Just a Feeling (1/1)

SinRin Fics mydaisy309 47030K 2023-11-02

Sekotak susu coklat untuk mencerahkan pagimu hari ini ^^P.S : Kau cantik mengenakan pita warna pink itu. Ah tidak, coret itu. Kau selalu cantik sepanjang waktu.

Yerin menatap sekotak susu coklat yang ia ambil dari lokernya. Pesan baru, hadiah baru. Dia telah menerima perlakuan semacam ini sejak dua minggu yang lalu. Seorang stranger, tanpa identitas, selalu mengiriminya hadiah dan pesan berbeda setiap hari. Di awal, dia memang terkejut, bahkan panik. Seseorang membuka lokernya dengan sembarangan. Selain itu, dia juga heran mengapa ada orang yang melakukan hal konyol seperti ini.Maksud Yerin, dia bukanlah gadis populer yang memiliki banyak fans di sekolah. Dia hanya gadis biasa, dan hanya diketahui oleh teman-teman kelasnya saja. Yerin ragu, ada seseorang yang mengenalnya selain teman kelas. Bahkan dia sempat berpikir bahwa ini merupakan ulah salah satu temannya. Tetapi dia mengubur pemikiran itu ketika tidak ada seorang pun yang bisa dijadikan tersangka. Semua teman pria Yerin tidak ada yang bisa menuliskan kalimat-kalimat cringe namun manis seperti yang ia terima setiap hari.Karena sudah berlangsung selama dua minggu, slash, empat belas kali, Yerin tidak lagi merasa heboh dan curiga seperti pertama kali. Dia telah terbiasa mendapat hadiah dan pesan dari si misterius. Saking terbiasanya, dia juga sering menambahkan balasan untuk si pengirim. Hanya sekedar mengatakan terimakasih atas hadiah dan pujian yang diberikan. Meski terkadang rasa penasaran mengambil alih dirinya, Yerin masih belum berani menanyakan identitas si pengirim. Mungkin belum saatnya.Menutup loker, Yerin berjalan menuju kelasnya sambil meminum susu coklat dari si misterius. Dia tersenyum tipis. Itu adalah merk susu coklat favoritnya.Bagaimana orang itu tahu?***

Pagi ini Yerin berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya. Sebenarnya dia merasa enggan. Dia bisa menghemat waktu beberapa menit untuk melanjutkan tidur dibanding bersiap-siap bersekolah. Waktu bahkan belum menunjukkan pukul enam tepat. Tetapi dia harus melakukannya mengingat hari ini dia harus membersihkan ruang kelas seorang diri setelah bermain tantangan atau kejujuran bersama teman-teman kelasnya kemarin.Bukankah itu menyebalkan?Yerin bahkan tidak berminat pada permainan semacam itu kalau saja teman dekatnya, Sooyoung dan Hayoung tidak memaksanya untuk ikut. Yerin tahu dia akan menjadi korban di permainan itu. Mengingat betapa polos dan naifnya ia. Tetapi mau bagaimana lagi, tantangan tetaplah tantangan. Ingatkan saja Yerin untuk tidak mengikuti permainan itu lagi kedepannya.Ketika langkah kakinya menuntunnya ke loker untuk meletakkan buku catatan, mata Yerin menangkap seseorang disana. Berdiri memunggunginya, sibuk meletakkan sesuatu di dalam loker. Dahi Yerin mengernyit saat menyadari bahwa loker yang dibuka orang itu merupakan loker miliknya."Hey,"Yerin bergegas mendekati orang itu. Terkejut karena mendengar suara orang lain, tanpa berpikir panjang si pembuka loker melakukan apa yang harus ia lakukan, yaitu kabur. Tetapi malang baginya, tangan Yerin terlebih dahulu menahan bahu orang itu dan menariknya agar menghadapnya."Apa itu kau? Yang setiap hari memberiku hadiah dan pesan berbeda?"Orang itu masih terus menunduk, tidak berani menatap wajah Yerin. Lebih daripada itu, dia mengutuk diri sendiri dan merasa malu karena tertangkap basah. Apa yang akan dia katakan?"Hey, aku berbicara kepadamu."Yerin mengernyit, merasa terganggu karena pria di depannya ini hanya diam saja."Apa kau ingin aku membawamu ke komite kedisiplinan sekolah karena beberapa pekan terakhir mengganggu privasiku dengan cara membuka lokerku secara sembarangan?" ancam Yerin, seketika membuat pria itu mendongak dengan wajah terkejut."Tidak! Ku mohon, jangan.""Jawab pertanyaanku sebelumnya. Apa itu kau?"Pria itu menatap Yerin selama beberapa detik sebelum membuang muka. Dia berdecak sembari mengumpat di dalam hati."Maafkan aku, tetapi bukan aku yang melakukannya. Ini pertama kalinya... seseorang menyuruhku."Kening Yerin makin mengernyit dalam. "Seseorang menyuruhmu? Siapa dia? Tunjukkan padaku siapa dia sekaㅡ""Aku tidak bisa." potong pria itu sebelum Yerin dapat meneruskan kalimatnya."Oh, jadi kau lebih memilih ikut denganku ke komite kedisiplinan sekolah?" tantang Yerin."Tidak. Ku mohon, jangan membawaku kesana. Kartu pelanggaranku masih bersih.""Maka dari itu tunjukkan padaku siapa yang sering mengirimiku hadiah setiap hari."Pria itu mendesah kasar. Mengacak rambutnya, sedikit frustasi. Rasa kesalnya saja masih belum reda karena harus bangun begitu pagi, ditambah dengan hal ini. Kalau saja dia tidak memiliki hutangㅡUgh, lupakan."Okay, aku akan menunjukkannya padamu orang yang menyuruhku ini, tetapi tidak sekarang.""Kenapa tidakㅡ""Dia tidak berangkat hari ini," Lagi-lagi pria itu memotong ucapannya."Namaku Moonbin, dari kelas 1-C. Sepulang sekolah, sunbae bisa menemuiku di depan gerbang sekolah. Aku akan mengantar sunbae menemui orang yang menyuruhku ini. Bagaimana?"Yerin memandang wajah pria bernama Moonbin itu sekali lagi. Menimang-nimang apakah tidak apa memercayai pria asing di depannya itu. Meski pemikiran rasionalnya menyuruh Yerin untuk menolak, tetapi sebagian dari diri Yerin menyerukan untuk setuju. Pada akhirnya, Yerin memilih mengangguk. Membiarkan perasaannya menang.Lagipula, jika pria itu tidak berbohong, dia pada akhirnya dapat menemui si misterius itu, bukan? Tanpa harus bertanya-tanya dan menghapus rasa penasarannya selama ini.***

