Chapter 13 (1/1)

Chapter 13Luhan setengah berlari melewati koridor-koridor panjang antar kelas. Wajahnya menunjukkan kecemasan, bahkan jika disentuh jari-jarinya mulai mendingin. Dia tidak dapat berpikir tenang setelah mendengar obrolan teman sekelasnya.‘Kau tau Jung Soojung?’‘Soojung yang cantik itu?’‘Iya, barusan dia pingsan di lapangan basket’Kilasan-kilasan percakapan teman sekelasnya silih berganti terngiang di otanknya. Tadi kebetulan kelasnya kosong karena sang guru harus bertugas ke luar kota. Alhasil beberapa teman sekelasnya berhamburan untuk bermain di luar kelas. Saat rombongan rekan-rekannya kembali, Luhan malah disuguhi oleh musibah yang dialami Soojung.Luhan sedikit terengah-engah ketika berada di depan pintu UKS. Dia segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah akan kehabisan dalam waktu singkat. Dengan perlahan Luhan membuka pintu UKS. Hawa sejuk AC menyambut kulit putihnya. Luhan sedikit mengamati setiap sudut ruang itu. Kemudian kedua lensanya menangkap sesosok gadis yang masih terbaring lemah. Sejenak Luhan merasa lega. Namun, iya hanya diam di tempat ketika menyadari bahwa telapak tangan gadis cantik itu digenggam oleh seseorang. Luhan tak dapat mengalihkan pandangannya. Ketika tangan gadis itu dikecup, Luhan menyadari bahwa dirinya tengah sulit bernapas.O0OMinho sangat panik ketika melihat darah segar meluncur dari hidung Soojung. Ia lebih panik lagi ketika menyadari Soojung kemudian pingsan. Setengah heboh Minho segera menggotong Soojung menuju ruang UKS. Minho baru bisa sedikit lebih tenang ketika dokter UKS mengatakan bahwa gadis cantik itu baik-baik saja.Ia kini tengah memperhatikan Soojung dengan lembut. Soojung terlihat tenang dan manis ketika tertidur, seperti malaikat. Yah, Soojung memang malaikatnya sejak dulu. Malaikat kecil yang kini menjelma sebagai bidadari di hatinya. Minho sedikit mengulas senyumnya. Diusapnya dengan lembut pipi Soojung.“Mianhae, Princess,” ujar Minho pelan. Ia tak sanggup melihat Soojungnya terbaring lemah.Perlahan Minho menggenggam tangan Soojung yang jauh lebih kecil darinya. Sejenak Minho tersenyum. Kemudian perlahan dengan penuh perasaan Minho mengecup tangan Soojung.“Hyung, kenapa kau menghalangi jalan sih?” omel seseorang membuat Minho sedikit terperanjat. Segera dia lepaskan genggaman tangannya dari tangan Soojung. Minho kemudian beralih menghadap pintu UKS.O0OSehun dan Jinri sedikit bosan. Suasana kelas sangat ramai. Beberapa guru memang harus bertugas ke luar kota termasuk guru yang mengajar di kelas mereka. Sebenarnya Sehun dan Jinri cukup senang tidak harus mengikuti pelajaran. Namun, tanpa Jongin dan Soojung rasanya sepi. Biasanya mereka akan ngobrol berermpat, dan sekarang hanya berdua saja.“Ya, Jinri-ah. Kudengar kakakmu tadi tak sengaja melempar bola kea rah Soojung. Dan sekarang Soojung pingsan,” heboh seorang rekan sekelas Jinri dan Sehun. Meski Jinri yang dipanggil, namun mendengar Soojung disebut juga membuat Sehun menegang. Soojung pingsan? Pingsan? Sehun berusaha untuk mencerna perkataan temannya.“Mwo?!” seru Jinri setengah terkejut.“Di mana mereka sekarang?” tanya Sehun lebih cepat merespon.“Tadi kulihat Minho sunbae membawanya ke UKS,” jawab anak itu lagi. Sehun segera beranjak dan berjalan cukup cepat.Jinri cukup heran melihat respon Sehun yang sangat cepat ini. Bahkan Sehun sama sekali tidak mengajak Jinri untuk pergi bersamanya.“Ya, Choi Jinri, bisakah lebih cepat sedikit,” omel Sehun membuat Jinri sedikit tersentak. Dia pikir Sehun tidak sadar akan keberadaannya.“Tenanglah, Sehunnie. Ada Minho oppa, Soojung pasti baik-baik saja,” kata Jinri dengan senyumnya berusaha menenangkan Sehun.“Sahabatmu pingsan kau masih bisa tenang? Aiiish, apa sih yang sebenarnya dilakukan kakakmu itu? Bagaimana bisa ia me