When the Time is Right (1/1)

SinRin Fics mydaisy309 72590K 2023-11-02

Merasakan seberkas sinar menyinari wajahnya, Yerin mengernyit dalam sebelum akhirnya membuka mata. Mengerjap beberapa kali kemudian menolehkan kepala kesamping. Senyumnya merekah melihat alasannya untuk terus bahagia terlelap damai dengan anak rambut menutupi wajah. Tangan Yerin terangkat guna menyingkirkan anak rambut tersebut, menyelipkannya dibelakang telinga. Senyum Yerin makin melebar. Jemarinya bergerak turun dan membelai pipi mulus gadis yang terlelap. Atas perlakuannya, alis gadis itu menyatu sebelum akhirnya membuka mata.Yerin terhenyak. Pandangan mereka lalu bertemu, dengan Yerin yang menunjukkan ekspresi bersalahnya. Tahu maksud tatapan tersebut, gadis yang baru saja bangun tersenyum kecil. Dia memajukan wajah dan mengecup pipi Yerin."It's okay. Mentari telah terbit, sudah seharusnya untuk bangun."Meski berkata seperti itu, ia justru menarik pinggang Yerin dan memeluknya, mencari posisi nyaman di dadanya sebelum kembali memejamkan mata. Menghela napas kasar, Yerin memukul pelan bahu kekasihnya, membuat gadis itu terkekeh kecil kemudian melepaskan diri.Begitu pelukan terlepas, Yerin menunjuk pintu kamar menggunakan tatapannya. Eunbi mengikuti arah pandang Yerin."Ingin keluar membuat sarapan?" tanya Eunbi yang segera dibalas anggukan."Ingin aku membantu?" tanyanya lagi. Kali ini Yerin menggeleng, membuat Eunbi mengerucutkan bibirnya."Wae? Aku juga bisa membantu. Menuangkan susu favoritmu kedalam gelas atau membuat kopi."Yerin tetap menggeleng. Dia menunjuk kamar mandi yang masih berada di ruang kamar mereka kepada Eunbi. Dilanjut bangkit dari tidurnya. Menghela napas pelan, Eunbi melakukan hal yang sama, bangkit dari posisi telentangnya."Arrasseo arrasseo." ucapnya dengan wajah sedikit merengut sebelum berjalan memasuki kamar mandi, membersihkan tubuh tentu saja. Eunbi masih memiliki tanggungjawab, yaitu bekerja. Meski hari masih cukup pagi, tapi apa salahnya bersiap-siap sejak awal?Setelah punggung kekasihnya menghilang dibalik pintu kamar mandi, Yerin mulai turun dari ranjang. Berjalan keluar dari kamar mereka menuju pantry, membuat sarapan.Belasan menit berlalu, Eunbi pun selesai dengan urusannya. Memakai pakaian kantornya dengan cepat sebelum berlari keluar. Tidak sabar mencicipi masakan lezat buatan kekasih tercinta. Eunbi melebarkan senyum ketika melihat punggung Yerin yang tengah sibuk mengolah makanan di pantry. Berjalan mengendap, Eunbi melingkarkan tangannya di pinggang Yerin, memeluknya dari belakang. Mengecup leher putih Yerin, Eunbi melihat apa yang sedang dimasak gadisnya."Nasi goreng kimchi?"Yerin mengangguk. Dia menunjuk Eunbi menggunakan telunjuknya sebelum membuat finger heart menggunakan dua jarinya. Eunbi tersenyum.Kesukaanmu.Gadis itu mengecup pipi kiri Yerin, setelah itu mengeratkan pelukan dengan dagu bersandar di bahu."Yennie-ya, kau tahu aku sangat mencintaimu, kan?"Yerin menghentikan aktivitasnya. Berdiri diam selama beberapa saat sebelum membalikkan tubuh, membuat pelukan Eunbi terlepas. Obsidian gelap nya bertemu sapa dengan milik Eunbi. Bibirnya mulai bergerak, mengucapkan sebuah kata, meski tanpa suara yang terdengar."Aku tahu." Dan Eunbi tidak bisa untuk tidak tersenyum. Dia lalu mengambil satu kecupan di bibir Yerin."Itu akan bertahan selamanya. Jadi, pastikan untuk tetap bersamaku apapun yang terjadi."Senyum Yerin mengembang. Dia tahu, ucapan yang keluar dari mulut Eunbi bukanlah ucapan penyenang hati semata. Gadis itu bersungguh-sungguh, bahkan ketika Yerin selalu meragu pada dirinya sendiri. Entah apa yang pantas Yerin berikan kepada manusia sebaik dan setulus Eunbi. Hanya berlandaskan cinta, Yerin tidak yakin itu cukup untuk membuat Eunbi bahagia bersamanya.***

