Chapter 23 (1/1)

Chapter 23“Sehun oper bolanya kemari,” pinta Jongin. Sehun menoleh sejenak ke arah Jongin, namun kemudian ia malah mengoper bola ke arah rekannya yang lain. Jongin cukup tertegun dengan sikap Sehun.“Sial,” umpat Jongin kemudian saat tim lawan berhasil meraih bola dari rekan setimnya. Jongin lantas member tatapan tajam pada Sehun. Namun, Sehun seolah tak peduli.Jongin cukup dibuat pusing dengan kelakuan Sehun. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali Sehun sudah mengabaikan perintah dirinya. Oh bukan, mungkin lebih tepatnya keberadaan Jongin. Setelah insiden mengabaikan Jongin, Sehun melakukan hal serupa dengan berupaya sendirian menembus pertahanan tim lawan. Dan itu dilakukannya berulang kali. Sejujurnya bukan hanya Jongin yang dibuat kewalahan, namun juga rekan-rekan sesame anggota tim basket.Jongin menghela napas beratnya. Ini menjadi latihan pertama dan yang paling memberatkatkan. Pertama Suzy selaku manajer mereka entah mengapa menjadi sosok yang judes dan galak. Yah, mungkin itu sosoknya yang sebenarnya. Kedua kelakuan Sehun yang mengacaukan latihan pertama mereka. Yang terakhir, Jongin sudah mendapat peringatan tegas dari pelatihnya karena kacaunya latihan hari ini. Jongin melangkahkan kakinya dengan berat kembali ke arah lapangan setelah memastikan semua alat sudah kembali ke tempatnya. Namun, langkah Jongin terhenti ketika menyadari bahwa satu bola belum kembali ke dalam gudang. Yah, bola yang kini tengah dimainkan oleh sahabatnya Oh Sehun. Jongin memandang Sehun tanpa ekspresi. Ia masih kesal dengan Sehun.Duak. Lagi-lagi bola yang di-shoot Sehun membentur ring. Sehun lantas kembali mengumpat kecil dan mendengus kesal. Jongin terheran mengamati tingkah sahabatnya ini. Entah mengapa Sehun terlihat sedang kesal? Tapi kesal pada siapa? Karena apa?“Jika kau hanya focus pada emosimu, maka kau tak akan berhasil Oh Sehun,” Jongin akhirnya mencoba buka suara. Sehun terdiam sejenak menghentikan aktivitasnya, namun tak menoleh sedikitpun pada Jongin. Dan duak. Sekali lagi bola yang dilemparnya membentur ring.“Ya, Oh Sehun. Kau tak mendengarku?” seru Jongin sambil meraih bahu Sehun agak kasar. Sehun kemudian menatap tajam Jongin.“Bisakah berhenti bertingkah konyol?” omel Jongin lagi ketika Sehun menepis tangan Jongin dengan cukup kasar dan mengabaikannya. Sehun mendengus sesaat. Ia kemudian kembali menatap Jongin dingin.“Aku tidak bertingkah konyol. Kau yang konyol,” kata Sehun akhirnya dengan nada yang sangat dingin.“Apa maksudmu, huh?” tanya Jongin tak mengerti.“Bohong. Itu adalah tindakan konyol. Setidaknya menurutku,” sindir Sehun sambil menyeringai ke arah Jongin. Jongin terpaku sesaat. Oh, ayolah Sehun seharusnya tak tahu apa-apa bukan?“Kau pikir aku tak tahu Jongin?” tanya Sehun sambil tersenyum mengejek. Jongin hanya tetap terdiam. Ia tak menyangka bahwa Sehun mampu membaca pikirannya.“Aku tahu semua saat kau berbohong pada Soojung, Jong,” lanjut Sehun. Jongin menelan salivanya kasar. Baiklah, ternyata Sehun memang tahu sesuatu.“Aku tahu bukan kau yang mengirimkan mawar setiap hari pada Soojung, Kim Jongin. Aku tahu,” kata Sehun dengan intonasi lebih tinggi dari sebelumnya.“Dan kau tahu yang membuatku sangat kecewa. Kau berbohong untuk mendapatkan hati Soojung, Jongin,” kata Sehun lagi.“Jangan sok tahu, Sehun. Jangan menuduhku tanpa bukti,” kali ini Jongin yang tak mampu meredam emosinya. Jongin menatap tajam ke arah Sehun, meski sebenarnya ia was-was dengan kecurigaan Sehun yang berlebih.“Sok tahu huh? Aku memang tahu. Bahkan aku tahu siapa sebenarnya pengirim mawar itu,” balas Sehun dengan nada sinis. Senyum sinis kemudian semakin mengembang di wajah Sehun tatkala Jongin menatapnya tak percaya.“Kau ingin tahu siapa dirinya Jong?” tanya Sehun pelan sambil mendekatkan diri kea rah Jongin yang masih membatu.“Dia adalah kakakku. Oh Luhan,” lanjut Sehun lagi sambil menyeringai penuh kemenangan. Jongin membulatkan matanya.“Luhan hyung?” gumam Jongin pelan.“Benar, Jong. Dia kakakku,” Sehun membenarkan pernyataannya.“Dia Luhan hyung. Dialah selama ini yang menjadi penggemar rahasia Soojung dan menyukainya diam-diam. Dan usahanya benar-benar kandas karena ulahmu Jongin,” sindir Sehun.“Kenapa kau tak mengatakannya? Kenapa kau tak menghalangiku berbohong pada Soojung, huh?” seru Jongin sambil menarik baju Sehun. Sehun hanya tersenyum miring menanggapi Jongin.“Jongin?” sebuah suara mampu menghentikan Sehun yang hampir menjawab pertanyaan dari Jongin.Jongin dan Sehun menoleh seketika. Mereka cukup terkejut saat melihat Soojung dan Jinri yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka. Oh tidak, mungkin Soojung sudah mendengar semuanya. Buku-buku jari Jongin mendingin seketika ketika melihat tatapan kecewa terpancar dari mata indah milik Jongin. Sesuatu yang Jongin takutkan benar-benar terjadi.“So-soojung?” gumam Jongin pelan sambil melepaskan cengkeramannya dari baju Sehun.“Benarkah itu?” tanya Soojung.“Soojung aku bisa jelaskan,” Jongin mendekat mencoba menjelaskan duduk persoalannya pada Soojung.“Diam. Dan jawab saja Jong. Benarkah semua yang kudengar, huh?” tanya Soojung lagi dengan mata memerah dan emosi meluap. Jongin terhenyak saat mendengar kembali pertanyaan dari Soojung. Meski belum menetes, namun dapat ia lihat bahwa kedua mata Soojung tengah berkaca-kaca.Jongin menghela napas berat kemudian mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap Soojung. Jinri menggeleng tak percaya atas pengakuan Jongin. Sehun? Ia berusaha mengalihkan pandangannya. Ia tak tega melihat Soojung yang terlihat sedih.“Kenapa Jongin?