Chapter 9 (1/1)

Chapter 9Soojung menjalani rutinitasnya seperti biasa. Bangun pagi, sarapan, dan mengikuti pelajaran di sekolah. Seperti hari ini, semuanya normal. Sangat normal. Tetapi ada yang terus mengusiknya hingga kini. Jinri yang tidak berangkat bersama dengan mereka. Sehun yang mendadak pendiam. Jongin? Yah, hanya dia yang bersikap wajar, seperti Kim Jongin pada umumnya.Soojung tampak tidak berkonsentrasi mengikuti pelajaran di kelas. Sesekali ia melirik teman sebangkunya, Jinri. Jinri tampak serius memperhatikan penjelasan guru. Yah, setidaknya itu yang terlihat. Karena tatapan Jinri terlihat kosong. Tidak ada celotehan Jinri yang mengganggu Soojung. Biasanya ia akan terus menanyakan kapan bel istirahat, kapan bel pulang, bahkan mencoba bergosip dengan Soojung. Soojung menghembuskan napasnya pelan. Ia tidak suka. Sungguh ia tidak suka atmosfer seperti ini.Keheranan Soojung semakin bertambah tatkala Jinri menghilang begitu saja saat istirahat. Sehun? Dia bilang tidak enak badan dan ingin tiduran di UKS. Kini Soojung harus rela menikmati makan siangnya dengan Jongin. Hanya dengan Jongin. Soojung tiba-tiba tidak menyukai suasana kantin yang cukup ramai. Ia juga menatap tidak suka ke arah namja di hadapannya. Jongin dengan tenang dan cukup lahap fokus pada makan siangnya. Tidak tahukah jika banyak hal aneh terjadi sekarang?“Kau tidak makan, Soojung?” tanya Jongin saat Soojung tengah menatapnya. Soojung hanya menggelengkan kepalanya. Jongin diam saja tidak bertanya lagi maupun memberi tanggapan. Baiklah, Kim Jongin memang tidak peka.“Kau bisa makan dengan tenang sedangkan banyak hal aneh terjadi di sini?” Soojung bertanya dengan nada menyindir. Jongin menatapnya tidak mengerti. Sungguh, Soojung ingin sekali menelan bulat-bulat Jongin yang masih tidak peka terhadap sekitarnya.“Jooongiiiiin,” panggil Suzy entah dari mana langsung duduk di sebelah Jongin. Dia tidak sendiri, namun ditemani Jiyeon dan Eunji yang memposisikan diri di sebrangnya.“Aku boleh bergabung kan? Sekali-sekali aku ingin makan siang denganmu Jongin,” tanya Suzy sambil menunjukkan senyum manisnya. Jongin hanya mengangguk ragu kemudian melirik sekilas Soojung yang menatap Suzy kesal.Soojung kesal? Kesal pada Suzy? Jongin senang mendapati Soojung kini kesal. Jongin pikir kesal artinya cemburu. Setidaknya itu definisi yang pernah diajarkan Taemin padanya. Jongin tersenyum merencanakan sesuatu.“Tentu saja, Suzy,” jawab Jongin sambil memasang senyumnya yang mempesona. Suzy menatap Jongin senang.Soojung tak habis pikir kenapa Jongin mau menerima Suzy untuk makan siang bersama mereka. Ahh, dan bersama si Jiyeon yang berlidah tajam, Soojung tidak suka. Kemudian Eunji? Baiklah, hanya dia yang tidak menyebalkan bagi Soojung. Soojung cemburu? Tidak, tentu tidak. Soojung hanya tidak suka pada gadis yang hobi cari muka seperi Suzy dan rekan-rekannya.“Aku selesai, aku mau cari Jinri dulu,” pamit Soojung.“Ahh, aku juga harus melihat keadaan Sehun dulu,” kata Jongin yang juga beranjak dari tempatnya. Suzy mendengus kesal. Sebegitu susahkah menarik perhatian Kim Jongin?O0OSoojung berkeliling hingga sampai di atap sekolah. Dia berharap menemukan Jinri di sana seperti kejadian sebelumnya. Namun, yang ditemukan bukan Jinri melainkan Sehun. Soojung dapat melihat bahwa pemuda itu tengah melamun hingga tidak menyadari keberadaannya di sana.“Bukannya tadi mau beristirahat di UKS?” Soojung memberanikan diri membuka suara dengan pertanyaan pada pemuda berkulit putih itu. Sehun menoleh kaget mendengar suara yang sangat dikenalinya.“Tadi aku melihat Jinri di sana, jadi aku mencari tempat lain,” jawab Sehun seraya tersenyum. Soojung mengernyit heran. Di dekatinya Sehun, dicari letak kegusaran pemuda itu.“Kau menghindari Jinri?” tanya Soojung lagi.“Ani, dia yang menghindariku,” jawab Sehun kalem. Suasana berubah hening. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka suara kembali. Soojung menikmati angin yang menerpa wajahnya lembut sambil menutup matanya.“Aku telah mengatakannya,” Sehun nmembuat Soojung terhenyak oleh kata-katanya. Dengan penasaran Soojung menatap kembali sahabatnya itu.“Aku mengatakan perasaanku pada Jinri,” tambah Sehun.“Itulah yang membuatnya menghindariku,” lanjutnya lalu mengalihkan pandangannya. Sehun tahu Soojung mudah khawatir padanya. Jadi, ia tidak ingin gadis itu melihatnya bersedih.“Syukurlah,” Soojung menanggapi dengan helaan napasnya.“Paling tidak perasaanmu kini lebih baik,” tambah Soojung sambil tersenyum. Senyum dari Soojung membuat Sehun ikut tersenyum. Benar kata kakaknya, benar kata Jongin, Soojung punya senyum yang menular.“Tetapi sepertinya aku harus menyerah, Jungie. Aku tak ingin persahabatan kita rusak gara-gara perasaanku pad