Chapter 29 (1/1)

Chapter 29 Hari yang ditunggu-tunggu Luhan, Minho, dan Taemin telah tiba. Dengan nilai yang memuaskan ketiganya dinyatakan lulus dari bangku SM High School. Upacara kelulusan berjalan khitmad dan begitu meriah. Siswa kelas 3, termasuk Luhan, Minho, dan Taemin terlihat bergembira menyambut status baru mereka sebagai alumni SM High School.“Selamat atas kelulusan kalian, oppa,” Soojung menyambut ketiga pemuda yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri penuh suka cita.“Kau tidak memberiku selamat juga, Soojung?” tanya Naeun menunjukkan wajah kecewanya.“Ups, maaf eonnie. Selamat atas kelulusanmu juga,” kata Soojung seraya menyengir lebar.“Ku lihat kalian tidak membawa apapun. Kalian tidak menyiapkan hadiah, huh?” tanya Taemin penasaran. Soojung, Jongin, dan Sehun menggeleng serentak.“Kalian kan lulus hari ini, jadi kupikir selayaknya kalian mentraktir kami, hyung,” jelas Jongin sambil tersenyum polos.“Kalian kan bertiga. Jadi, kami akan dapat makan siang, makan malam, dan sarapan untuk besok,” imbuh Sehun seraya mengetukkan telunjuk ke dagunya.“Ckks, kalian pintar sekali dalam merampok,” Luhan menghela napasnya pasrah.“Naeun, dia kan juga lulus,” protes Taemin cepat.“Naeun eonni kan pacarmu, oppa. Jadi kau yang akan melakukan bagiannya,” kata Soojung sambil ber-high five dengan Naeun. Taemin mendengus kesal, diikuti tawa mereka semua.“Di mana Jinri? Aku tak melihatnya,” Minho menghentikan tawanya lantas bertanya. Soojung, Jongin, dan Sehun menghentikan tawa mereka segera. Sudah seminggu ini Jinri selalu menghindari mereka.“Entahlah, oppa. Mungkin dia sedang ke toilet,” jawab Soojung sambil tersenyum tipis.Sehun menyadari perubahan raut muka Soojung. Seminggu ini Soojung tampak murung dan terlihat pendiam. Dan satu hal lagi yang mebuat Sehun hampir frustasi. Sejak Jinri menjauh, saat itu pula Soojung ikut menjauh. Soojung terkesan menghindari Sehun, setidaknya itu yang dapat Sehun rasakan.Luhan diam-diam mengamati tingkah laku ketiga sahabat ini dengan curiga. Luhan menyadari bahwa akhir-akhir ini Jinri jarang terlihat bersama mereka. Luhan sebenarnya telah menyadarinya sejak lama, hanya saja ia tak berusaha mengorek informasi apapun dari mereka. Ia terlalu fokus pada ujiannya, persiapannya ke luar negeri, dan juga aksi diamnya dengan Sehun. Yah, sejak pertengkaran mereka tempo lalu mereka mendiamkan diri satu sama lain.Namun, entah mengapa Luhan merasa ada yang tidak beres di sini. Jika Jongin menatap Soojung khawatir, itu wajar. Tapi Sehun? Luhan merasa tatapan Sehun pada Soojung terkesan ganjil dan berbeda?“Bagaimana kalau kita berfoto?” tawar Soojung berusaha mencairkan suasana yang agak hening akibat pertanyaan dari Minho.“Jongin, bisa fotokan aku dan mereka?” pinta Soojung sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.“Kenapa aku?” protes Jongin cepat. Soojung melebarkan kedua matanya dan menatap Jongin memelas. Oh, Jongin tidak akan menolak permintaan Jongin jika ditatap seperti itu.“Arraseo, arraseo,” akhirnya Jongin mengalah. Soojung tersenyum senang lantas langsung memposisikan dirinya.Naeun, Taemin, Luhan, Soojung, dan Minho berjajar rapi siap untuk difoto. Dengan mesra Naeun melingkarkan kangannya ke lengan Taemin. Luhan sedikit memberikan lirikannya ke arah Minho. Awalnya Minho tidak mengerti. Namun, senyum Minho melebar tatkala Luhan memberikan kode untuk melakukan sesuatu.“Baiklah, siap? Satu, dua, ti…,” Jongin membulatkan mulutnya saat menekan tombol kameranya. Sehun juga ikut menunjukkan ekspresi terkejutnya. Lebih-lebih Soojung. Kedua bola matanya saat ini nyaris keluar.Soojung yang entah bagaimana berada di antara Luhan dan Minho, diberi sedikit kejutan. Pipi kanannya dikecup Luhan. Dan pipi kirinya dikecup Minho. Dan itu secara bersamaan. Soojung mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya berusaha memperoleh kesadarannya kembali. Luhan dan Minho melepaskan kecupan mereka dan tersenyum penuh kemenangan.“Ya, hyung! Apa yang kalian lakukan pada pacarku?!?” seru Jongin dengan muka merah padam.“Itu hadiah untuk kami, Jong,” Luhan dan Minho mengabaikannya dan ber-high five ria. Taemin dan Naeun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah konyol mereka.“Oppa,” seru Jinri tibaa-tiba membuat mereka semua menoleh ke arahnya. Semua yang ada di sana dibuat heran melihat Jinri bersama Suzy, Jiyeon, dan Eunji.