Chapter 7 (1/1)
Chapter 7“Terima kasih telah mengantarkan Jinri sampai di rumah,” kata Minho yang tengah mengantar Soojung, Sehun, dan Jongin ke depan rumah untuk pulang.“Ne, Oppa, sama-sama,” balas Soojung sambil tersenyum tipis. Tanpa basa-basi ketiga sahabat Jinri ini pulang ke rumah mereka masing-masing.Setelah menutup pintu, Minho kembali ke kamarnya. Saat menuju kamarnya, Minho berhenti sejenak d depan kamar Jinri. Masih terekam jelas pada memorinya bagaimana sang adik datang bersama para sahabatnya dengan mata merah, wajah sedih, dan tampilan yang berantakan. Apa yang salah dengan adik kesayangannya itu? Minho benar-benar tidak dapat menerkanya. Minho menghembuskan napasnya pelan kemudian kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar ternyamannya.O0OMalam semakin larut, dan cuaca malam pun semakin dingin. Namun, dinginnya angin malam tidak mengurungkan niat Jinri untuk terus menatap langit malam dari beranda rumahnya. Mata kelam Jinri masih menunjukkan kesedihan yang mendalam, hanya saja sudah tidak ada lagi air mata yang menetes dari sana. Jinri sudah lebih tenang, walau hatinya masih sakit.Jinri merasakan kehangatan tiba-tiba saat selimut cukup tebal bertengger di bahunya. Dia menoleh melihat si pemberi selimut. Ternyata itu adalah kakak terseyangnya, Choi Minho. Dalam diam Jinri tersenyum seolah berterima kasih pada sang kakak. Minho pun membalas Jinri dengan senyumnya yang menenangkan. Keduanya kini larut menatap langit malam yang kelam.“Aku sudah tahu,” ujar Jinri memecah keheningan di antara mereka. Minho menatap adiknya dengan pandangan penuh tanya.“Aku sudah tahu hubungan Taemin Oppa dan Naeun Sunbae,” lanjut Jinri tenang tanpa mengalihkan pandangan pada Minho. Minho cukup terkejut mendengar pengakuan Jinri.“Kenapa Oppa menyembunyikan kenyataan ini dariku?” tanya Jinri tanpa mengubah posisinya. Minho hanya diam. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar bersuara.“Aku tidak ingin menyakitimu, Jinri-ah,” jawab Minho sambil menundukkan kepalanya.“Aku baik-baik saja, Oppa. Sungguh,” kata Jinri berucap sambil menggenggam tangan Minho dan menatap kakaknya itu. Minho melihat kesungguhan pada kedua mata Jinri, walau kepedihan masih terukir jelas di sana.“Aku bisa mengatasinya dengan baik. Yah, walau…,” Jinri mengambil jeda untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Walau aku akui hatiku sakit,” lanjutnya. Minho menatap khawatir ke arah Jinri. Jinri tersenyum mencoba mengurangi kekhawatiran Minho.“Aku tahu kalau kau gadis yang kuat,” kata Minho akhirnya mencoba percaya kalau adiknya baik-baik saja. Keduanya lantas tersenyum.“Ku harap Oppa tidak menyembunyikan apapun lagi dariku,” pinta Jinri.“Tentu,” sahut Minho sambil menganggukkan kepalanya.“Termasuk tentang perasaan Oppa tentunya,” lanjut Jinri membuat Minho menatapnya heran.Jinri memutar bola matanya malas seraya berujar, “Ayolah Oppa, aku tahu bagaimana perasaanmu pada sahabatku.”“A-aku tidak, sa-sahabat yang mana maksudmu?” tanya Minho tak mengerti“Soojung, siapa lagi memangnya?” tanya Jinri kini dengan tatapan jahilnya.“Aku tidak ada perasaan apa-apa pada Soojung, Jinri. Sungguh,” kata Minho berusaha mengelak.“Perhatianmu pada Soojung selama ini menunjukkannya, Oppa,” ucap Jinri membuat sang kakak menatapnya kosong. Minho berpikir sejenak atas ucapan Jinri tadi. Ia menyukai Soojung? Soojung sahabat adiknya? Soojung tetangganya? Benarkah ia menyukai Soojung?“Sudahlah, Oppa. Akui saja,” kata Jinri membuat hati Minho semakin galau.“Jika kau tidak menyukainya, kurasa itu kabar baik untuk Jongin,” kata Jinri lagi saat tidak mendapat respon. Kabar baik untuk Jongin? Kenapa? Apa Jongin menyukai Soojung? Sungguh Minho benci kenyataan itu.Jinri menyeringai saat Minho menatapnya penasaran. “Dan kurasa mereka pasangan yang serasi,” lanjut Jinri sambil tersenyum lebar ke arah Minho. Minho membulatkan matanya. Pasangan? Tidak, ini tidak benar. Minho benar-benar tidak menyukai gagasan bahwa Jongin dan Soojung adalah pasangan serasi.O0OJinri menyantap makan siangnya dengan penuh selera. Bahkan ia menyuapkan nasi dengan begitu cepat, seolah takut jatah makannya di ambil orang lain. Ketiga sahabat yang setia menemaninya makan hanya menatap heran ke arahnya. Yah, mereka sedikit khawatir akan keadaan Jinri.“Kalian tidak makan?” tanya Jinri sambil menatap ketiga sahabatnya yang masih fokus memandanginya. Yah, dapat dilihat bahwa makanan mereka tidak tersentuh sama sekali. Tanpa aba-aba ketiganya segera menyuapkan makan siang mereka ke mulut masing-masing, dengan catatan masih memandangi Jinri.“Makanlah pelan-pelan, Jinri,” akhirnya Soojung buka suara.“Hah, makanannya enak, Soojung-ah. Jadi, aku tak sabar menghabiskannya,” ba