Dirty Little Secret (Part (1/1)
Steve dan aku telah bersama selama hampir separuh usia kami. Dia pria yang baik, bahkan sampai saat ini. Tidak heran mengapa ketika dia meminangku hampir dua puluh tahun yang lalu, aku segera mengiyakan tanpa pikir panjang. Tidak ada masalah yang tergolong besar di kehidupan pernikahan kami, kecuali perbedaan culture. Namun kami bisa mengatasinya dengan baik karena tenggang rasa kami yang tinggi. Singkatnya, hidupku hampir sempurna. Memiliki suami impian, karir yang cemerlang, dan seorang putera tampan kesayangan kami.Satu yang ku sayangkan sejauh ini, Steve kurang bisa melayaniku di ranjang. Dia tidak bisa menyeimbangi ritmeku yang penuh gejolak. Meski di usia akhir tiga puluhan, semangatku masih sama layaknya gadis-gadis muda di luaran sana. Aku tidak tahu apa yang menimpaku hingga selalu menginginkan kepuasan fisik, hampir setiap waktu. Dengan pekerjaan Steve yang mengharuskannya ke luar kota cukup sering, hal ini benar-benar mengganggu dan membuatku frustasi.Pada akhirnya aku memutuskan membeli beberapa barang, yang setidaknya mampu mengurangi rasa frustasi seksualku. Dan itu telah berlangsung cukup lama hingga membuatku ketagihan. Katakanlah hampir semua jenis sex toys pernah ku coba. Salahkan Steve yang tidak bisa memberikanku apa yang ku inginkan. Tiap kami bermain, dia hanya bisa bertahan hingga satu ronde saja. Setelah itu terkapar dengan terus-terusan menyebut kata lelah. Sangat menjengkelkan bagiku yang masih turn on.Tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya tanpa Steve, yang saat ini pergi ke Jacksonville untuk melakukan survey barang di tempat distributor, aku melakukan kegiatan panasku lagi seorang diri.Bukankah menyedihkan? Aku memiliki suami, namun untuk menuntaskan libido harus mengandalkan penis buatan dan benda lain yang ku beli. Bekerja dengan tangan sendiri dalam mencari kepuasan. Aku tidak bisa sesukanya mengeluh karena masalah ini. Steve memang sedikit buruk di ranjang, tapi setidaknya, dia masih tetap menjadi si gentleman yang ku sukai. Karenanya,