Unfair Love : slice 5 (1/1)
Warning!YAOI/BL/Boys LoveHyunwoo X KihyunWonho X Hyungwonand otherstypo(s)/no eyd/bad plotromance/angst/tragedy/humor(?)..Unfair Loveslice 5-Bahagia itu seperti apa? Untukku, kebahagiaan adalah tentang bagaimana menyikapi kenyataan yang ada-..Enjoy..Semakin hari Wonho semakin membuat Hyungwon bingung dengan sikapnya yang manis-pahit tidak jelas sebab dan waktunya. Terkadang dia memperlakukan Hyungwon dengan lembut, tak jarang juga dia memperlakukannya dengan kasar. membuat Hyungwon ingin bertanya, apa salahnya? kenapa Wonho begitu padanya? Tapi sesuatu dalam dirinya menahan agar Hyungwon tidak sampai mengucap pertanyaan itu. Takut-takut jika sikap Wonho malah akan jauh lebih buruk padanya."Apa yang kau fikirkan?" tanya Kihyun penasaran saat Hyungwon tidak fokus pada sarapannya."Oh,, t-tidak ada,," Hyungwon sedikit kaget."Hm,, baiklah,," respon Kihyun acuh sambil melanjutkan sarapannya.Hening selagi menikmati sarapan di rumah ini cukup aneh bagi Hyungwon. Karena meski belum lama berada di sini, Hyungwon cukup terbiasa dengan Wonho dan Kihyun yang selal berdebat di meja makan. Ah iya benar, kemana Wonho pergi? Bahkan sarapan sudah hampir selesai, namun Wonho sama sekali tidak muncul, batin Hyungwon bertanya-tanya."Mencari Wonho hyung? Hari ni hari penting untuknya, jadi-"Belum sempat Kihyun menyelesaikan kalimatnya Wonho muncul dengan setelan yang melekat pas di tubuhnya. Tanpa menoleh pada Kihyun dan Hyungwon yang sedang duduk di meja makan, Wonho berjalan dengan tenang melewati mereka. Seorang pemuda berkulit putih dan bermata sipit tampak mengekor di belakangnya."Jooheon-ah.. jangan biarkan dia berulah lagi,,," ucap Kihyun pada pemuda yang mengekori Wonho tadi."Ya tuan,," dengan sopan, pemuda sipit bernama Jooheon tadi membungkukkukan badannya dan segera pergi menyusul Wonho.Dengan raut wajah yang penuh dengan pertanyaan, Hyungwon menatap Kihyun menuntut penjelasan."Oh,, hari ini adalah hari peringatan kematian kekasihnya, biasanya Wonho hyung akan mabuk dan membuat ulah,," jelas Kihyun sambil melahap sisa sarapannya."O-oh,," respon Hyungwon sambil mengangguk-angguk mengerti. Tapi satu bagian di hatinya serasa dicubit saat mengetahui jika Wonho sudah memiliki kekasih.Sebuket bunga arbutus sudah dia letakkan di depan sebuah guci abu yang terbuat dari marmer mahal. Dengan pandangan yang sendu, Wonho mengelus sayang selembar foto yang terpajang apik di dalamnya. Di dalam kotak krematorium itu, hanya ada sebuah Guci abu dan sebingkai foto tadi saja, tidak ada yang lainnya. Setelah menggapai sesuatu dari dalam kantongnya, Wonho meletakkan sebuah kotak bludru tepat di samping potret seorang pemuda manis yang tengah tersenyum indah."Maafkan aku,," lirih Wonho sambil membuka kota tadi. Yang ternyata di dalamnya adalah sebuah cincin emas putih dengan batu berlian kecil yang indah di tengahnya. "Bahkan perasaan ini yang sudah jelas-jelas adalah milikku tidak bisa kukendalikan,, maafkan aku,,"Jooheon yang ada dibelakangnya hanya bisa menatap iba tuannya yang sedang menahan tangis. Dia tahu benar apa yang dilakukan tuannya kali ini tidak bisa dikatakan benar, sangat salah malah sebenarnya. Karena sesungguhnya hal yang sedang direncanakan oleh tuannya malah akan menggoes luka lain yang mungkin saja malah lebih dalam.Sibuk dengan pemikirannya, bahkan Jooheon sampai tidak menadari jika Wonho sudah meninggalkan tempat itu. Setelah sadar, Jooheon buru-buru menyusul Wonho dan menyampaikan apa yang sudah dipikirkannya selama ini, ya,, dia harus menyampaikannya.Wonho sudah hampir memasuki mobil saat Jooheon menegurnya."Hyung.."Wonho menoleh dengan cepat, tidak biasanya pemuda itu memanggilnya hyung."Ada apa?" Tanya Wonho setelah menutup pintu mobil yang tadinya terbuka."Ayo kita hentikan semua ini,," serius Jooheon.Tidak ada balasan, Wonho hanya menatap Jooheon dengan pandangan yang tidak bisa dimengerti."Aku akan meninggalkan Seoul, jadi kau-""Ya Lee Jooheon!" potong Wonho dengan nada tinggi.Jooheon hanya diam, menatap Wonho dengan pandangan yakin. Mengatakan tanpa kata-kata kalau dia sudah bulat dengan keputusannya."Sudah lebih dari cukup yang kau lakukan untukku dan untuk Minhyuk hyung selama ini..""Tidak-tidak,, kita sudah hampir selesai dan bisa membalaskan-""Apa kau yakin itu yang diinginkan Minhyuk hyung? Ayolah, kau kenal dia melebihi siapapun,, Dan kau pasti tau kalau kita melakukan kesalahan kan?" Jooheon buru-buru memotong kalimat Wonho. "Dulu kita merencanakan ini saat masih terluka Hyung,, dan ini sudah satu tahun sejak luka itu,, Jadi,, kurasa sudah saatnya kita mengakhiri kebodohan ini,,"Wonho diam, perkataan Jooheon seolah membuatnya tenggelam dan membuatnya susah bernafas. Benar, apa ini yang Minhyuk inginkan? Tentu saja bukan, berbagi perasaan dengan pemuda itu selama