Chapter 18 (1/1)

Chapter 18“Aku pulang,” kata Luhan ketika memasuki rumah. Dia baru saja menyelesaikan urusannya di ruang OSIS mengingat sebentar lagi kepengurusannya akan segera berakhir. Luhan mendapati rumah yang cenderung sepi. Hanya ada suara televisi.“Kenapa kau tidak membalas sapaanku, Sehun?” tanya Luhan begitu melihat Sehun yang berada di ruang keluarga sedang menonton TV. Sehun lantas menoleh ke arah kakaknya. Ia memandang Luhan datar.“Selamat datang,” kata Sehun sambil kembali fokus pada TV.“Dimana appa dan eomma?” tanya Luhan.“Keluar, ada acara yang harus mereka hadiri,” jawab Sehun sekenanya.“Kau kenapa, huh?” tanya Luhan yang heran dengan tingkah Sehun.Sehun kembali menatap kakaknya datar. Luhan mengernyit heran. Tak biasanya Sehun bertingkah seperti ini.“Kau yang kenapa, hyung?” tanya Sehun balik.“Memang aku kenapa?” tanya Luhan sedikit emosi. Sungguh pertanyaan dan ekspresi Sehun membuat Luhan sedikit kesal.“Kenapa kau mengirimi Soojung mawar setiap hari? Kenapa kau mengiriminya foto sekarang? Kau benar-benar pengagum rahasianya, huh?” tanya Sehun beruntun.“A-apa maksudmu?” tanya Luhan sedikit gugup dan tegang. Sehun menghela napasnya kasar.“Aku sudah tahu hyung, aku tahu semuanya,” kata Sehun dengan meninggikan intonasinya.“Aku tahu bahwa kaulah yang selama ini mengirimi Soojung mawar, kalau kau yang menjadi pengagum rahasia Soojung,” jelas Sehun panjang lebar. Luhan diam saja, ia hanya memandang Sehun dengan pandangan terkejut.“Aku juga tahu kalau kau sudah menyukai Soojung sejak lama,” lanjut Sehun memelankan suaranya. Luhan kemudian memandang Sehun penuh tanya. Sudah lama?“Mian, aku pernah tanpa izin memasuki ruang gelapmu dan melihat semua foto Soojung,” kata Sehun menerangkan. Luhan menghembuskan napasnya pelan. Ia sudah curiga bahwa adiknya ini sudah mengetahui tentang semua perasaannya.“Kalau sudah tahu, kenapa kau harus klarifikasi padaku, huh? Kenapa tidak kau bilang saja semuanya pada Soojung?” tanya Luhan dengan nada tajamnya.“Aku tak ingin Soojung memberimu kesempatan. Aku tak ingin membuat Jongin sahabatku patah hati,” jawab Sehun. Luhan menatap dingin ke arah Sehun. Luhan yakin bukan itu alasan Sehun yang sebenarnya.“Bisakah kau melupakan Soojung? Aku mohon hyung, menyerahlah,” pinta Sehun.“Kau memintaku untuk melupakan Soojung, menyerah pada Soojung?” dengan sinis Luhan bertanya.“Untuk siapa? Untuk Jongin? Ya, Oh Sehun jangan munafik,” seru Luhan dengan emosi menggebu.“Jangan gunakan Jongin sebagai alasan Oh Sehun. Aku tahu sebenarnya hatimulah yang melarangku menyukai Soojung,” kata Luhan mengejek  dengan nada yang masih tinggi. Sehun menahan napasnya. Rasanya sesak. Benarkah Sehun sendiri yang melarang Luhan menyukai Soojung?“Kau tidak berhak melarangku, Sehun. Tidak. Bahkan hanya karena kau adalah orang yang Soojung sukai, kau masih belum berhak melarangku,” lanjut Luhan lagi. Sehun tercekat. Soojung menyukainya? Benarkah Jung Soojung menyukainya?“Soojung menyukaiku?” tanya Sehun pelan. Luhan menghembuskan napasnya kasar. Ia melakukan kesalahan besar dengan mengatakan semua kebenaran pada Sehun. Namun, ia sudah tidak kuat menahannya lagi.“Ya, benar Jung Soojung menyukaimu. Ia sangat menyukaimu. Ia bahkan rela menyakiti hatinya untuk membuatmu bahagia,” jawab Luhan dengan segala emosinya. Sehun menatap Luhan tak percaya. Bukankan selama ini Soojung selalu mendukung perasaannya pada Jinri? Sehun tak dapat membayangkan betapa hancur hati Soojung ketika selama ini mengetahui bahwa Jinrilah yang Sehun lihat.“Kau selalu saja menyakitinya. Selalu. Padahal dia selalu menomorsatukan dirimu Oh Sehun. Dia bahkan sampai tak melihat bahwa ada orang lain yang selalu mencintainya,” kata Luhan.“Padahal aku selalu ada di dekatnya, di sisinya. Aku selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayangku padanya. Tapi apa? Hanya kau yang ada di mata Soojung. Semuanya karena dirimu,” dengan tajam Luhan melanjutkan perkataannya.“Ta-tapi hyung aku tidak tahu, sungguh,” kata Sehun pelan.“Ya, tentu saja. Karena kau bodoh,” sindir Luhan.“Jika kau melarangku sekarang, maka kau terlambat. Aku akan mengambil Soojung dari sisimu,” Luhan berkata lagi dengan nada dingin dan serius. Kemudian Luhan meninggalkan Sehun yang mematung.Sehun sedikit terperanjat ketika mendengar bantingan pintu yang di tutup. Itu adalah ulah Luhan. Namun, kembali Sehun melamun. Ia kembali menyelami perkataan sang kakak. Soojung menyukainya? Benarkah demikian?O0OSehun sedari tadi tidak dapat memfokuskan diri pada pelajaran. Ia diam-diam memandangi Soojung yang berada di bangku depan. Sejak pernyataan Luhan kemarin, Sehun jadi lebih sering memikirkan Soojung.