Chapter 16 (1/1)

Chapter 16Sudah seminggu ini Soojung selalu menemukan setangkai mawar merah di lokernya. Sudah seminggu pulalah dia, Jinri, Jongin, dan Sehun dibuat penasaran. Pasalnya orang yang memberi Soojung bunga sama sekali tidak memberi petunjuk mengenai dirinya. Hal itu sontak membuat Jongin sering uring-uringan, terlebih ketika Soojung memberi respon baik saat menerima mawar itu. Hal itu juga membuat Sehun sedikit banyak sering melamun. Jinri cukup heran melihat tingkah Sehun yang mendadak jadi pendiam. Tetapi bagi Jinri, masalah siapa pengagum rahasia Soojung itulah yang terpenting saat ini. Dan Soojung sendiri sebenarnya sangat penasaran pada orang yang terus-menerus mengiriminya mawar. Soojung akui hatinya sedikit tersentuh.Hari ini hari Minggu dan Soojung sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Soojung cukup mengenakan dress selutut berwarna toscanya untuk tampil anggun. Ia juga memoles wajah cantiknya dengan make up tipis untuk sekedar membuat wajahnya lebih fresh. Soojung memandangi wajahnya yang terpantul pada cermin sambil menghela napasnya. Jika bukan karena permainan konyol yang ia dan sahabt-sahabatnya lakukan, hari ini Soojung akan sukses bersantai di rumah sepanjang akhir pecan.

Flash backMalam ini Soojung, Jinri, Jongin, dan Sehun kembali belajar bersama. Mereka akan menghadapi ulangan harian fisika yang cukup berat, sehingga meminta Soojung menjadi tentor dadakan. Kali ini rumah Soojunglah yang menjadi tempat mereka belajar. “Hah, bisakah kita istirahat sejenak?” ujar Jongin. “Kita sedang belajar, Jong. Kalau kau bosan, pulang sana,” sengit Soojung menanggapi.“Jongin benar. Kita perlu merefreshkan otak kita sejenak,” Sehun membela Jongin. Soojung mendesah kesal. Selalu aja begini, selalu saja mereka tidak serius. “Bagaimana kalau kita main sebentar?” tanya Jinri riang.“Truth or dare? Bagaimana?” tanya Jinri lagi memberi ide.“Setuju,” sahut Jongin dan Sehun bersamaan,”“No, kita sedang belajar sekarang,” tegas Soojung. Jinri kemudian memasang tampang memelasnya di depan Soojung.“Baiklah, baiklah. Asal selesaikan dengan cepat,” Soojung akhirnya memberikan izin. Kini mereka berempat duduk melingkar dengan sebuah botol di tengah-tengahnya, Jinri memutar botol tersebut. Dengan cepat botol itu berputar. Beberapa saat kemudian kecepatannya melambat, dan berhenti tepat menunjuk Jongin.“Baiklah Kim Jongin, truth or dare?” tanya Jinri.“Truth,” jawab Jongin sambil mempersiapkan dirinya.“Biarkan aku yang bertanya,” sahut Sehun. Kemudian Sehun menatap Jongin serius. “Apa kau pernah menyukai orang selain Soojung?” tanya Sehun. “Hmm,” Jongin berpikir sejenak. “Tidak ada, aku merasa sepertinya sejak dulu aku hanya melihat Soojung,” jawab Jongin. Soojung terhenyak. Ia tak menyangka bahwa Jongin begitu menyukainya.“Pertanyaanmu tidak seru, Hunnie,” celetuk Jinri.“Padahal aku sudah mempersiapkan pertanyaan yang akan mempermalukan Jongin,” lanjut Jinri kecewa.“Sudahlah, kita lanjut lagi,” kata Jongin seraya memutar botol. Perlahan putaran botol melambat dan berhenti menunjuk Soojung. O-oh Soojung dalam masalah.“Truth or dare, nona Jung?” tanya Jongin sambil menunjukkan smirknya.“Dare,” jawab Soojung pelan. Soojung sengaja tak ingin memilih truth.Jongin mendesah kecewa. Namun, kemudian iya tersenyum lebar membayangkan dare yang akan ia berikan pada Soojung. “Kencanlah denganku hari Minggu nanti,” kata Jongin. “Ya, dare macam apa itu, Jong?” sahut Sehun. Ayolah, itu dare yang terlalu ringan. Dan lagi entah mengapa Sehun tidak terlalu suka dare yang diberikan Jongin.“Benar, dare macam apa itu?” omel Jinri kesal.“Baiklah,”kata Soojung mendapat tatapan heran dari Jinri dan Sehun.“Wae?” tanya Soojung. Tapi Jinri hanya menggeleng pelan.“Baiklah, ayo putar lagi,” kata Soojung sambil memutar botol. Kali ini Jinrilah sasarannya. Dengan percaya diri Jinri memilih truth.“Jadi Choi Jinri, apakah kau sudah berhasil menyembuhkan lukamu?” tanya Soojung hati-hati.“Yah, sepertinya sudah. Adanya Sehun di sisiku membuat diriku lebih nyaman dan melupakan kesedihanku yang lalu,” jawab Jinri setelah sempat berpikir sejenak. Sehun menatap kedua manik kelam Jinri, berusaha mencari kebohongan di sana. Namun, nihil. Jinri sepertinya serius dengan ucapannya.“Sekarang giliranmu, Sehun. Dan sisanya tinggal dare,” kata Jinri seraya tersenyum.“Ada yang ingin sekali kupastikan. Jadi…,” Jinri memotong ucapannya sendiri.“Cium aku sekarang,” pinta Jinri. Soojung dan Jongin terkejut atas permintaan Jinri. Sehun pun cukup terkejut, namun dapat mengatasinya dengan baik. Diam-diam Sehun mencuri pandang ke arah Soojung. Gadis itu terlihat terkejut dan wajahnya memucat. Sehun merasa tatapan Soojung memerintahnya untuk tidak menerima dare Jinri. Namun dengan cepat Sehun menepis pikirannya. “Jangan menyesal, Jinri,” kata Sehun. Jinri mengangguk mantap. Perlahan Sehun mendekat dan merasakan hembusan napas Jinri. Dengan lembut dan penuh perasaan Sehun pun menem