Chapter 5 (1/1)
Chapter 5Minho menatap ponselnya dengan gelisah. Sesekali ia memutar-putar ponselnya, kemudian menyalakan dan mematikan kembali ponselnya. Biasanya dia segera mendapat balasan dari pesan singkatnya, tetapi dari tadi ponselnya tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pesan masuk.“Oppa, oppa!” seru Jinri tiba-tiba sambil membuka pintu kamar Minho. Minho yang mendapatkan serangan dari sang adik terperanjat kaget, hampir saja ia melemparkan ponsel yang kini berada dalam genggamannya.“Ya, Choi Jinri tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu,” cecar Minho kesal. Jinri diam saja. Aura cukup menyeramkan terpancar dari wajah manisnya. O-oh, sepertinya dia sedang marah padamu Choi Minho. Minho menelan salivanya kasar.“Ya-ya, kenapa kau menatapku seperti itu, huh,” kata Minho sambil menyembunyikan ketakutannya pada adik kecilnya ini.“Ya, Choi Minho, mata katak, pangeran katak yang tidak punya putri, dinosaurus, kau kan yang memakan habis chesse cake- ku,” seru Jinri menggebu penuh marah. Minho mengernyitkan dahinya. Chesse cake? Chesse cake siapa? Ah, Minho ingat sekarang.“A-ah, kue itu. Tadi pulang sekolah aku kelaparan dan mencari makanan. Eh, menemukan chesse cake di kulkas, jadi kumakan saja,” kata Minho sambil nyengir lebar. Sontak Jinri memukul-mukul Minho dengan bantal.“Ya, Jinri-ah, berhenti,” kata Minho sambil menghindari pukulan-pukulan mematikan dari dongsaengnya. Jinri berhenti memukul. Oke, Minho dapat bernapas lega sekarang. Namun itu tak bertahan lama, karena tiba-tiba muka Jinri memerah dan matanya berkaca-kaca. Oke, sepertinya Jinri akan menangis kali ini. Minho menatap panik adiknya yang hampir menangis.“Yah, jangan menangis Jinri, jangan menangis,” bujuk Minho. Namun, sepertinya bujukan Minho tidak mempan.“Baiklah, baiklah, aku akan menggantinya. Aku akan membelikanmu cheese cake yang baru, dengan ukuran yang sama,” bujuk Minho lagi. Nah, raut muka Jinri yang tadinya mendung kini berubah cerah.“Benar Oppa? Janji?” tanya Jinri dengan senyum lebar. Minho hanya mengangguk pasrah namun lega. Jinri bersorak riang. Minho menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik yang kekanakan.Ting. Ponsel milik Minho berbunyi menandakan ada pesan masuk. Tertera di sana ada pesan dari ‘Princess Jungie’. Minho seketika tersenyum senang melihatnya. Jinri menatap kakak satu-satunya itu dengan heran. Seharusnya kakaknya sedih mengingat kenyataan bahwa harus mengganti cheese cake miliknya. Nah, sekarang Minho malah tersenyum bahagia. ‘Apa karena pesan masuk barusan?’ pikir Jinri. Namun beberapa saat selanjutnya, Minho terlihat muram. Oke, cepat sekali ekspresinya berubah, dan ini membuat Jinri heran. Jinri mengangkat bahunya acuh. Itu bukan urusannya, yang penting ia bisa mendapatkan chesse cakenya kembali. Tanpa memperdulikan sang kakak yang masih mematung dengan tatapan kosongnya, Jinri meninggalkan kamar milik sang kakak. Jinri benar-benar adik yang durhaka, bukan?O0OJongin membuka buku sambil merutuki nasibnya yang terbilang sial. Kini ia tengah berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya. Yah, sebenarnya itu bukan tugas melainkan hukuman. Yup, semalam Jongin benar-benar tidak mengerjakan tugasnya (walau sudah diingatkan Soojung). Selepas pulang dari rumah Soojung, Jongin langsung tidur dengan pulas saking senangnya telah berhasil berbuat jahil. Sepertinya Jongin benar-benar kena karma. Tadi dia harus rela berdiri di pojok kelas selama pelajaran berlangsung, sekarang dia harus menyelesaikan tugas yang ia lalaikan. Masalahnya, tugasnya kini bertambah tiga kali lipat. Jongin benar-benar harus melakukan ritual penebusan dosa.“Kapan kau selesai, Jong?” tanya Sehun yang duduk di hadapan Jongin.“Aku sudah lapar,” omel Sehun.“Hiish, sabarlah sedikit, sebentar lagi juga selesai,” balas Jongin. Tadinya Jongin ingin Sehun membantunya. Namun bukannya membantu, sahabat kecilnya itu malah mengomel bahwa dirinya kelaparan. Sehun mendengus kesal. Seharusnya tadi dia pergi ke kantin bersama Soojung dan Jinri bukannya di perpustakaan melihat sahabatnya ini menyelesaikan hukumannya.“Dasar, kau harusnya berterima kasih karena aku mau menemanimu di sini,” omel Sehun lagi.“Lagi pula kenapa kau bisa lupa mengerjakannya, sih?” lanjut Sehun, kini lebih ke pertanyaan. Jongin meletakkan pulpennya keras, sahabatnya ini sungguh berisik.“Kau bisa diam tidak, Oh Sehun. Aku tidak akan jadi mentraktirmu makan sepuasnya jika kau terus mengoceh,” ancam Jongin.Oke, ancaman Jongin membuat Sehun bungkam. Jongin menghela napas kasar dan kembali berkutat dengan tugasnya. Namun, sebenarnya Sehun bungkam bukan karena ancaman dari Jongin. Ia kini telah berpikir keras atas ancaman Jongin barusan. Benar, Jongin akan mentraktirnya. Ini kesempatan emas, Sehun bisa makan sepuasnya hari ini. Memikirkan itu, seringaian Sehun pun muncul. Jongin yang merasa tidak beres dengan ke-bungkaman Sehun mengalihkan perhatiannya dari tugas yang sedang diselesaikannya. Sehun kini tengah menatapnya dengan senyuman manisnya- ala Oh Sehun. Tetapi bagi Jongin itu bukanlah senyuman manis. Bagi Jongin itu adalah pertanda bahwa kesialannya akan berlanjut setelah ini. ‘Kau akan segera jatuh miskin Kim Jongin,’ gumamnya pasrah.O0OSoojung dan Jinri kini tengah menikmati santap siang di kantin sekolah mereka. Mereka harus rela hanya makan siang berdua karena Jongin kini sedang meyelesaikan masa hukumannya. Sedang Sehun, dia harus rela menemani Jongin. Soojung benar-benar tak habis pikir kenapa pemuda berkulit tan itu bisa tidak men