Chapter 26 (1/1)

Chapter 26From : JonginSoojungie… aku akan menjemputmu.. kita berangkat bersama ya… Saranghae.. Soojung tersenyum membaca pesan dari sahabat yang mulai malam tadi telah kembali menjadi kekasihnya. Sejenak Soojung kembali merapikan seragamnya dan memeriksa penampilannya di depan cermin. Sempurna.“Morning, appa, eomma,” sapa Soojung dengan suara riangnya begitu sampai di ruang makan. Ia segera duduk dan mencomot roti bakar yang telah disiapkan nyonya Jung untuknya.Tanpa Soojung sadari, kedua orang tuanya tengah dibuat heran. Pasalnya setelah murung selama seminggu, kini Soojung putri mereka telah tampak ceria. Ralat, bahkan lebih ceria dari sebelumnya.“Apa ada sesuatu yang bagus menimpamu?” tanya tuan Jung penasaran. Soojung hanya membalasnya dengan senyum. Baiklah, tuan Jung semakin khawatir dengan putrinya.Tok.. Tok…“Itu pasti Jongin. Kalau begitu aku berangkat dulu,” pamit Soojung sambil meneguk habis segelas susu vanilla di hadapannya. Soojung lantas mengecup pipi kedua orang tuanya dan bergegas menuju pintu depan.“Ku rasa Soojung telah kembali pada Jongin,” kata nyonya Jung sambil tersenyum senang.“Oh, kenapa harus dengan namja sehitam Jongin?” celetuk tuan Jung dengan nada kecewa. Namun, kemudian ia hanya memasang cengiran lebarnya saat nyonya Jung menatapnya tajam. Ia tak mau kena semprot istrinya yang super galak, mungkin.“Jongin, maaf membuatmu menunggu,” sapa Soojung sambil membuka pintu. Namun, senyum Soojung memudar kala yang dilihatnya kini bukan Jongin.“Pagi, Soojung,” sapa Sehun dengan senyum termanisnya. Oh, Soojung hampir lupa dengan masalahnya yang satu ini. Permasalahan cinta pertama yang cukup rumit. Tapi ayolah, Soojung kan sudah berhasil move on. Tidak bisakah Sehun mengerti situasinya saat ini?“Pagi,” balas Soojung datar. Sehun mendesah pelan. Ia tahu tak semudah itu mengembalikan hubungannya dengan Soojung seperti semula.“Aku..,”“Aku janjian dengan Jongin akan berangkat bersama,” potong Soojung cepat. Ia tak ingin mendengar apapun dari Sehun.“Oh, yah, aku tahu,” sahut Sehun tenang dan mencoba tersenyum. Tetapi tetap saja suasana menjadi amat canggung.“Soojung, maafkan aku,” kata Sehun kemudian.“Maafkan soal kejadian kemarin,” lanjutnya lagi.“Tak apa, aku sudah memaafkanmu,” kata Soojung pelan sambil mengalihkan pendangannya ke arah lain.“Jadi, bisakah kita seperti dulu lagi bersahabat seperti dulu lagi?” tanya Sehun antusias. Soojung nampak berpikir sejenak. Ia menatap sahabatnya itu dengan tampang menyelidik. Tetapi lantas ia mengangguk setuju. Sehun terlihat senang.“Terima kasih, Jungie, terima kasih,” kata Sehun sambil memeluk Soojung erat. Soojung sedikit terkejut dengan perlakuan Sehun padanya. Tapi ia diam saja.“Jangan peluk pacarku seperti itu, Oh Sehun,” Jongin tiba-tiba berseru. Sehun segera melepaskan dekapannya pada Soojung.“Jong, ini..”“Aku tahu kita ini bersahabat, tapi jangan memeluknya seperti itu,” protes Jongin memotong ucapan Soojung. Jongin mengerucutkan bibirnya lucu. Dan sekarang Soojung yang gemas padanya. Sehun hanya tersenyum pada Jongin, entah apa yang sedang ia pikirkan.“Dia bukan istrimu, Jong. Baru pacar, ingat,” kata Sehun kalem. Jongin hanya mendengus kesal. Soojung dan Sehun tertawa dibuatnya.“Di mana Jinri?” tanya Soojung. Sehun membeku seketika, ia bingung harus menjawab apa.“Dia berangkat lebih dulu tadi,” jawab Sehun akhirnya.“Kenapa?” tanya Soojung curiga.“Sudahlah, toh kita akan bertemu dengannya di sekolah nanti,” kata Jongin membuat Sehun bernapas lega. Paling tidak Sehun tak harus jujur menjelaskan yang telah terjadi sebenarnya. Soojung hanya mengangguk patuh. Tapi, entah mengapa ia merasa aneh. Perasaannya tidak enak. O0O “Jinri-ah,” sapa Soojung ketika memasuki ruang kelasnya. Jinri menoleh sejenak, namun kemudian mengabaikan Soojung. Bukan hanya Soojung, tapi Jongin dan Sehun. Soojung terdiam sejenak. Jinri seperti menghindarinya?“Kenapa kau berangkat pagi sekali, sih?” tanya Soojung sambil menduduki bangkunya. Sekali lagi Jinri diam saja.“Aku ingin sekali bercerita padamu tentang sesuatu tahu, tapi dari semalam kau tak menjawab panggilanku,” kata Soojung dengan nada kesal dibuat-buat.“Tidak bisakah kau tenang Soojung? Kau cerewet sekali pagi ini,” sindir Jinri yang akhirnya buka suara. Seketika itu juga Soojung membeku. Kenapa Jinri jadi dingin padanya?Sebenarnya obrolan Soojung dan Jinri diamati intens oleh Sehun. Sehun menghela napasnya pelan. Permasalahan yang terjadi benar-benar jadi rumit.“Mereka kenapa sih?” tanya Jongin pada Sehun. Sehun menggeleng pelan sambil tetap memandang ke arah Soojung dan Jinri.Hingga bel istirahat berbunyi Jinri masih tenang memperhatikan pelajaran yang berlangsung. Soojung sendiri sebenarnya tengah berpikir keras, menduga-duga apa yang telah terjadi pada sahabat karibnya ini.“Ayo kita ke kantin Jinri, aku lapar sekali,” ajak Soojung sambil menunjukkan senyum manisnya.“Aku tak lapar,” tolak Jinri.“Ayolah Jinri. Aku traktir, bagaimana?” ajak Soojung lagi.“Aku sudah bilang tidak lapar, ya tidak, Jung Soojung!” seru Jinri membuat semua siswa di kelasnya menatap mereka. Soojung terdiam. Baru kali ini Jinri membentaknya seperti ini.“Kalau ia tak mau makan, biarkan saja, Jungie. Biar dia sendiri yang merasakan lapar,” ujar Sehun s