"Eomma menyuruhmu pulang ke rumah."Eunbi mengangkat kepalanya mendengar suara tersebut. Keningnya mengernyit, memiringkan wajah guna melihat pintu ruangannya."Kapan kau masuk? Kenapa aku tidak mendengar suara pintu terbuka?""Tanyakan kepada otakmu yang dipenuhi masalah pekerjaan." sarkas orang itu. Sedikit kesal karena sahabatnya selalu tidak menyadari sekitar jika sudah fokus pada sesuatu.Eunbi mengembuskan napasnya."Katakan padanya aku sibuk."Yewon mengerutkan kening, memandang Eunbi dengan tatapan tajam. Sedang gadis yang ditatap sama sekali tidak terganggu."Kau ingin aku memberikan alasan yang sama untuk yang ke-tujuh kalinya? Yang benar saja!"Eunbi menutup map yang ia pegang dengan kasar, sejurus dengan matanya yang memandang lurus kearah sahabatnya dengan rahang mengeras."Kau tahu mereka menyuruhku pulang untuk apa, Yewon. Bagaimana mungkin aku menerimanya begitu saja? Sudah kubilang aku tidak akan mau. Sampai kapan pun tidak akan pernah mau." tegas Eunbi."Kau bisa keluar." ucapnya dingin, kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya.Ekspresi Yewon melunak, seiring embusan napas yang keluar melalui hidung. Dia berjalan mendekat, hingga jemarinya menyentuh permukaan meja kerja Eunbi."Kau serius dengan pilihanmu? Ini masih belum terlambat, Eunbi. Aku juga ingin kau bahagia." Yewon berujar lembut.Eunbi menggeleng, merasa frustasi dengan segala tekanan dan paksaan yang ia dapat. Dengan dalih kebahagiaannya, mereka berlomba-lomba memilihkan yang terbaik untuknya. Tanpa tahu jika itu semua bukanlah apa yang diinginkan Eunbi. Kebahagiaannya hanya satu, dan itu tidak lain kekasihnya sendiri, Jung Yerin. Sampai kapan mereka akan terus menutup mata dan telinga? Bukankah itu semua sudah jelas? Bahkan Eunbi sudah menyatakannya keras-keras di wajah mereka. Mengapa hingga sekarang tidak mengerti juga?Eunbi benci mereka semua."Yewon-ah, tolong keluar dari ruanganku.""Eunbić…”""KIM YEWON." Eunbi menggeram. Matanya menyalang marah, membuat bulu kuduk Yewon merinding. Wajah gadis itu ia palingkan ke arah lain."Baik. Aku akan keluar." ucapnya lirih, membalikkan tubuh dan berjalan pergi dari ruangan sahabatnya.Begitu punggung Yewon sudah tak terlihat lagi, Eunbi memijit pelipisnya yang berdenyut."F*ck."***

"Aku pulang~"Eunbi mengedarkan pandangannya begitu memasuki apartemen. Sudut bibirnya tertarik keatas ketika melihat kekasihnya duduk di lantai, kacamata bulat bertengger di hidung dengan tangan fokus memasukkan butiran mutiara kedalam tali untuk membuat kalung perhiasan. Pekerjaan gadis itu beberapa tahun terakhir. Pekerjaan yang mempertemukan mereka untuk yang pertama kali."Hai, sayang." sapa Eunbi seraya memajukan wajah mengecup pipi gadisnya.Yerin tidak membalas, masih fokus pada apa yang tengah ia kerjakan."Apa ada pesanan baru?" tanya Eunbi seraya menempatkan pantatnya di sofa, berhadapan dengan Yerin yang duduk di lantai.Gadis yang masih sibuk mengangguk kecil sebagai jawaban."Tapi kupikir, persediaan mutiaranya sudah habis?"Yerin mengangguk lagi."Lalu