"....setelah itu substitusikan persamaan 2 dan 3 ke persamaan 1." Eunha menunjuk buku catatan milik Eunbi.Gadis yang lebih muda melirik soal di hadapannya dan Eunha secara bergantian. Menggaruk pelipis menggunakan pensil yang ia pegang sembari mengembuskan napas kalah. Dia menyerah."Aku tidak tahu."Eunha memejamkan mata, mengatur napas dan mengontrol emosinya. Sudah hampir dua jam dia disini, menemani teman yang telah ia anggap sebagai adik, dan mengajarinya pelajaran kelemahan gadis itu, matematika."Empat log x kuadrat minus y kuadrat sama dengan satu per dua dikali satu per a plus 3 per b. Berapa hasilnya?""Itu... dua a plus tiga b per ab?" Suara Eunbi melirih, selain ragu jika jawabannya benar, dia juga takut mendapat amarah Eunha. Biar pun mungil, jika sedang marah, Eunha akan terlihat seperti monster."Tiga a plus b per dua ab! Astaga Hwang Eunbi, mengapa cara kerja otakmu begitu lambat?!" Eunha menunjukkan gestur ingin mencakar wajah gadis di depannya. Dia benar-benar kehilangan kesabaran sekarang. Menyesal Eunha telah menghabiskan dua jam waktu senggangnya ini untuk mengajari si gadis bebal matematika ini."Tidak perlu menghinaku juga! Unnie tahu matematika adalah kelemahanku. Aku lebih baik mempelajari sastra." Eunbi mengerucutkan bibirnya.Tepat pada saat itu, keduanya dikejutkan dengan suara pintu bergeser. Kompak, mereka menoleh menuju sumber bunyi. Jika terkejut luar biasa bisa menewaskan orang, mungkin Eunbi sudah ditemukan tidak bernyawa sekarang.Bagaimana tidak?Di ambang pintu sana, Eunbi melihat seseorang yang dikenalnya, namun tidak mengenalnya, berdiri masih dengan seragam sekolah mereka. Matanya mengerjap, jantung mulai berdisko-ria di dalam sana.Ketika sosok itu melangkahkan kakinya secara mantap, semakin dekat, Eunbi pikir dia nyaris saja tak sadarkan diri.Why would she's here out of nowhere? "Apa itu kau?" Sosok itu bertanya.Eunbi masih terpaku di tempat. Dia bahkan tidak sadar jika Eunha berdiri dan berjalan keluar secara diam-diam. Meninggalkannya bersama seseorang yang tidak pernah ia sangka akan kemari.Meraih tas dan membukanya, sosok itu mencari sesuatu di dalam sana hingga menemukan apa yang ia cari. Sebuah buku catatan berukuran 20 x 15 cm. Dia lalu membuka salah satu halaman dimana terdapat banyak tempelan notes. Kemudian menyodorkannya kepada Eunbi."Kau yang menulis ini, benar?" Dia bertanya lagi.Eunbi melihat hasil tulisan tangannya sembari meneguk ludah meski kesulitan.

