Chapter 10 (1/1)

Chapter 10Soojung dan Jongin kini tengah mengintip dan menguping kedua sahabat mereka yang tengah bicara serius. Soojung kemudian menyunggingkan senyumnya saat kedua insan itu berpelukan. Semua yang dilihatnya memang cukup menyayat hatinya, namun ia bahagia. Ia bahagia jika Jinri bahagia. Ia lebih bahagia lagi melihat Sehun bahagia.Jongin mengamati ada kelegaan tersirat pada wajah Soojung. Ia menatap intens raut muka Soojung yang terlihat seperti telah merelakan sesuatu. Tetapi Jongin tidak tahu. Ia sendiri bingung darimana dapat pikiran macam itu.“Kaja pulang,” ajak Soojung akhirnya. Jongin sedikit menarik lengan Soojung untuk menghentikan langkah gadis itu.“Ayo kita jalan-jalan dulu,” ajak Jongin dengan wajah penuh harap.“Apakah ini ajakan date?” tanya Soojung sambil tertawa jahil.“Kalau hanya berdua maka bisa disebut date,” jawab Jongin sambil menyeringai.“Baiklah,” kata Soojung acuh. Walau terlihat acuh, namun persetujuan dari Soojung membuat Jongin tersenyum lebar. Ia segera menggandeng Soojung dan mengajaknya segera pergi dari sekolah.Mereka cukup senang menghabiskan waktu berkeliling di pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi. Beberapa kali mereka iseng mencoba beberapa accesoris, baju, dan perlengkapan lainnya untuk sekedar bergurau. Soojung cukup menikmati hari yang ia habiskan bersama Jongin. Entah mengapa sakit akibat sayatan pada hatinya kini terasa samar. Mungkin karena Kim Jongin yang selalu bisa menjadi moodboster-nya.Jongin beberapa kali mengamati senyum bahagia milik Soojung. Ia tak dapat berhenti tersenyum jika gadis itu tersenyum. Semua tingkah Soojung yang lucu dan menggemaskan terekam dalam memori otaknya. Perlahan ia merasakan detak jantungnya saat senyum Soojung ditunjukkan padanya. Hatinya berdesir. Dan jantungnya berpacu cepat. Jongin kini mengakui ia telah terjatuh pada pesona milik Jung Soojung.Soojung dan Jongin mengistirahatkan diri mereka di sebuah café. Jongin menikmati Americano miliknya. Sedang Soojung menikmati es krim srowberry-vanilla miliknya. Jongin memperhatikan Soojung yang fokus menyantap es krimnya. Seulas senyum terpampang pada wajah tampannya. Jung Soojung yang pendiam dan kalem di sekolah, bahkan terkesan dingin terlihat begitu menggemaskan ketika bertemu dengan es krim. Dan juga jangan melewatkan ekspresinya saat melihat es krim tersaji dihadapannya. Matanya akan segera berbinar, senyum senang tercetak pada wajah cantiknya, dan juga raut polos khas anak-anak. Jongin benar-benar menahan diri untuk tidak mencubit pipi Soojung saat itu.“Berhenti menatapku seolah ingin memakanku, Kim Jongin,” intrupsi Soojung membuat Jongin tersenyum kikuk.“Aku memang ingin memakanmu,” goda Jongin. Soojung mendengus kesal, yang justru membuat Jongin terkikik.“Kau ini seperti anak kecil, makan saja belepotan,” Jongin berkata seraya membersihkan bibir Soojung dengan jarinya. Sejenak saat jemari Jongin menyentuh bibirnya, Soojung merasa perutnya mulas. Seperti ada sesuatu yang mengusik perutnya.“Es krim mu manis,” Jongin menjilati jarinya membuat Soojung terperangah. Dan ‘Plak’. Soojung memukul keras kepala Jongin.“Jangan lakukan itu lagi, Kkamjong,” gerutu Soojung tanpa mempedulikan Jongin yang mengaduh kesakitan.“Itu menjijikkan, Jong. Dan lagi kau tahu jika kau melakukan seperti tadi maka tanpa kita sadari telah melakukan ci….,” Soojung menghentikan omelannya. Ia baru saja menyadari kesalahan bodoh yang baru saja ia lakukan.“Ciuman tidak langsung maksudmu?” tanya Jongin dengan cengiran lebarnya. Wajah Soojung memanas saat Jongin memperjelas apa yang tadi akan ia ucapkan.“Bo-bodoh,” gumam Soojung sambil beranjak dari duduknya.“Ya, Soojungie, kau belum menghabiskan es krim mu,” panggil Jongin. ‘Bodoh, bodoh, bodoh’ rutuk Soojung dalam hati lalu mempercepat langkahnya.Jongin tersenyum melihat Soojung yang salah tingkah. Ia menghirup oksigen banyak-banyak kemudian berjalan cepat menghampiri gadis yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil itu.O0OSehun bersiul gembira. Dengan langkah ceria ia memasuki rumahnya.“Hyung!” seru Sehun agak keras mencari keberadaan sang kakak yang sepertinya sudah pulang.“Sehun, sudah Eomma bilang jangan teriak di dalam rumah,” omel ibunya. Sehun segera mengatupkan mulutnya. Tanpa permisi dan menyapa sang ibu Sehun segera menaiki lantai 2 dan berhambur ke kamar kakaknya.Sehun memasuki kamar yang ukurannya sama dengan kamar miliknya. Hanya design dan interiornya saja yang berbeda. Dan lagi di kamar Luhan ada sebuah ruang kecil yang diberi sekat dengan tripleks. Luhan sendiri yang menambahkannya. Luhan tidak pernah mengijinkan siapapun memasuki ruang yang selalu terkunci rapat itu. Namun, kali ini berbeda, pintu ruangan tadi sedikit terbuka. Sehun penasaran sekali dengan isi ruangan itu. Dengan tampang jahilnya ia memasuki ruangan itu perlahan.Ruang ini terkesan sempit. Bahkan pasokan udara dan cahaya sangat minim. Terdapat lampu remang-remang menerangi ruang itu. Sehun mengamati sesaat ruang yang dipenuhi oleh lembaran-lembaran f