“Selamat atas kelulusanmu, oppa,” kata Jiyeon sambil menyerahkan sebuket bunga pada Minho.“Ah, terima kasih Jiyeon-ah,” balas Minho seraya tersenyum manis.“Oh, apakah hanya Minho yang dapat?” protes Taemin sambil mempautkan bibirnya kesal. Jiyeon hanya menjulurkan lidahnya seakan mengejeknya.Soojung menatap ke arah Jinri dengan sendu. Jinri benar-benar mengabaikannya. Dan sekarang dia bahkan lebih senang berteman dengan Jiyeon dan yang lainnya. Yah, sejak Jiyeon dekat dengan Minho, Jinri juga semakin dekat dengannya. Terlebih kini Jinri telah berpacaran dengan kakak Jiyeon, Chanyeol.Jongin menyadari kesedihan yang Soojung rasakan. Sejak seminggu ini Soojung Nampak kosong. Bahkan senyumnya tak secerah sebelumnya. Dan Jongin tidak menyukai itu. Jongin benar-benar kesal pada Jinri. Bagaimana bisa Jinri mengabaikan mereka, yang notabene sahabatnya sejak kecil hanya karena berpacaran dengan kakak Jiyeon?“Kami pergi dulu. Aku dan Soojung ada sedikit acara,” pamit Jongin seraya menggandeng Soojung. Soojung cukup terkejut atas ajakan Jongin yang tiba-tiba. Sambil mengulas senyum tipisnya, Soojung hanya membungkukkan badannya sedikit untuk berpamitan.“Ckks, mau ke mana mereka? Kencan?” tanya Taemin keheranan.Banyak mata menatap kepergian Soojung dan Jongin. Sehun menatap mereka dengan cemburu. Sehun benar-benar ingin melepaskan tautan tangan Jongin dari tangan Soojung. Bagi Sehun, dirinyalah yang seharusnya menggenggam tangan itu. Sehun sendiri tak menyadari bahwa ia tengah diperhatikan Jinri dan Luhan. Jinri dengat tatapan tidak sukanya saat Sehun menmperlihatkan ekspresi cemburunya. Dan Luhan? Luhan dengan ekpresi khawatirnya. Semoga apa yang diprediksi Luhan salah. Semoga adiknya tidak melakukan kebodohan yang sedang ia terka kini. O0O “Jongin?”“Kim Jongin?” Soojung menghentikan langkahnya segera agar Jongin ikut berhenti menariknya. Jongin mendesah pelan dan menghadap Soojung.“Kenapa kau mengajakku pergi, hum?” tanya Soojung.“Aku hanya tak ingin melihatmu merasa tak nyaman karena keberadaan Jinri,” jawab Jongin sambil menghembuskan napasnya pelan.Soojung menatap Jongin lembut. Jongin sedang mengkhawatirkannya, mungkin.“Bagaimana kalau kau membelikanku es krim?” tawar Soojung sambil tersenyum manis. Jongin menatap Soojung bingung.“Kau ingin memperbaiki moodku kan? Belikan aku es krim,” perintah Soojung dengan aksen manjanya.“Baiklah, princess,” kata Jongin sambil mengulas senyum lebarnya. Dengan tetap bergandengan tangan mereka melangkah riang. Soojung bahagia memiliki Jongin, begitupun sebaliknya. O0O Luhan berjalan melewati koridor sekolahnya yang sudah sepi. Hari ini ia dan teman-temannya dinyatakan lulus. Luhan lega, senang, tapi juga sedih. Dengan kelulusannya ini berarti sebentar lagi dirinya akan meninggalkan Seoul. Meninggalkan keluarga, teman-temannya, dan juga Soojung.Hati Luhan masih milik Soojung. Sejak dulu, hingga sekarang. Soojung yang manis, Soojung yang cantik, Luhan sangat menyukainya. Luhan selalu memperhatikan Soojung sejak dulu. Selalu mengerti apa yang ia rasakan. Dan selalu menjadi tempat curahan hati sang gadis kala suka dan duka. Hanya saja hati Soojung bukanlah untuknya. Soojung selalu menyerahkan hatinya untuk orang lain. Dulu untuk Sehun, sekarang untuk Jongin. Luhan tersenyum kecil mengingat kekalahannya. Yah, Soojung memang bukan untuknya.Luhan menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis tengah berdiri di depan lokernya. Yah, sebenarnya loker itu adalah mantan lokernya mengingat ia baru saja dinyatakan lulus dari sekolah ini. Gadis itu membawa sesuatu. Sepucuk surat? Dengan perlahan Luhan mendekati gadis itu.“Eunji?” panggil Luhan hati-hati. Eunji terkejut dan menyembunyikan barang yang ia bawa di belakang punggungnya.“Oppa, se-sedang apa di sini?” tanyanya gugup. Luhan tersenyum melihat tingkah gadis ini.“Berjalan-jalan sebentar. Menyampaikan salam perpisahan pada gedung ini,” jawab Luhan seraya tersenyum dan menyapu pandangannya ke seluruh sudut sekolah. Eunji hanya menganggukkan kepalanya.“Ku dengar, oppa akan ke Milan?” tanya Eunji pelan. Luhan menjawab dengan anggukan kepalanya.“Kenapa?” tanya Eunji lagi. Luhan mengernyit heran.“Maksudku untuk apa?” Eunji merutuki kebodohannya yang terus berlanjut. Sungguh, ia baru menyadari kalau pertanyaannya salah.“Untuk kuliah, untuk apa lagi?” Luhan mengangkat bahunya santai.“Tapi, Milan kan jauh?”“Lalu?”“Aku tak dapat melihat wajah Luhan op