Chapter 4 (1/1)
Chapter 4“Kau senang sekali menyendiri di tempat seperti ini, bocah,” kata seseorang membuyarkan lamunan Sehun. Sehun mendongak dan menatap sosok di hadapannya. Sosok itu lantas tersenyum manis ke arah Sehun. Seolah tertular dengan senyumnya, Sehun hanya membalas dengan tersenyum balik.“Hhh… Bagaimana bisa kau bertahan di cuaca dingin yang mampu menggerogoti tulang ini,” ujar sosok itu lagi seraya menggosok-gosokkan tangannya sekedar memperoleh sedikit kehangatan.“Hiish.. Jika tak tahan dengan cuaca dingin, seharusnya kau tidak usah kemari nona Jung,” kata Sehun sambil memutar bola matanya. Sosok yang merupakan putri tunggal keluarga Jung alias Jung Soojung menanggapi perkataan Sehun tadi dengan cengiran lebarnya.“Hhh.. Bisakah kau berhenti memanggilku bocah? Itu terdengar kekanakan sekali Ice Princess,” oceh Sehun kemudian yang tidak terima atas panggilan Soojung tadi. Siapa yang mau dipanggil bocah oleh gadis yang bahkan lahir di tahun yang sama dengannya. Sehun lebih tidak terima lagi karena mengingat kenyataan bahwa dirinya lahir lebih dulu dalam beberapa bulan dari Soojung.“Aku tidak akan memanggilmu bocah lagi saat kau juga berhenti memanggilku Ice Princess, Sehunnie,” kata Soojung menanggapinya acuh.“Bahkan Sehunnie terdengar lebih kekanakan,” protes Sehun tanpa menggubris tanggapan dari Soojung. Soojung hanya tersenyum melihat sahabatnya ini. Berbeda dengan Jongin, Sehun memang sering bersikap seperti anak kecil.“Haah.. Sudahlah, tidak akan ada habisnya jika membahas panggilan kita satu sama lain,” ujar Soojung mengalihkan arah pembicaraan. Sehun hanya mengangguk setuju.“Jadi, apa yang membuatmu di malam yang dingin seperti ini melamun sendirian, Tuan Oh?” tanya Soojung akhirnya.“Tidak ada apa-apa,” jawab Sehun pelan.“Jangan berbohong Oh Sehun. Aku sudah mengenalmu sejak kecil, jadi tahu jika ada sesuatu yang tidak beres padamu,” kata Soojung menyelidik. Sehun membuang nafasnya pelan.“Ceritalah, aku akan mendengarkan dengan baik,” kata Soojung sambil tersenyum lembut pada Sehun. Sehun memandang senyum gadis cantik bersurai gelap itu. Senyum Soojung memang begitu menenangkan, hanya saja ia jarang menunjukkannya pada orang yang tidak dikenalnya dengan baik.Setelah menimbang-nimbang dalam hati, Sehun memberanikan diri mencurahkan kegundahannya pada Soojung. Tentang Jinri, Taemin, bahkan yang dilihatnya tadi selepas makan malam di rumah Soojung. Seperti anak kecil yang sedang dibacakan dongeng sebelum tidur, Soojung mendengarkan Sehun dengan antusias.“Jadi, karena itu kau sendirian di sini dan melamun?” tanya Soojung setelah Sehun selesai bercerita. Sehun menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Soojung. Kemudian Soojung menghela nafasnya, sedikit kesal, mungkin.“Dengar ya, Sehunnie…,”.“Jangan panggil Sehunnie,” potong Sehun cepat. Soojung memutar kedua bola matanya kesal. Dia heran, bukannya tadi Sehun sedang galau, gundah, dan gulana? Bisa-bisanya dia sempat protes pada teman curhatnya ini?“Aiiish.. Baiklah, baiklah,” kata Soojung mengalah“Dengar ya, tuan O-H S-E-H-U-N,” kata Soojung kemudian sambil menekan nama “OH SEHUN”. Ya, kemudian Sehun tersenyum karena Soojung mengalah pada akhirnya (-,-).“Berhentilah berpikiran sempit dan aneh-aneh,” lanjut Soojung kemudian mengambil napas dan mulai merangkai kata yang kira-kira akan mudah dicerna oleh Sehun.“Kau tahu kan bagaimana Taemin Oppa? Dia selalu baik pada semua orang. Wajar jika ia mentraktir Jinri es krim, Jinri kan sudah membantunya. Aku juga dulu ditraktirnya spagetty saat membantu mengerjakan essai Bahasa Inggrisnya. Yah, Taemin Oppa memang kelewat baik,” jelas Soojung.“Tetapi kau tidak boleh menyalahkan Jinri. Kau tahu sendiri kalau Jinri dari dulu memang mengagumi Taemin Oppa. Kurasa wajar jika kini dia lebih intens memperhatikan Taemin Oppa,” lanjut Soojung. Dan pernyataan terakhir Soojung sukses membuat Sehun kembali murung.“Tetapi itu bukan alasan untuk menyerah Sehun. Jinri memang menyukai Taemin Oppa, tetapi Taemin Oppa tidak. Jadi masih ada kesempatan untukmu mendapatkan hatinya, mengerti,” tambah Soojung seperti sedang menasehati bocah sekolah dasar. Nah, pernyataan yang satu ini membuat Sehun tersenyum cerah. Sayang, itu tak bertahan lama, Sehun kembali memperlihatkan wajahnya yang sesuram langit malam tanpa bintang. Soojung mengernyit heran melihat ekspresi sahabatnya yang cepat sekali berubah.“Tetapi Jinri pernah bilang bahwa dia tidak setuju kalau sahabat jadi cinta Soojungie,” kata Sehun pelan dengan tatapan sendu. Soojung menghela nafasnya kembali.“Cobalah sekali lagi Sehun. Tidak ada hal yang mustahil, bukan? Mungkin saja kelak dia akan akan jatuh hati padamu,” kata Soojung seraya tersenyum lembut dan manis. Sehun tersenyum menanggapi Soojung.“Kau memang sahabatku yang paling baik Soojungie,” kata Sehun tanpa menghapus senyumnya membuat senyum Soojung melebar.“Yah, walaupun kau galak sekali, tetapi kau mempunyai banyak sisi baik yang menonjol,” tambah Sehun yang kemudian dihadiahi pukulan keras oleh Soojung.“Ya, appo,” rintih Sehun.“Kau pintar merusak suasana, Oh sehun,” cibir Soojung kemudian. Namun, detik berikutnya mereka saling tertawa dan melempar ejekan dan cibiran. Entah mengapa malam jadi hangat bagi Sehun dan Soojung.O0OEsoknya ketujuh muda-mudi yang saling bertetangga kembali harus melanjutkan aktivitas di sekolah. Kali ini mereka tidak berangkat bersama seperti sebelumnya. Luhan, Minho, dan Taemin yang notabene merupakan siswa kelas 3, harus mengikuti pelajaran tambahan pagi yang dimulai hari ini. Luhan terpaksa diangkut oleh Minho, sedang Taemin berangkat sendiri dengan motor sportnya. Karena ketiga senior ini berangkat terlebih dahulu, Soojung, Jinri, dan Jongin, harus rela menjadi penumpang Sehun.“Kalian tahu, kemarin adalah hari yang p