Note 1Hello there, pretty

Aku menemukan sebuket bunga yang cantik ketika dalam perjalanan kemari. Tapi meskipun bunga ini cantik, itu tetap tidak bisa menandingi kecantikanmu. Semoga kau suka ^^Note 2Apa kau suka bunga yang kemarin? Kali ini aku membawakanmu coklat. Kenapa? Apa kau tahu jika cokelat mengandung endorfin? Aku berharap setelah memakan cokelat ini kau akan merasa gembira, seperti efek endorfin itu sendiri ^^Note 3Bukankah hari ini terasa panas? Tapi sepanas apapun itu, ketika mata ini memandang paras indahmu, aku merasa seperti terkena tiupan angin surga.

Oh ya, satu pack yoghurt untukmu di cuaca yang panas ini ^^Note 4Apa kau melihat berita pagi ini? Dunia politik di negara kita sedang bergejolak. Ku rasa itu juga sesuai untuk keadaanku saat ini. Aku tengah merasakan gejolak di dalam dada ketika melihatmu tersenyum begitu cerahnya. Tolong teruslah tersenyum seperti itu. Dan semoga boneka jibang dariku dapat membuatmu tersenyum ^^Note 5Roses are red

Violets are blue

All of my thoughts are all about you

Have a nice day, ippeuni ♡Note 6Seekor anak ayam yang akan keluar dari cangkangnya membutuhkan energi yang besar. Dari mana dia mendapat energi sebesar itu?

Jawabannya adalah, dari dalam dirinya sendiri.

Aku yakin kau bisa lolos seleksi klub renang hari ini. Hwaiting! Note 7Aku selalu percaya bahwa kau mampu melakukannya. Selamat atas diterimanya menjadi anggota klub renang. Ini hadiah dariku. Tidak seberapa memang, tapi aku berharap emblem kuda putih ini akan melindungimu dari segala bentuk marabahaya seperti yang dimitoskan orang-orang, hehe.

Sekali lagi selamat!~Note 8Tolong aku. Aku hampir tidak bisa bernapas dan berpikir dengan baik setelah mendapat balasan darimu. God, ini sangat luar biasa! Terimakasih atas balasannya. Ku dengar kau tengah menggilai scone belakangan ini, jadi aku membelikannya satu untukmu. Semoga kau menyukainya ^^Note 9People said love yourself first so you can love others. No darling. For me, it is the other way around. Love Yerin first, then myself :')

Dan masih ada beberapa notes lagi yang ada di halaman buku catatan tersebut. Pipi Eunbi berganti warna menjadi merah padam. Merasa malu karena telah menulis kata-kata menggelikan tersebut. Terlebih orang yang menjadi subyek ada di hadapannya sekarang. Bagaimana Eunbi akan bereaksi?"Jawab aku."Mendapat bentakan seperti itu membuat Eunbi tersentak. Dia menegakkan tubuh secara reflek."Y- Ya. I- Itu aku yang menulisnya.""Kenapa?" Yerin bertanya, tidak membiarkan Eunbi beristirahat dari rasa gugupnya."Aku... Maksudku... Itu karena aku mengagumi sunbae. T- Tapi maaf jika itu membuatmu tidak nyaman. Aku tidak akan melakukannya lagi." Eunbi menunduk dalam-dalam, meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan beberapa hari atau minggu belakangan."Mengagumiku?" Yerin masih belum bisa mencerna alasan dari gadis di depannya."Y- Yeah, seperti seorang fans ke idolanya? Aku menyukai I GFRIEND, dia biasku. Itu juga berlaku untukmu sunbae. A- Aku mengagumimu." Eunbi mengucapkannya dengan menatap ke sembarang arah, mencoba menyembunyikan p