D [Dont] (1/2)
D | fhayfransiska | Angst, Family | G
Kim Jong In, Kim Joon Myun
D for Don’t
“Sayunya membuat mata Jong In terbuka lebar,
apakah sudah saatnya?”
________
Jong In tidak pernah sungguh-sungguh
menyadari bagaimana muka pucat itu menjadi
semakin pucat seiring waktu berjalan. Tentang
langkah gontai yang terkesan menyeret, punggung
yang tak lagi tegak, juga lengan-lengan
menggantung yang semakin kurus. Jong In tidak
pernah peka soal semua itu. Sebab, senyuman di
wajah rapuh itu tidak pernah luntur.
Dan pemuda ini baru menyadari semuanya setelah
tragedi tersebut terjadi. Kebakaran yang melahap
seperempat dari rumah mereka sebab kakak laki-
lakinya yang lupa mematikan kompor. Sosok
kakaknya itu terbaring lemas agak jauh dari dapur,
beruntunglah ia masih selamat. Dari sinilah Jong In
tahu, penyakit yang tengah diderita kakak satu-
satunya—yang membuatnya pingsan tiba-tiba tanpa
sempat mematikan kompor—,Kim Joon Myun.
“Kau bodoh, Kak.”
Hanya menatap udara yang transparan di
hadapannya, Jong In berujar dengan tak bernada.
Padahal sosok yang ia ajak bicara tengah berbaring
tepat di sampingnya, tapi ia tetap enggan menoleh
sekedar bertatap muka. Ia sendiri tidak tahu
mengapa.
“Aku tahu.”
“Kau berbohong padaku.”
“Memang.”
“Aku membencimu.”
“Aku bisa mengerti.”
Kedua pria itu lantas diam, tidak ada lagi pernyataan
dan sahutan. Larut dalam problema-problema yang
sedang melingkup kuat di otak mereka. Jong In
menghembuskan napas berat seusai mendapati
kakaknya yang kini terpejam, entah pura-pura atau
benar tertidur. Digunakan kesempatan itu untuk
meniti lebih dalam rupa kakaknya, seolah manusia
bekulit porselen itu adalah seonggok emas yang
harus diteliti tingkat karatnya.
Pipinya semakin tirus dan lingkar hitam di matanya
nampak begitu jelas. Sosok itu terlihat letih,
mungkin kelelahan karena menahan sakit yang
serasa menusuk-nusuk setiap sel tubuhnya. Jong In
tidak tahu mengapa tiba-tiba perasaan menyesakkan
membanjiri langit-langit hatinya, juga reka adegan
di masa lampau yang kembali terputar sempurna di
otaknya.
“Kalau kau meninggalkanku, aku tidak akan pernah
memaafkanmu.”
Dugaan Jong In benar, Joon Myun tidak benar-benar
tidur. Sebab setelah Jong In melontarkan sebaris
kalimat seperti di atas, sepasang iris obsidian itu
perlahan membuka dengan begitu lemah, seolah hal
itu benar-benar sulit dilakukan olehnya.
Dan senyum itu lagi-lagi terkulum.
“Kalau begitu, kau tidak akan pernah memaafkanku,
Jong In.”
“Jangan berkata seenaknya, seolah kau tahu
semuanya.” Kali ini Jong In menatap lurus mata
Joon Myun, sedikit garang dan bernada kesal, tanda
tidak setuju.
“Aku bicara soal kenyataan.”
Jong In mendengus, “Aku tidak percaya pada
kenyataan.”
Kalau kenyataan itu menyakitkan, aku menolak
untuk memercayainya.
Kali ini Joon Myun masih mengulum senyum maklum,
Jong In memang benar keras kepala, adik laki-laki
yang paling ia sayangi itu. Kalau sudah punya
prinsip, tidak akan ada seorang pun yang bisa
mematahkannya, begitulah Jong In. Ia memang
terkesan kaku, tapi bagi Joon Myun, hati Jong In
jauh lebih baik daripada hati orang-orang di luar
sana. Jauh. Orang-orang hanya tidak tahu, itu saja.
“Aku sudah capek, Jong In. Aku tidak kuat lagi.”
Suara parau itu menggelitik gendang telinga Jong
In, dan pemuda ini tidak suka mendengarnya. Serasa
begitu pasrah dan menyedihkan, ia sungguh benci
nada suara seperti itu. “Menyerah berarti
menyedihkan, Kak. Bertahan adalah yang terbaik.”