Chapter 33 (1/1)

Flash BackJongin segera berlari menyusul Sehun untuk mencari keberadaan Soojung. Ia cukup menyesal telah mengatakan hal seperti tadi. Ia sudah cukup puas dimarahi oleh Jinri, dan sekarang ia sendiri merasa bersalah. Sejujurnya Jongin sama sekali tidak berniat berbicara seperti tadi. Ia hanya sekedar mengelak dari ejekan teman-temannya. Jongin tidak suka diejek terutama untuk masalah cinta-cintaan. Mereka masih berusia 9 tahun, dan dia sama sekali belum memikirkan masalah seperti itu. Terlebih untuk membayangkan bahwa dirinya menikah. Uhh, sangat sulit dibayangkan. Tetapi, menikah dengan Soojung sebenarnya bukan hal yang merugikan. Gadis itu termasuk salah satu gadis tercantik yang Jongin pernah temui. Dengan rambut hitam lurus berponi, mata yang indah, bulu mata lentik, pipi chubby dan kemerahan, serta bibir merah mudanya yang tipis. Membayangkannya membuat Jongin tersenyum sendiri. Jongin bahkan mengabaikan kenyataan bahwa Soojung adalah gadis galak dan suka mengomel. Sejujurnya, Soojung juga gadis pintar, baik, dan perhatian. Dan tentunya Soojung akan jadi istri yang sempurna jika besar nanti. Jongin memperlambat langkahnya ketika akhirnya menemukan sosok Soojung. Soojung sedang bersama Sehun sambil menikmati sebuah lollipop warna-warni. Wajahnya terlihat cerah, dan senyum cantik menghiasi wajah cantiknya. Tetapi Jongin dapat melihat bahwa hidung Soojung sedikit merah, dan matanya terlihat sedikit sembab. Mungkin dia habis menangis?“Oh, kau di sini Jongin,” sapa Soojung. Jongin mengernyit heran. Bukankah tadi gadis itu tengah marah padanya? Jongin menatap Sehun seolah bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Namun, Sehun hanya mengedikkan bahu seraya tersenyum.“Ehm, Soojung soal tadi, aku…,”“Tak apa Jong. Aku tahu kalau kau tidak berniat menyakitiku,” Soojung segera memotong perkataan Jongin sambil terus tersenyum.“Yah, syukurlah kalau begitu. Tapi aku tetap harus meminta maaf. Sebenarnya aku tidak pernah menolakmu jika jadi istriku, kalau takdir ya mau bagaimana lagi,” Jongin menggaruk tengkuknya sambil mencoba mengungkapkan perasaanya.“Tenang saja, Jong. Jangan khawatir. Aku sudah punya calon pengantin pria yang mau menerimaku, kok,” kata Soojung dengan mata berbinar. Tunggu? Apa kata Soojung tadi? Pengantin? “Ya, kalian di sini rupanya, dari tadi aku berkeliling mencari kalian. Kita sudah ditunggu makan siang,” Luhan tiba-tiba datang sambil menenteng kamera di lehernya.“Wah, hyung kenapa kamera appa ada padamu?” tanya Sehun penasaran.“Karena aku memang sedang menggunakannya,” jawab Luhan. “Memang kau bisa menggunakannya?”“Kau meragukan kemampuanku, huh?” Soojung menggeleng pelan mendengarkan perdebatan kakak beradik ini. “Kita buktikan saja, bagaimana?” tawar Soojung sambil tersenyum manis. Dua anak lelaki yang tengah berdebat itu kemudian menatap Soojung sambil mengerjapkan matanya. “Ayo, fotokan aku dan Sehun, oppa,” pinta Soojung sambil mengapit lengan Sehun riang. Luhan mendesah pelan. Ia sama sekali tidak bisa menolak jika Soojung yang meminta. “Baiklah, Satu… dua.. tiga..,” Klik. Luhan tersenyum puas karena telah berhasil memotret dengan baik. “Ya sudah, ayo. Kita sudah ditunggu,” ajak Luhan. Soojung dan Sehun mengangguk patuh. Jongin menatap punggung Soojung, Sehun dan Luhan bingung. Sedari tadi ia merasa diabaikan oleh ketiganya. Dan bahkan sekarang dia ditinggal. “Ya, Soojung aku juga mau berfoto denganmu,” dan Jongin sepertinya terlambat untuk menyadari apa yang terjadi tadi.Flash back end Jongin menatap Sehun dengan tatapan tajam dan sulit untuk diartikan, begitu juga Sehun. Dengan segenap tenaganya Sehun mencoba berdiri. Ia tersenyum miring ke arah Jongin. Ia sudah mempersiapkan jika hari ini datang. Jadi, ia sudah tidak terkejut lagi jika Jongin akan menghajarnya habis-habisan hari ini.