Chapter 32 (1/1)

Jongin merebahkan badanya di tempat tidur segera mungkin. Matanya begitu lelah, ingin sekali ia lekas tidur dan kembali melihat Soojung di pagi hari. Jung Soojung, bagi Jongin gadis itu adalah kehidupannya.“Jong-ah,” Jongin kembali membuka kelopak matanya dan memandang jengkel ke arah kakaknya, Taemin.“Hmm,” gumam Jongin tidak jelas.Taemin segera memposisikan diri duduk di ranjang milik adiknya itu dan menatapnya serius, “Kenapa kau tidak cerita sih?” tanya Taemin kemudian. Jongin menatap kakaknya itu bingung.“Cerita apa?” Jongin malah balik bertanya.Taemin memutar bola matanya kesal, “Soal Jinri, tentu saja.”Jongin membulatkan mulutnya. Benar juga, ia hampir saja lupa bahwa akhir-akhir ini Jinri menghindarinya, Soojung dan juga Sehun. Jongin menghembuskan napasnya pelan seraya menggeleng. Taemin bingung dengan arti dari gelengan Jongin itu. Taemin rasa adiknya itu sama sekali belum tahu apa-apa.“Ckkks. Jangan-jangan kau tidak tahu bahwa Jinri habis dilabrak orang siang tadi,” sindir Taemin.Mata Jongin melebar, terkejut, “Mwo?” Taemin hanya mengangkat bahunya.“Naeun yang bercerita tadi. Kau tahu sepupunya yang sekelas denganmu? Dia yang bercerita pada Naeun,” jelas Taemin.“Dan katanya tadi Jinri sampai ditampar. Untung ada Soojung yang melindunginya,” kata Taemin lagi. Jongin merenung sejenak. Pantas saja Soojung meninggalkannya tadi, ternyata ia pulang dengan Jinri.“Tapi, hyung, siapa yang melabrak Jinri?” tanya Jongin antusias.“Hmm, dia sih mengaku sebagai pacar seorang pemuda,” jawab Taemin sambil mengingat-ingat.“Ahh, benar, yang tempo lalu dicium Jinri,” Taemin berseru senang begitu mengingat pemuda yang diceritakan sepupu Naeun.“Park Chanyeol,” gumam Jongin pelan.“Hei, apa Sehun tidak apa-apa?” tanya Taemin penasaran. Jongi menatap kakaknya itu tidak mengerti.“Dulu saja Sehun menghajarku begitu tahu aku menyakiti Jinri. Lalu kenapa sekarang ia diam saja?” Taemin mencoba berpikir. Jongin tertegun.Benar juga. Dulu Sehun marah sekali ketika Jinri menangis karena Taemin. Dia bahkan memusuhi Taemin cukup lama, hingga akhirnya Jinri mau membuka hati untuknya. Tapi kenapa sekarang Sehun diam saja? Jika mengingat hubungan Jinri dan mereka yang merenggang kemungkinannya hanya satu. Mungkin Sehun yang lebih dulu menyakiti Jinri, entah karena apa. Tapi apa hubungannnya dengan Soojung? Jinri juga menghindari Soojung, bukan? Mungkinkah? Jongin menggelengkan kepalanya frustasi. Tidak mungkin. Itu adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi. O0O Soojung tersenyum saat melihat Jongin kembali memasukkan bola ke dalam ring. Senyumnya makin lebar ketika Jongin melambai ke arahnya, seolah menyatakan bahwa tembakan tadi ditujukan untuknya. Sehun mendengus kesal. Ia sedikit cemburu melihat interaksi keduanya. Interaksi Soojung –Jongin.Begitu latihan usai, Jongin berlari kecil menghampiri Soojung yang masih setia menungguinya di pinggir lapangan. Soojung tersenyum kecil menyambut Jongin yang kini tengah berada di hadapannya. Dengan penuh perhatian Soojung menyeka keringat yang mengalir di pelipis kekasihnya itu.“Jongin, ini minumanmu,” Suzy tiba-tiba hadir sambil menyerahkan sebotol minuman pada Jongin. Jongin menerima sambil tersenyum sebagai tanda terima kasihnya. Soojung sendiri menatap jengah ke arah Suzy. Ia masih kesal dengan Suzy karena masalah tempo lalu.Suzy sendiri sepertinya menyadari kekesalan Soojung pada dirinya. Ia tersenyum kecil melihat tingkah Soojung. Ia pun mendekati Soojung dan tersenyum amat manis. Jujur saja, Soojung sedikit aneh melihat Suzy yang tersenyum padanya seperti itu. Dan ia lebih merasa heran ketika Suzy menyodorkan kotak yang berisi pie kering. Soojung menegak liurnya sendiri, pie itu terlihat enak sekali.“Hmm Soojung, ini untukmu. Kuharap kita bisa jadi teman setelah ini,” kata Suzy sambil tersenyum. Soojung mengangkat alisnya tidak mengerti.