Chapter 14 (1/1)

Chapter 14Soojung, maafkan aku… >.<Soojung, jangan marah padaku…Soojungie… jeongmal mianhae… Princess… I’m so sorry….. Soojung menerima pesan singkat yang beruntun dari Jongin. Setelah kejadian di UKS Soojung marah besar pada pemuda yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil itu. Bagaimana bisa pemuda itu dengan tidak sopannya mencium hidung mancung Soojung? Oh, sekarang hidung Soojung sudah tidak suci lagi. Soojung beberapa kali menggosok-gosok hidungnya.Sejak semalam Jongin mengiriminya pesan. Semuanya berisi permohonan maaf. Tapi tak satupun yang Soojung balas. Ia terlalu kesal pada Jongin. Tetapi pesan-pesan Jongin begitu mengganggu. Soojung bahkan yang sudah meluangkan waktunya untuk izin sejenak dari persekolahan hari ini tidak bisa istirahat dengan tenang. Well, mengetahui putri semata wayangnya pingsan, Nyonya Jung melarang putrinya itu untuk berangkat sekolah hari ini.To: JonginNe, aku sudah memaafkanmu, Jong. Jangan kirimi aku pesan terus menerus. Kau tidak memperhatikan pelajaran huh?From: JonginYeeeeaaaay… Gomawo my princess… Saranghae… Ahh, aku terlalu merindukanmu siiiii.. ^o^ istirahat yaa.. chagiyaaaa…..Uhhh, pesan dari Jongin membuat Soojung yang minum tersedak. Chagiya? Soojung hanya geleng-geleng membayangkan seperti apa wajah Jongin ketika mengetik pesan itu. Namun, detik berikutnya Soojung merasa bosan. Huh seharusnya ia bisa menikmati waktu istirahat di kantin bersama Jongin, Sehun, dan Jinri. Tapi sekarang? Soojung merebahkan dirinya, mencoba mengikuti saran eommanya untuk beristirahat.O0OJongin bosan. Jongin sangat bosan. Soojung tidak berangkat hari ini, dan itu membuat hari Jongin kosong. Jongin rindu Soojung. Jongin sangat amat rindu pada gadis itu. Sedari tadi Jongin tidak bisa memfokuskan diri mengikuti pelajaran. Ia sibuk mengetik pesan yang berisi permohonan maaf pada Soojung. Gadis itu sama sekali tidak membalas pesannya, sehingga Jongin terus saja mengirim pesan.From: my JungieNe, aku sudah memaafkanmu, Jong. Jangan kirimi aku pesan terus menerus. Kau tidak memperhatikan pelajaran huh?Jongin hampir bersorak kegirangan ketika akhirnya mendapat balasan dari Soojung. Namun, ia dapat menahan diri. Dengan senyum lebar ia kembali mengetikkan suatu pesan untuk gadis kesayangannya itu. Jongin yakin Soojung akan kesal menerima pesan itu. Tetapi Jongin acuh saja, toh Soojung tidak akan lama marah padanya.“Kau tidak fokus pada pelajaran, dan sekarang tidak fokus pada makananmu, Jong?” Sehun mengomeli Jongin yang kini tengah tersenyum memandang ponselnya. Jongin hanya nyengir tidak menjawab. Jinri segera meraih ponsel Jongin, membuat Jongin sedikit terkejut.“My Jungie? Kau berkirim pesan dengan Soojung, huh?” tanya Jinri. Jongin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.“Sejak kapan Soojung menjadi milikmu, huh?” tanya Sehun sambil menyipitkan matanya begitu mendengar ‘my Jungie’.“Paling tidak sebentar lagi dia akan jadi milikku,” jawab Jongin acuh. Sehun membeku. Ia sebenarnya sudah menyadari perasaan Jongin pada Soojung sejak lama. Tetapi entah mengapa sejak kemarin ia merasa aneh. Entahlah Sehun sendiri bingung dengan dirinya.“Jongiiiin,” suara seorang gadis membuyarkan lamunan Sehun walau bukan dirinyalah yang dipanggil.“Kenapa kau ke sini, huh? Bukannya kau selalu bersama dengan Jiyeon dan Eunji, nona Bae?” Jinri bertanya dengan nada sedikit kesal. Suzy, gadis yang baru saja memanggil Jongin hanya mengabaikan Jinri. Ia menggelayutkan tangannya pada lengan Jongin. Jongin cukup risih, beberapa kali ia menatap Jinri dan Sehun untuk minta pertolongan.“Ahh, aku harus ke kelas Minho oppa. Kau temani aku ya, Suzy?” Jinri tiba-tiba mengajak Suzy.“Pergilah sendiri. Aku mau bersama Jongin di sini,” tolak Suzy dengan nada kesalnya.“Ayolah. Soojung tidak berangkat hari ini. Tidak ada yang bisa kuandalkan selain dirimu,” Jinri berusaha merayu. Namun, Jinri juga sedikit memaksa. Dengan segera Jinri menarik Suzy menjauh dari Jongin. Jongin pun bisa bernapas lega.“Suzy benar-benar mengerikan,” ujar Jongin.“Yah, bersyukurlah masih ada yang mau dengan orang hitam seperti dirimu, Jong,” kata Sehun sedikit terkekeh. Jongin hanya mendengus kesal.“Ayo, kita kembali ke kelas. Istirahat sudah mau selesai,” ajak Sehun kemudian. Jongin terdiam. Ia seperti masih berpikir. Tiba-tiba senyumnya mengembang.“Ahh, kau duluan saja. Perutku sedikit bermasalah. Izinkan diriku, ya jika aku belum kembali ke kelas,” kata Jongin seraya meninggalkan Sehun. Sehun mengernyit heran. Bermasalah? Apa bisa orang yang perutnya bermasalah tersenyum seperti itu?O0OTok…tok…. Tok…tok….Soojung merasa ada yang mengetuk jendela kamarnya. Dengan malas ia mendekat ke arah jeendela. Soojung sedikit terperanjat melihat sesosok manusia di luar jendelanya. Sosok itu tersenyum lebar. Kim Jongin, benar orang itu adalah Kim Jongin. Soojung membuka jendela kamarnya segera. Jongin pun dengan riang melompat dan memasuki kamar Soojung. Soojung hendak mengomel, namun terhenti karena merasa tubuhnya menghangat. Jongin tiba-tiba mendekapnya. Erat, amat erat.“I miss you, so much,” kata Jongin pelan menimbulkan efek geli di telinga Soojung.“Aku susah bernapas, Jong. Lepaskan,” omel Soojung sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Jongin. Dengan sedikit terpaksa Jongin melepaskan pelukannya.“Bukankan pelajaran belum usai, huh?” tanya Soojung sambil menetralkan detak jantungnya. Jantung Soojung cukup berpacu cepat ketika mendapat perlakuan tiba-tiba dari Jongin.“Aku izin untuk dapat menemuimu,” jawab Jongin sambil tersenyum.“Kau sebut bolos itu izin, huh?” tanya Soojung lagi lebih berupa sindiran.“Sudahlah, Jung. Aku tahu kau bosa