“Kenapa Jong?”“Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku. Dan kau sudah memukulku,” kata Sehun dengan nada mengejek.“Seharusnya kau menunggu perkataanku hingga selesai dulu. Selanjutya kau bisa puas untuk memukuliku,” lanjut Sehun lagi.Bugh. Sekali lagi Sehun jatuh tersungkur. Sehun memegangi rahangnya yang terasa nyeri. Bogem Jongin kali ini lebih keras dibanding yang pertama tadi.“Lalu apa? Mendengar bualanmu? Kurasa tidak Oh Sehun,” kata Jongin dengan nada dingin.“Aku hanya akan mempercayai Soojung, apapun sampai kapanpun,” kata Jongin lagi. Ia kemudian berbalik dan melangkah pergi.“Kau hanya sedang membohongi dirimu sediri Kim Jongin,” kata Sehun membuat Jongin menghentikan langkahnya.Sehun sekali lagi tersenyum penuh kemenangan, “Akui saja bahwa sebenarnya kau sudah tahu siapa yang Soojung sukai sejak lama.”“Itu aku. Soojung sangat menyuakaiku,” Jongin mengepalkan tangannya saat mendengarkan pernyataan Sehun.Jongin segera membalikkan badannya dan menatap kembali Sehun tajam, “Tapi perasaannya sudah berubah, Hun. Di hatinya hanya ada aku sekarang.”“Dan kau percaya itu?” tanya Sehun. Jongin terdiam.“Apa kau benar-benar yakin bahwa Soojung telah melupakanku?” skak mat. Itulah yang selalu berkelebat di benak Jongin. Mungkinkah Soojung masih menyukai Sehun?“Mengingat betapa pedulinya dia terhadapku, kurasa belum sepenuhnya dia melupakanku,” kata Sehun sambil tersenyum sinis.“Ayo, Jong jawab aku. Kenapa kau diam saja?”Bugh… Bugh… Bugh… Jongin mengatur napasnya yang berantakan setelah membuat wajah sahabatnya itu babak belur. Sehun sendiri telah berbaring di tanah sambil mengerang kesakitan. Sudah cukup. Jongin tidak mau berdebat dengan sahabatnya lagi. Atau mungkin bisa disebut mantan sahabat?“Khim Jongh-in,” kali ini Jongin tidak berhenti melangkah. Ia benar-benar mengabaikan panggilan Sehun.“Akhu akh-an mengh-ambil Soo-jung kembali, ingat itu,” Jongin sekuat tenaga mengabaikan kata-kata Sehun. Dia terus berjalan meski hatinya carut-marut tidak karuan. Jongin tidak akan kehilangan Soojung bukan? O0O Soojung memandangi pemuda di hadapannya penasaran. Raut muka Jongin tidak secerah biasanya. Ia terlihat murung dan kurang bersemangat. Dan sekarang pemuda itu hanya menerawang entah ke mana, dan mengabaikan Soojung.“Kau baik-baik saja Jong?” tanya Soojung hati-hati.“Hum,” jawab Jongin sambil menunjukkan senyumannya.“Ada masalah?” tanya Soojung lagi.“Ani,” jawab Jongin singkat. Soojung menghembuskan napasnya berat. Sepertinya Jongin terlalu keras kepala untuk dimintai keterangan.“Hmm. Jong, kau tahu kapan aku boleh pulang? Aku bosan sekali di sini?” Soojung mencoba mengembil alih perhatian Jongin dengan berlagak manja. Jongin tersenyum kecil melihatnya.“Satu, dua hari lagi mungkin,” jawab Jongin asal. Soojung mengerucutkan bibirnya kecewa.“Kau bosan sekali, huh?” Soojung hanya mengangguk menjawabnya.“Apa perlu aku menemanimu di sini?”“Sepertinya ide itu tidak buruk,” kata Soojung sambil berekspresi seperti berpikir. Jongin terkekeh kemudian mencubit pipi Soojung gemas. Jika Soojungnya bersikap begini, ia tak perlu khawatir lagi bukan?

Previous chapter List chapter Next chapter