Chapter 15 (1/1)

Chapter 15Nyonya Jung membawakan minuman serta beberapa camilan untuk tamu putri tersayangnya. Tadi ia sempat berbelanja sebentar ke supermarket saat Minho datang berkunjung, dan kini Nyonya Jung cukup heran melihat tamu putrinya berkembang pesat.“Gomawo, bi,” kata Jinri sambil tersenyum kemudian kembali fokus kepada tiga orang yang menjadi tersangka utama.Nyonya Jung cukup dibuat bingung dengan tingkah putra-putri tetangganya itu. Yah, nyonya Jung sangat mengenal baik mereka semua. Mereka tak pernah bicara seserius ini. Bahkan ketika mengerjakan tugas didominasi dengan candaan (hanya Soojung yang selalu serius). Ibu dari Jung Soojung itu tak mau ambil pusing. Mungkin itu hanya urusan anak muda, tak semestinya orang tua ikut campur.“Bibi Jung,” panggil suara riang seseorang ketika dirinya sudah keluar dari kamar Soojung. Nyonya Jung sedikit tersentak mendapati Taemin yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Dan ia tidak mengenali sosok asing di sebelah putra tetangganya itu.“Kau mengagetkanku, Taemin-ah,” kata nyonya Jung berlagak kesal. Taemin hanya nyengir lebar.“Ahh, kenalkan ini uri yeojachingu,” ujar Taemin.“Son Naeun imnida,” Naeun mengenalkan diri sambil membungkuk.“Gadis yang cantik. Kau pintar memilih,” goda nyonya Jung. Taemin hanya terkekeh pelan, sedang Naeun malu-malu menunjukkan senyumnya.“Kami mau menjenguk Soojung. Dia di dalam kamar kan?” tanya Taemin sambil menunjuk kamar Soojung.“Ne, tapi sepertinya ada pembicaraan serius di dalam,” jawab nyonya Jung. Taemin mengernyit heran. Pasalnya sejak kapan rekan-rekannya dapat berbicara serius jika berkumpul.“Baiklah kami akan mulai mengintrogasi kalian,” sebuah suara terdengar di telinga Taemin. Taemin tahu kalau itu adalah suara Jinri.“Masuk saja,” perintah nyonya Jung kemudian berlalu. Naeun hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian mengikuti Taemin memasuki kamar Soojung.“Di mulai dari kau Kim Jongin,” kata Jinri dengan nada suara tegas. Taemin dan Naeun cukup heran melihat posisi Jongin, Luhan, dan Minho yang seperti tersangka.“Kalian sedang apa, huh?” tanya Taemin penasaran. Selanjutnya Taemin merasa sudah salah bicara karena kemudian diberi tatapan tajam dari Jinri dan Sehun. Taemin pun diam, memilih tak bertanya lagi. Dari pada kena masalah, lebih baik bungkam bukan?“Jadi Kim Jongin, bukankah tadi kau bilang perutmu bermasalah dan menitipkan izin padaku? Kenapa kau sekarang malah di sini?” tanya Sehun sambil menatap lurus Jongin.“Aku menjenguk Soojung,” jawab Jongin singkat.“Kenapa sendirian? Kenapa tidak menunggu kami?” tanya Jinri kini.“Dan membuatku harus merasa tersiksa karena merindukan Soojung, huh?” jawab Jongin agak menggebu. Semua orang menatap Jongin datar.“Tidakkah kau merasa adikmu sedikit berlebihan?” tanya Naeun berbisik pada Taemin.“Begitulah Jongin,” jawab Taemin pelan. Jujur, kadang Taemin malu mengakui bahwa Jongin adalah adiknya.“Lalu kenapa kau bersembunyi di kamar mandi?” tanya Sehun.“Soojung yang menyembunyikanku,” jawab Jongin tenang. Setelah jawaban Jongin sontak semua memandang Soojung dengan penuh tanya.“Dia masuk kamarku lewat jendela, dan tiba-tiba ada yang mengetuk. Aku pikir itu eommaku, dan aku tidak mau dia syok putrinya ini didatangi tamu tak dikenal,” Soojung mencoba membela dirinya.“Tapi bibi Jung sudah mengenalku dengan baik, Jungie,” protes Jongin.“Tetapi jika dia tiba-tiba melihatmu yang ada di kamarku, dia pasti akan syok,” omel Soojung.“Soojung benar, Jong. Kau seperti pencuri,” kata Jinri. Jongin mendengus kesal. Jongin merasa tak ada salahnya berkunjung ke Soojung dengan caranya.“Selanjutnya kau, Minho hyung,” kata Sehun beralih pada Minho.“Aku juga menjenguk Soojung, asal kalian tahu,” kata Minho sebelum Sehun dan Jinri sempat bertanya.“Baiklah, tapi kenapa harus bersembunyi, Oppa?” tanya Jinri sedikit kesal atas sikap Minho.“Karena ada Luhan,” jawab Minho pelan.“Karena aku?” Luhan bertanya karena merasa namanya disebut.“Aku hanya tidak ingin ketahuan menjenguk Soojung seorang diri,” bela Minho.“Apa menjengukku adalah sebuah aib, Oppa?” tanya Soojung tiba-tiba.“Bu-bukan begitu, Soojung,” jawab Minho sedikit panik.“Itu hanya spontanitas,” Minho memberi alasan.“Baiklah, kini giliranku kan?” tanya Luhan sebelum Sehun dan Jinri bertanya.“Aku menjenguk Soojung. Dan aku bersembunyi itupun karena spontanitas,” jelas Luhan. Sehun memandang kakaknya dalam diam.“Setidaknya aku bisa mengerti alasan Soojung menyembunyikan Jongin, yah karena perilaku Jongin yang buruk,” kata Jinri. Jongin ingin protes, namun mengurungkan niatnya setelah diberi tatapan membunuh dari Sehun.“Aku juga paham ‘spontanitas’ yang dimaksud Minho oppa,” lanjut Jinri lagi.“Tetapi aku tak mengerti ‘spontanitas’mu Oppa,” kata Jinri lebih kepada Luhan.“Kau….,” kata Jinri terputus.“Bersembunyi karena tak ingin kami mengetahui kalau dirimu seorang diri menjenguk Soojung,” lanjut Jinri.“Kau seperti fans rahasianya Soojung,” celetuk Naeun tiba-tiba. Suasana hening seketika.“Kau fans Soojung? Kau suka Soojung, Oppa?” tanya Jinri heboh menyadari arah perkataan Naeun.“Ya, Choi Jinri kesimpulan macam apa itu,” protes Soojung.“Sudahlah, introgasinya selesai. Anggap saja itu hanya tingkah konyol mereka bertiga,” Sehun mengalihkan a