kau pergi ke toko sendirian?"Kali ini Yerin menggeleng. Menunjuk ponselnya sendiri diatas meja kemudian mulai menggerakan jari-jarinya membentuk sebuah isyarat. Eunbi mengangguk mengerti setelahnya.Yerin meminta bantuan Eunha untuk membelikan mutiara. Menengok ke arah pantry, Eunbi melihat jika meja makan masih kosong. Itu berarti Yerin belum memasak makan malam. Eunbi tahu, kekasihnya pasti cukup sibuk membuat kalung perhiasan tersebut. Maka, dengan penuh pengertian, Eunbi meraih ponsel miliknya di saku. Membukanya dan mulai memesan makanan dari salah satu restoran terdekat.Selesai memesan, Eunbi berdiri. Meletakkan ponsel di meja sebelum mendekati Yerin, mengecup pipi nya sekali lagi."Aku sudah memesan makanan. Sekarang aku ingin mandi terlebih dahulu."Yerin mengangguk, membiarkan Eunbi menjauh menuju kamar mereka berdua.Beberapa dari kalian mungkin akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Yerin. Beberapa dari kalian mungkin juga sudah menebaknya.Benar, Yerin gadis bisu. Dia sudah bisu sejak kecil, atau mungkin sejak lahir. Orangtua Yerin membuangnya ke Panti Asuhan ketika ia masih bayi. Tidak ada keterangan apapun selain nama dan tanggal lahir ketika Yerin ditemukan di depan gerbang oleh pemilik Panti. Beranjak dewasa, Yerin memang merasa sedih saat Ibu Panti menceritakan bagaimana ia bisa sampai tinggal disana. Terlebih dengan kekurangannya yang tidak bisa berbicara. Dia juga sempat menerima pem-bully-an dari sesama anak panti. Namun seiring berjalannya waktu, Yerin mulai menerima takdirnya. Yerin yakin, dia akan menemukan kebahagiaannya sendiri suatu saat nanti. Tanpa ada celaan dan hujatan, tanpa ada yang mengusik dan mengganggu, tanpa ada rasa sakit.Dan waktu itu telah tiba dua tahun yang lalu. Tepat ketika ia bertemu dengan Hwang Eunbi. Seorang wanita karir yang tengah memiliki urusan pekerjaan di daerah tempat tinggalnya, Jeonju.Eunbi, sebagai pengawas kantor cabang baru yang ada di Jeonju bertemu Yerin yang saat itu mengantar pesanan kalung perhiasan ke salah satu pegawai. Yerin memang tidak percaya apa itu cinta pada pandangan pertama, namun Eunbi sebaliknya. Gadis itu langsung menyukai Yerin tepat ketika obsidian nya mendarat padanya.Seperti remaja yang baru jatuh cinta, Eunbi mengikuti Yerin diam-diam untuk mengetahui dimana ia tinggal. Mulanya Eunbi terkejut begitu mengetahui jika Yerin tinggal di Panti Asuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan rasa sukanya kepada gadis asing cantik itu. Eunbi mulai menyusun strategi. Dia sengaja datang ke Panti dan mengajukan diri sebaga donatur. Eunbi mendonasikan uang yang cukup banyak ke Panti Asuhan tersebut hanya untuk melihat Yerin. Dan jika beruntung, berkenalan dengannya.Tapi sepertinya harapan Eunbi pupus. Dia tidak bisa mendekati Yerin karena gadis itu tidak pernah keluar dari kamarnya lagi setelah Ibu Panti mengenalkannya kepada anak-anak disana.Tidak menyerah sampai disitu, Eunbi datang keesokan harinya sepulang bekerja. Kali ini dia bertekad untuk mengajak Yerin berkenalan secara resmi. Hanya mereka berdua untuk melancarkan aksi pendekatannya. Namun lagi-lagi usahanya gagal. Yerin hanya memandangnya datar sebelum pergi ke kamarnya. Meninggalkannya sendirian bagai orang idiot.Meski begitu, Eunbi tetap mencobanya lagi keesokan harinya, hanya untuk menjumpai hal yang sama. Yerin menatapnya dingin lalu pergi. Melihat usaha Eunbi yang