Chapter 21 (1/1)
Chapter 21Jongin menghembuskan napasnya pelan. Dengan amat hati-hati ia membuka pintu loker milik sahabatnya, Jung Soojung. Seperti biasanya ada setangkai mawar merah diletakkan di loker itu. Jongin mendengus kesal, kembali kata-kata Myungsoo semalam melintas di otaknya. Rivalmu sebenarnya itu bukan aku Kim Jongin. “Benar, rivalku bukanlah Kim Myungsoo,” gumam Jongin pada dirinya sendiri. Ia lantas mengambil mawar itu dari loker Soojung. Semua rival harus disingirkan, untuk itulah Jongin berniat membuat mawar itu dan berangkat pagi sekali.“Jongin?” panggil seseorang mengintrupsi tindakannya. Senyum licik Jongin mendadak sirna. Ia tak menyangka akan ketahuan secepat ini. O0O Soojung tersenyum manis ketika melihat Sehun dan Jinri yang sudah menanti di depan rumahnya. Namun, senyum cantiknya mendadak lenyap dan berganti kerutan di dahi. Soojung berpikir sejenak lantas menengokkan kepala ke kanan dan ke kiri seolah mencari seseorang.“Di mana Jongin?” Tanya Soojung pada kedua sahabatnya.“Entahlah, tadi bibi Kim bilang ia sudah berangkat bersama Taemin oppa,” jawab Jinri sambil menggedikkan bahunya.“Pagi sekali, huh? Dia kan tidak mengikuti kelas tambahan seperti Taemin oppa,” ujar Soojung keheranan.“Sudahlah, kita tanyakan saja padanya nanti ketika bertemu di sekolah. Sebaiknya kita berangkat, sebelum terlambat,” kata Sehun. Jinri dan Soojung tersenyum dan mengangguk bersamaan. Mereka pun segera berangkat menuju SM High School.Suasana sekolah masih cukup sepi saat ketiganya sampai. Sepertinya mereka bertiga datang terlalu pagi. Sambil bercerita Soojung, Jinri dan Sehun menuju loker mereka. Namun, langkah Soojung terhenti begitu melihat sosok yang amat dikenalnya. Jinri dan Sehun pun melakukan hal serupa. Mereka cukup heran melihat orang itu berada di depan loker Soojung. Dan jangan lupakan bahwa ia tengah memegang setangkai mawar yang biasa Soojung temukan di lokernya.“Jongin?” paanggil Soojung ragu-ragu. Jongin terlihat terkejut saat mendengar panggilan dari Soojung. Ia segera menolehkan diri dan memasang senyum terpaksa. Dan yah, Soojung, Jinri, bahkan Sehun tak melewatkan bagaimana Jongin menyembunyikan mawar merah di balik punggungnya.“A-ah, kalian sudah berangkat. Cepat sekali,” sahut Jongin berusaha menormalkan nada suaranya yang terkesan gugup. Soojung mendekat diikuti Jinri dan Sehun. Banyak hal yang ingin mereka tanyakan pada putra bungsu keluarga Kim itu.“Sedang apa kau di depan lokerku, huh?” Tanya Soojung penuh selidik. Jongin menelan salivanya kasar. Ia yakin tak akan selamat sekarang.“Apa yang kau sembunyikan Jong?” Tanya Jinri sambil mengambil mawar yang Jongin sembunyikan.“A-ah.. itu,” Jongin bingung. Sungguh ia bingung. Tak mungkin kan ia mengatakan bahwa dirinya berniat membuang mawar dari pengagum rahasia Soojung.“Kau berniat membuangnya, huh?” Tanya Sehun tajam. O-oh, skak mat. Jongin tak tahu lagi harus menjawab apa.“Bu-bukan begitu,” oke Jongin ingin segera memotong lidahnya kini. Lidahnya seolah kelu bahkan untuk sekedar mencari alasan.“Atau jangan-jangan, kau yang selama ini memberi mawar pada Soojung?” tiba-tiba Jinri menyuarakan pemikirannya. Sontak Soojung dan Jongin membulatkan mata mendengarnya. Sehun mendesah pelan. Ia sudah tahu siapa yang memberi Soojung mawar setiap hari dan itu bukanlah Jongin.“Ah, aku benar kan? Lihat ekspresimu itu,” kata Jinri riang.“Choi Jinri, jika dia yang meletakkan mawar itu, kenapa ia juga ikut penasaran saat pertama kali melihatnya?” tanya Sehun yang tak habis pikir dengan alur analisis Jinri.“Benar juga,” kata Jinri pelan, namun masih mencoba berpikir kembali.“Tapi bisa saja kan ia berakting agar kita tak curiga padanya,” kata Jinri menguatkan analisisnya. Soojung menganggukkan kepalanya seperti menyetujui pemikiran Jinri.“Jadi Jongin, benar kau yang selama ini meletakkan mawar di lokerku?” tanya Soojung pada Jongin. Jongin segera memutar otaknya untuk berpikir. Ia tak mungkin mengakui suatu hal yang tak pernah ia lakukan. Tetapi ini menyangkut Soojung. Mungkin saja jika Soojung mengetahui dialah yang selama ini menjadi pengagum rahasianya, Soojung akan dengan mudah menyerahkan hatinya pada Jongin. Membayangkannya saja membuat Jongin senang. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.“Jongin?” suara Soojung membuyarkan lamunan Jongin.“A-ah, ya. Itu memang dariku Soojungie,” jawab Jongin seraya tersenyum.“Padahal aku bersusah payah untuk menyembunyikannya, tetapi malah ketahuan seperti ini. Ya, sudah,” kata Jongin lagi sambil menghela napasnya. Sehun menatap Jongin kesal. Bagaimana bisa Jongin mengakui dirinya yang selama ini menjadi pengagum rahasia Soojung?“Tuh, benar kan,” kata Jinri riang karena tebakannya tepat. Namun, ekspresi Jinri dengan cepat berubah.“Tapi bagaimana bisa kau meletakkannya jika kau selalu berangkat bersama kami?” tanya Jinri seolah ragu dengan pengakuan Jongin.“Ah, itu aku biasa menitipkannya pada Taemin hyung,” Jongin mencoba berkilah. Sehun menatap Jongin sinis. Kim Jongin pintar sekali berbohong.“Baiklah, alasan dapat diterima,” sahut Soojung. Jongin menghembuskan napasnya pelan. Ternyata tak sesulit yang ia pikirkan.“Hmm, jadi Soojung mengenai ini semua aku ingin mengatakannya kepadamu sekali lagi,” kata Jongin menatap dalam kedua mata Soojung.“Aku menyukaimu, menyayangimu, mencintaimu. Dan kau tak perlu meragukannya lagi,” lanjut Jongin. Soojung menahan napasnya saat Jongin kembali menyatakan perasaannya dengan penuh keseriusan.“So, would you be my girlfriend?” tanya Jongin. O0O Selepas pulang sekolah Minho tak segera pulang. Ia telah berjanji bertemu seseorang di sebuah café. Minho tersenyum ketika melihat banyak pasangan muda yang tengah menghabiskan waktunya di café itu. Sedari dulu Minho sangat iri pada pasangan yang tengah berkencan ataupun memadu kasih. Namun, sebentar lagi rasa irinya akan sirna. Ia telah memantapkan hati untuk mengatakan perasaannya pada gadis pujaan hatinya. Minho kembali tersenyum sambil menatap boneka beruang dan cokelat yang telah ia siapkan.“Oppa,” panggil seorang gadis sambil mendekat pada Minho. Minho lantas tersenyum manis menyambut kedatanga