Chapter 22 (1/1)
Chapter 22Jongin terlihat amat bahagia. Senyum manisnya terus mengembang bahkan ketika pelajaran berlangsung. Pandangan matanya hanya tertuju pada sosok Jung Soojung. Mendapatkan Soojung sebagai kekasih merupakan keberuntungan yang amat besar baginya.“Berhenti tersenyum seperti orang bodoh, Kim Jongin,” ucap Sehun pelan namun tetap mampu membuyarkan lamunan Jongin.“Hh, aku sedang bahagia, Sehun. Jadi jangan menggangguku,” kata Jongin sembari memfokuskan diri memandangi Soojung kembali.“Terserah kau saja aku hanya memperingatkanmu,” kata Sehun dengan nada yang cukup dingin. Jongin memperhatikan teman sebangkunya itu yang kini tengah focus dengan penjelasan guru mereka.Sebenarnya sejak kemarin Jongin dibuat bingung dengan kelakuan putra bungsu keluarga Oh ini. Ketika diajak mengobrol Sehun hanya membalas dengan kalimat singkat bahkan terkesan dingin, mendiamkan Jongin cukup lama, bahkan terkesan menghindari Jongin. Jongin hanya merasa bahwa sahabatnya ini tengah marah padanya. Jongin ingat saat mereka kecil Sehun pernah mendiamkannya selama seminggu karena memberitahu semua teman sekelasnya kalau Sehun masih mengompol. Uh, Jongin ingat ia dimarahi habis-habisan oleh Soojung. Dan parahnya Sehun baru bisa memaafkan Jongin sebulan setelahnya atas bantuan Soojung dan Jinri tentunya. Saat ini Jongin merasa kejadian itu kembali terulang. Walau Sehun tak merajuk seperti saat kecil, namun Jongin tahu benar jika pemuda itu tengah marah atau kecewa mungkin pada dirinya.Perkiraan Jongin tak terlalu meleset ketika ia merasakan suasana yang cukup tenang saat makan siang berlangsung. Sehun telihat tenang, Minho terlihat murung, dan Luhan juga murung seperti Minho. Baiklah Jongin merasa tak nyaman dengan suasana tenang seperti ini.“Kau tak memakan makananmu, Jong?” tanya Soojung tiba-tiba.“Ahh, aku memakannya kok,” jawab Jongin tersenyum sambil menyuapkan nasi pada mulutnya.“Perhatian sekali pada namjachingumu, Soojung,” celetuk Jinri dengan seringaian jahilnya. Soojung tak menjawab, hanya memberikan tatapan membunuhnya pada Jinri.“Namjachingu? Nugu?” tanya Taemin.“Kau belum diberi tahu Jongin, oppa?” Jinri malah balik bertanya. Taemin menggeleng pelan. Jinri menghembuskan napasnya pelan. Kim Jongin benar-benar.“Yah, Soojung adik iparmu sekarang, oppa,” jelas Jinri. Taemin berpikir sejenak. Adik ipar?“Soojung? Adik ipar?” tanya Naeun yang juga ikut dibuat penasaran.“Soojung? Yeojachingunya Jongin?” seru Taemin heboh. Jinri hanya mengangguk riang.“Ya, Kim Jongin, kenapa tak memberitahuku?” tanya Taemin pura-pura marah pada adiknya. Jongin hanya mendesah pelan. Kemarin saat ia akan bercerita Taemin malah tidur hingga pagi, dan sekarang ia malah protes karena ketinggalan berita. Taemin kemudian memandang Minho dan Luhan bergantian. Pantas saja kedua rekannya ini begitu murung, sedang patah hati ternyata.“Chukae ya, Soojung. Tolong jaga adikku,” kata Taemin sambil tersenyum ke arah Soojung.“Ya, hyung. Kenapa kau berkata seolah-olah aku akan membuat Soojung susah,” protes Jongin kesal.“Karena kerjamu hanya membuat orang susah Jongin,” kata Taemin kalem. Jongin mendengus pelas. Jujur saja kalau boleh memilih ia tak inggin menjadi adik dari Kim Taemin.“Kupikir kau sudah tahu, oppa. Terlebih ini semua tak lain berkat dirimu,” ujar Jinri membuat Taemin mengernyit heran.“Yah, semua ini karena kau sudah membantu Jongin untuk memberikan Soojung mawar setiap hari di lokernya,” jelas Jinri. O-oh Jongin lupa dengan hal yang satu itu.“Mawar apa?” Taemin masih bingung. Pertanyaan dari Taemin membuat Soojung ikut mengenyit heran. Kenapa seolah Taemin tak tahu apapun.“Sudahlah, yang berlalu jangan diungkit lagi oke,” Jongin mencoba mengalihkan pembicaraan. Luhan dan Sehun mendengus bersamaan. Yah, hanya mereka yang tahu bahwa Jongin sudah melakukan kesalahan yang vatal dengan berbohong pada Soojung.Taemin sebenarnya masih berpikir amat keras. Ia bingung kenapa dibawa-bawa dalam kasus Jongin dan Soojung. Dan mawar? Mawar di loker Soojung? Taemin ingat sekarang. Ia segera beralih menatap Luhan. Pantas Luhan terlihat lebih murung dibanding Minho. Yah, Taemin sebenarnya juga tahu bahwa Luhanlah yang selama ini mengirimi Soojung mawar, namun ia diam saja. Oke, sepertinya Taemin butuh penjelasan dari Jongin. O0O “Baiklah, aku harap kalian tetap dapat mempertahankan prestasi tim basket SM High School di bawah kepemimpinan Jongin,” kata Minho seraya tersenyum kepada rekan-rekan satu timnya. Hari ini adalah hari terakhirnya menjabat sebagai ketua tim basket dengan anggota lainnya yang sudah memasuki tahun terkahir masa studinya.“Dan maaf jika aku mempunyai kesalahan selama menjabat sebagai ketua. Terima kasih atas kerja sama kalian,” lanjut Minho seraya membungkuk. Tepuk tangan meriah menyambut akhir kalimat Minho. Ia terenyum dan menghembuskan napas lega seakan bebannya telah lepas sebagian.“Aku tak tahu aku bisa sehebat dirimu atau tidak, hyung,” kata Jongin pada Minho. Minho tersenyum dan menepuk pelan bahu Jongin.“Aku percaya padamu Jongin. Jagalah tim ini dengan baik,” kata Minho bijak.“Dan jagalah Soojung,” katanya lagi membuat Jongin tertegun.“Aku akan menghabisimu jika kau membuatnya menangis,” lanjut Minho sambil tersenyum tulus. Jongin mengangguk mantap.“Tentu, hyung,” kata Jongin tegas. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarkannya dengan tatapan yang cukup sendu. O0O Jongin kini tengah menatap kakaknya bingung. Taemin masih bertahan dalam posisi duduknya, diam dan menatap tajam kea rah Jongin. Taemin seolah akan menerkamnya begitu saja. Jongin benar-benar berharap bahwa kedua orang tua mereka segera kembali dari undangan pe