“Ini sebagai permintaan maafku. Lambang perdamaian kita,” kata Suzy lagi. Soojung sedikit menyipitkan matanya. Ia tidak terlalu percaya dengan apa yang disampaikan oleh Suzy.Soojung menatap Jongin sekilas. Pemuda berkulit kecokelatan itu tersenyum seraya mengangguk. Soojung kembali menatap Suzy. Mungkin, sebaiknya ia dan Suzy segera melakukan gencatan senjata. Ia juga bosa jika bermasalah terus dengan Suzy.“Baiklah, aku juga minta maaf. Aku terima ini,” kata Soojung akhirnya sambil mengambil sepotong pie dari kotak yang dibawa Suzy.Suzy tersenyum saat Soojung mulai menggigit pie pemberiannya. Soojung mengunyah pienya sambil menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia menyukai pie pemberian Suzy. Namun, detik berikutnya Soojung merasa dadanya sesak. Wajahnya memerah. Dan kulit tangannya terasa panas. Soojung terbatuk-batuk kecil, dan hal itu sontak menjadi perhatian Jongin dan seluruh orang yang ada di sana.“Soojung kau kenapa?” tanya Jongin panik sambil memegang bahu Soojung yang melemas.“Se-sakh, Jongh,” jawab Soojung pelan. Jongin segera mengalihkan perhatiannya pada pie yang baru saja dimakan Soojung.“Apa bahan pie itu?” tanya Jongin dingin. Suzy tidak pernah sekalipun melihat ekspresi Jongin yang seperti itu.“Bae Suzy, jawab aku!” bentak Jongin membuat Suzy bergidik ngeri.“A-apel,” jawab Suzy pelan.“Mwo,” kedua lensa Jongin segera melebar. Dengan segera Jongin menggendong Soojung dan membawanya ke rumah sakit.Di lain pihak Sehun terdiam di tempatnya. Ia cukup terkejut atas insiden tadi. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah mengingat besar kemungkinan bahwa dirinya salah satu yang menyebabkan Soojung celaka. O0O Jinri menatap datar pemuda yang tengah berada di hadapannya. Pemuda itu tersenyum manis pada Jinri. Jinri akui akhir-akhir ini ia cukup terpesona pada senyuman milik Park Chanyeol. Ia juga sedikit tersentuh dengan perlakuan manis dari pemuda itu. Tapi mengingat ia adalah seorang cassanova yang tidak punya hati, membuat Jinri membangun tembok yang besar untuk membentengi dirinya.“Mau apa lagi?” tanya Jinri dingin.“Menjemputmu, seperti biasa,” jawab Chanyeol enteng seolah tidak ada yang terjadi sebelum ini.“Mulai saat ini tidak usah menjemputku lagi,” kata Jinri masih dengan nada dingin“Jemput saja pacarmu,” lanjut Jinri sambil memalingkan wajahnya. Ia terlalu kesal jika harus terus menatap Chanyeol.“Oh, ayolah kenapa kau masih mempermasalahkan soal kemarin,” Chanyeol terdengar frustasi saat mengatakannya.“Tentu saja, aku tidak mau dimarahi lagi oleh pacar-pacarmu yang lain. Huh, seharusnya aku lebih teliti lagi saat menyelidiki soal statusmu,” dengus Jinri dengan emosi yang meluap-luap. Chanyeol tersenyum miring mendengarnya.“Bukankah itu impas,” kata Chanyeol masih dengan senyum miring tercetak di wajahnya. Jinri menoleh ke arahnya, bertampang tidak mengerti.“Kau menggunakan jasaku untuk jadi pacar bohonganmu, dan kau ku jadikan alat untuk membebaskan diri dari pacar yang membosankan,” Jinri membulatkan mulutnya ketika mendengar Chanyeol mengatakannya.“Kau, bukankah kau bilang tidak mengingankan apapun dariku?” tanya Jinri merasa seperti sedang dibodohi.“Yah, mana ada orang yang mau secara cuma-cuma membatu orang yang baru pertama kali ditemuinya?” jawab Chanyeol beralasan. Jinri mengatupkan mulutnya seketika. memang benar kata Chanyeol, tidak ada orang sebaik itu.“Kecuali kalau kau memang mengira bahwa aku membantumu karena tertarik padamu,” kata Chanyeol lagi membuat mata Jinri melebar.“Mwoo?!?”Drap.. Drap.. Drap…Perhatian Jinri dan Chanyeol teralihkan ketika melihat seorang pemuda berlari sambil menggendong tubuh seorang gadis. Yang membuat Jinri terpaku adalah, bahwa pemuda itu adalah Jongin, dan gadis yang digendongnya adalah Soojung.“Agasshi, bisa tolong antarkan kami ke rumah sakit segera? Gadis ini keracunan,” pinta Jongin cemas. Jongin bahkan tidak menyadari bahwa yang ia mintai tolong adalah Chanyeol.Chanyeol memandang bingung bergantian ke arah Jongin dan Soojung. Karena terlalu lama memberi respon akhirnya Jongin pun membentak, “Cepatlah, dia bisa mati.” Dan akhirnya dengan patuh Chanyeol mengangguk dan mempersilahkan Jongin memebawa Soojung masuk ke mobilnya.<