terlihat mendekati anak asuh kesayangannya, Ibu Panti mengajaknya berbicara. Memberitahunya tentang kekurangan yang Yerin miliki, dan mengapa gadis itu terlihat acuh. Hati Eunbi serasa diremas kuat mendengarnya. Gadis secantik dan semanis Yerin telah menanggung rasa sakit yang begitu banyak sejak usia belia. Eunbi tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya di posisi Yerin.Sejak saat itu, Eunbi mulai belajar bahasa isyarat. Agar bisa berkomunikasi dengan Yerin. Dia bahkan mengambil kelas berbayar yang harganya tidaklah sedikit. Sebesar itu memang rasa sukanya kepada Yerin, meski dia sendiri baru bertemu dengannya dan belum mengenalnya sama sekali.Disisi lain, sebenarnya Yerin tidak benar-benar mengabaikan Eunbi. Faktanya, gadis itu seringkali mencuri pandang saat Eunbi bermain dengan anak-anak panti. Meski harus mengintip dari balik pintu yang ia buka sedikit. Hanya saja, Yerin merasa malu karena kekurangannya itu, jadi dia lebih memilih bersikap dingin kepada Eunbi. Yerin tahu diri dan tahu posisi. Melihat gaya berbusana Eunbi, dia tahu gadis itu berbeda derajat dengannya. Lebih baik seperti ini, daripada dia merasa sakit setelahnya.Tidak tahu saja kalau Eunbi benar-benar menyukainya. Terlepas dari semua kekurangan yang ia miliki. Eunbi tulus menyukai Yerin. Hingga rela melakukan apapun agar bisa mendekatinya.Singkat cerita, usaha Eunbi berhasil. Mereka akhirnya berteman meski terkadang Yerin masih bersikap dingin kepadanya. Tapi tidak masalah, selagi Eunbi bisa berbicara dengan Yerin, itu sudah cukup.Sayangnya pertemuan mereka harus menemui akhir. Pekerjaan Eunbi sebagai pengawas kantor cabang baru di Jeonju berakhir setelah dua bulan lamanya. Tetapi hal itu tidak membuatnya kehilangan akal. Dia berjanji kepada Yerin untuk tetap menjaga komunikasi lewat telepon atau aplikasi perpesanan. Tiap akhir pekan, Eunbi juga akan mengunjungi Panti Asuhan, menemui anak-anak yang sudah ia kenal baik, dan tentu saja, Yerin-nya.Baru, ketika Yerin mulai membuka hatinya kepada Eunbi, gadis itu langsung meminta gadis yang lebih tua menjadi kekasihnya. Awalnya Yerin merasa ragu, tetapi pada akhirnya dia menerima Eunbi. Melihat bagaimana perjuangannya, membuat hati Yerin merasa terenyuh. Baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang menyukainya dengan tulus. Tanpa peduli jika ia bisu. Tanpa peduli jika ia tidak bisa berbicara. Tanpa peduli dengan latar belakangnya. Tanpa peduli dengan semua kekurangannya.Yerin masih merasa jika ini semua adalah mimpi. Mimpi yang sangat indah. Namun dia tahu dengan baik kalau ini semua nyata. Eunbi nyata. Seseorang yang tidak ia tahu akan memberikan semua kebahagiaan yang menjadi angan-angannya sejak dulu. Pada saat itu, hidup Yerin terasa lengkap. Eunbi melengkapi kekosongan di diri Yerin dan membuatnya menjadi berwarna.Memasuki tahun pertama hubungan mereka, Eunbi mengajak Yerin tinggal bersamanya di Seoul. Tentu, gadis itu tidak langsung mengiyakannya. