin menatap Soojung tajam.“Kau membelanya, huh?” sungut Jongin masih dengan nada dinginnya.Soojung menggeleng cepat, “Aku tidak membela siapapun Jongin. Aku hanya tidak suka jika kau menyelesaikan semua ini dengan kekerasan.”Soojung memberi jeda sejenak untuk mengambil napas, “Dan lagi ini bukan sepenuhnya salah Sehun. Ini salahku juga.”“Oh, bagus. Kau sekarang mau mengakui kesalahan yang diperbuat cinta pertamamu ini,” sindir Jongin.“A-apa maksudmu Jongin?”“Jangan kau pikir aku tidak tahu apapun, Soojung. Aku tahu dengan jelas siapa namja yang kau cintai sejak dulu,” Soojung merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.“Dia bukan orangnya? Oh Sehun?”“Atau mungkin kau masih mencintainya hingga saat ini,” tuduh Jongin dengan pandangan tajamnya.Soojung menggeleng lagi, “Tidak Jong. Itu tidak benar,” bantah Soojung“Apanya yang tidak benar Jung Soojung?” teriak Jongin frustasi. Soojung melonjak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka respon Jongin semengerikan ini.“A-aku memang pernah menyukai Sehun, Jong,” aku Soojung gugup.“Ta-tapi, sekarang sudah lain. Dia sudah tidak lagi mengisi hatiku, Jongin.”“Sungguh, hanya kau yang kucintai,” jelas Soojung sambil menahan isakannya. Jongin mengalihkan pandangannya segera. Ia sama sekali tidak mau terintimidasi oleh air mata Jung Soojung.“Tapi tindakanmu berlawanan, Soojung. Kau sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau telah melupakannya,” tuduh Jongin lagi.“Jongin percayalah padaku. Bukankah kau mengatakan bahwa akan mempercayaiku?” pinta Soojung sambil mengatupkan tangannya di depan dada.“Aku ingin sekali Soojung,” kata Jongin dengan volume yang lebih rendah.“Aku ingin sekali mempercayaimu. Tapi aku tidak bisa,” Soojung membeku mendengar pengakuan Jongin. Jongin benar-benar tidak percaya padanya?“Sejak awal hubungan kita sudah salah, Soojung. Penuh kebohongan. Dan sialnya itu dimulai dariku. Dan kurasa memang tidak seharusnya kita bersatu,” kata Jongin sambil tersenyum miris.“Tidak, Jong. Tidak. Andwae, jangan tinggalkan aku,” gumam Soojung sambil terisak.Jongin mengusap pipinya kasar. Entah sejak kapan air mata mengalir membasahi pipinya. Sial, ia tidak boleh ikut menangis sekarang.“Mianhae, Soo,”“Andwaee. Jongin,” Soojung berusaha meraih lengan Jongin, namun segera ditepis oleh pemuda itu.“Jongin,” panggil Soojung yang jatuh terduduk.“Jongin, hiiks,” isakan Soojung semakin jelas terdengar begitu punggung Jongin sudah tidak terlihat.“Soojung,” panggil Sehun sambil memegang bahu Soojung yang bergetar hebat. Sehun tidak membayangkan akan sesakit ini rasanya. Ini pertama kalinya Soojung menangis karena dirinya, karena ulah seorang Oh Sehun. O0O Jongin berkali-kali mengusap air mata yang membasahi pipinya. Sial, kenapa air matanya tak berhenti mengalir? Sesakit itukah berpisah dari Soojung? Jongin menghirup napasnya dalam-dalam. Ia harus kuat, ini semua adalah keputusannya.“Jongin,” pemuda berkulit kecokelatan itu segera menghentikan langkahnya. Choi Jinri, kini tengah menatapnya penuh simpati. Tetapi Jongin tidak bergeming. Ia segera melanjutkan langkahnya mengabaikan Choi Jinri.“Jongin,” sekali lagi Jinri memanggilnya. Jongin berhenti sejenak, kemudian kembali berjalan. Ia benar-benar tidak ingin bicara dengan siapapun sekarang.Jinri menghela napasnya berat. Sudah ia duga sebelumnya, bahwa ini akan segera terjadi. Tapi, Jinri tidak menduga akan secepat ini. Ia sedikit menyesal karena sempat tidak peduli dengan apa yang mungkin Oh Sehun lakukan. Sekarang Jinri merasa semuanya terlambat. Kini, hati semua orang telah benar-benar hancur. O0O Soojung seakan kehilangan semangat hidupnya. Sudah seminggu ini ia tampak murung. Bahkan kadang ia menyendiri di kamar, di sudut perpustakaan, di atap sekolah, di mana pun, asal tak ada orang yang melihatnya. Yang dilakukannya sama saja, hanya melamun bahkan mungkin terisak pelan. Matanya terlihat sayu, dan dihiasi oleh dua kantung mata yang begitu mengerikan. Jika ada satu kata yang dapat menggambarkan diri Soojung saat ini adalah ‘memprihatinkan’.Ceesss.Soojung merasakan dingin menjalari pipinya ketika ia tengah melamun di atap sekolah sambil memandangi langit. Soojung sedikit menoleh dan mendapati seorang gadis tengah tersenyum manis kepadanya sambil mengangkat dua botol minuman kaleng dingin.“Jiyeon?” gadis itu kembali tersenyum mendengar gumaman Soojung.“Boleh aku duduk di sini?” tanya Jiyeon sambil menunjuk ruang kosong di samping Soojung. Soojung tidak menjawab, ia hanya mengangguk mempersilahkan.Keheningan lantas menyelimuti keduanya. Baik Soojung dan Jiyeon mereka hanya diam sambil memandang langit biru yang cerah. Jiyeon menegak minumannya sedikit. Kerongkongannya sudah cukup kering walaupun ia sama sekali tidak berujar dari tadi. Pandangan Jiyeon kemudian ia alihkan pada Soojung. Gadis itu tampak sedang melamun sambil memainkan minuman kalengnya.Grep.Soojung sedikit tersentak ketika Jiyeon meraih minumannya dan membukanya, “Ini,” kata Jiyeon sambil mengulurkan minuman kaleng milik Soojung.“Terima kasih,” gumam Soojung pelan. Jiyeon hanya tersenyum kecil. Soojung lantas meneguk minumannya untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang mulai terasa kering.