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi alasannya tersebut. Tetapi Eunbi terus membujuknya. Dia juga mengatakan banyak orang di Seoul yang akan tertarik dengan kalung, gelang, maupun cincin buatannya. Yerin bisa melanjutkan pekerjaannya disana. Lebih daripada itu, Eunbi ingin hubungan mereka menjadi fokus. Dia tidak ingin, hanya karena jarak membuat hubungan keduanya merenggang. Pekerjaannya yang semakin sibuk setelah dipromosikan menjadi Direktur membuatnya kesulitan mengunjungi Panti di Jeonju. Eunbi sungguh mencintai Yerin, dan dia akan melakukan segala cara agar tetap bersamanya. Dengan semua alasan itu, Yerin akhirnya luluh dan menerima tawaran Eunbi. Mereka tinggal bersama di apartemen milik Eunbi di Seoul hingga sekarang.Mendengar bunyi bel apartemen, kepala Yerin terangkat. Dia menghentikan aktivitasnya sebelum berdiri dari duduknya. Itu pasti kurir yang mengantar makanan pesanan Eunbi. Tanpa membuang banyak waktu, Yerin segera berjalan kedepan membukakan pintu.Dan benar, seorang kurir seperti dugaannya.Yerin menerima box tersebut sebelum menunduk sopan, caranya untuk berterimakasih sebelum masuk kedalam apartemen. Tepat pada saat itu, Eunbi keluar dari kamar mereka dengan handuk kecil tergantung di leher. Menahan tetesan air dari rambutnya yang basah agar tidak mengenai pakaiannya."Uh? Cepat sekali sudah datangnya."Eunbi mengangkat bahunya, kemudian mulai tersenyum lebar."Ppalli, Yennie. Ayo kita makan, aku sudah lapar."Menggeleng pelan, Yerin mulai berjalan menuju meja makan dan menyajikan box berisi berbagai macam makanan itu ke meja. Wajah Eunbi berbinar. Dia menjilat bibirnya sendiri. Tanpa membuang waktu lama, gadis Hwang meraih sumpit dan mengambil satu mandu lalu memakannya."Mashitta~"Eunbi menggerak-gerakan tangannya dengan semangat. Makanan memang selalu membuat mood nya membaik.Gadis yang lebih muda lalu menatap Yerin, seringai tipis muncul setelahnya."Tapi seberapapun enaknya makanan ini, tidak ada yang bisa mengalahkan betapa lezatnya dirimu, sayang."Eunbi menaik-turunkan alisnya mesum, yang segera dihadiahi pukulan di bahu oleh Yerin. Pipi gadis itu merona malu. Melihat tingkah kekasihnya membuat Eunbi tertawa. Dia meraih satu tangan Yerin dan mengecup punggung tangannya."Saranghae."Sesering apapun Yerin mendengar kalimat tersebut dari mulut Eunbi, jantungnya tetap saja berdetak kencang. Seperti ketika dia mengutarakan perasaannya dahulu. Setelah sekian lama, efek Eunbi di hidupnya masihlah kuat, bahkan makin menguat di tiap harinya."Setelah ini kita bermain ya, sayang?"Mata Yerin mendelik lebar mendengarnya. Lalu pukulan maut pun mendarat di kepala Eunbi."Ouch."Dasar mesum!, batin Yerin.***

Eunbi menarik tubuh Yerin dari posisi telentang menjadi duduk di pangkuannya tanpa melepas pagutan panas diantara mereka. Tangan Eunbi bergerak melepas kaitan bra milik Yerin. Kemudian melemparnya ke sembarang arah. Tanpa membuang banyak waktu, dia segera meremas dua gundukan kenyal tersebut. Membuat Yerin mengerang tertahan. Dua tangan melingkar sempurna di leher Eunbi, sebagai tempatnya berpegangan.Ciuman Eunbi beralih ke leher jenjang Yerin, menyapunya lembut menggunakan bibir sensualnya. Lidahnya terjulur, menjilat daging tersebut bagai lollipop. Yerin meremas rambut kelam Eunbi. Menengadahkan kepalanya memberi akses leluasa kepada gadis Hwang.Sapuan bibir Eunbi menurun hingga tepat di depan payudara Yerin. Gadis yang lebih tua memejamkan matanya erat ketika bibir Eunbi mengulum putingnya yang sudah mengeras. Menarik-nariknya dengan bibir atas dan bawah yang terkatup."Ahhss." erang Yerin saat gigi depan Eunbi menggigit putingnya kuat. Sakit, namun disaat yang bersamaan, memuaskan.Tangan Eunbi bergerak turun, meremas penuh pantat kekasihnya. Tidak ingin menundanya lagi, Eunbi membanting tubuh Yerin kembali telenta