[M] eight (1/1)
Seakan implusifitasnya meredup dalam sekejab bahkan cenderung drastis. Yunho membalikan badan Changmin, membawa laki-laki bersurai kecoklatan itu terlentang di atas kasur dengan dia sendiri berada tepat diatas Changmin. Terlihat jelas dari elang Yunho bila kini Changmin memejamkan mata erat, mengalihkan wajah tak menghadapnya dengan suara desahan terus keluar dari bibir Changmin. Walau libido yang mendera tak setinggi beberapa saat lalu, Yunho tetap mempertahankan konsistensi pergerakannya meski Yunho nampak tak menikmati, tersirat dari wajah lelaki bersurai hitam itu bila ia gelisah menyakinkan presepsinya akan intergrasi Changmin. Tiga kali melayangkan serangan pada prostat Changmin."AHH!"Tubuh Changmin melemas, merasakan organ dalamnya seperti ditarik keluar, kosong, dan tidak nyaman ketika Yunho menarik penisnya keluar dari lubang anus. Lelaki bersurai kecoklatan itu merasa basah, tidak hanya basah oleh keringat yang mengucur namun juga basah karena sperma Yunho mengenai badannya. "Uhh... Uhh..."Yunho menyisir helaian surai hitam menggunakan jemari tangan, mengalihkan wajah memandang nanar sisi tempat tidur sembari berusaha menormalkan deru nafas pasca meraih klimaks. Kognitif Yunho dipenuhi stereotipe negatif, dijejali presepsi dan spekulatif yang memicu pergolakan batin. Apakah Changmin benar-benar tidak menerima Yunho? Bila memang tidak menerima, mengapa Changmin tak berusaha menolak diawal? Memberi pengharapan kepada Yunho hingga memancing intuisi lelaki itu seakan Changmin menerima dirinya.'Ternyata sama.'Changmin masih menyimpan benci kepada Yunho atas segala konatif dan afeks yang dia lakukan. Semula Yunho memang telah menabur luka, terlalu berambisi menghancurkan hidup Changmin serta merenggut semua yang telah diambil Dongwook. Pada klimaksnya Yunho telah berhasil, berhasil mendapatkan semua yang dia inginkan namun tidak pada orientasi ideologinya. Yunho tak pernah menerka bila sekarang dia terjebak, menggulirkan segala yang ia lakukan laksana bumerang. Dia kini menginginkan Changmin, menginginkan pria itu tetapi intuitif Yunho mengatakan bila Changmin hanya menerima Siwon. Cuma menginginkan saudara kembarnya itu menempati ruang yang ingin Yunho isi, termaksud pada kondisi sekarang.'Kau... tidak ingin mengandung anakku lagi, Changmin-ah?'.Diantara hembusan nafas mengalun seantero ruangan, tangan kiri Changmin bergerak mengarah ke meja sisi tempat tidur. "Ko..." Menelan saliva dengan cepat. "Kondom... ada dilaci nomor dua."Tercenung.Walau nampak bersusah payah berkata akibat pergerakan nafas yang memburu, Yunho masih bisa menangkap perkataan Changmin. Manusia memang senantiasa dilanda kompulasi di mana ia akan tenggelam pada keteguhannya sendiri atas keyakinan rasional yang menyatakan ia harus meninggalkan karena secara fakta tidak ada tempat, namun sering kali keyakinan irasional yang lebih dikendalikan perasaan masih mencoba bertahan dengan daya kekuatan dan untuk pada situasi sekarang hal itu berlaku pada Yunho. Meski teguh ingin mengeyahkan perkataan Changmin yang dia anggap delusi, Yunho tetap meyakini bila apa yang dia dengar adalah realita. Benarkah masih ada kesempatan bagi Yunho untuk menempati hati Changmin?"Uhh... Nnn..."Tersandar akan suara rintihan Changmin, Yunho merefleksikan pergerakannya dalam bentuk spontanitas, lekas meraih laci nomor dua mengeluarkan satu pack kondom. Laksana lidibo yang semula padam kembali berkobar membakar rasionalitasnya, tutup kotak kondom Yunho robek. Mengeluarkan satu strip panjang kondom berbentuk sachet dari dalam kotak, kemudian mengigiti plastik kondom, mengenakan kondom tipis bak silikon elastis pada batang penis.Mendekatkan wajah kearah Changmin seraya merekuh pipi lelaki itu, Yunho yang bermaksud mengarahkan ciuman terbelalak lebar mendapati Changmin mengalihkan wajah menyambut ciuman Yunho, saling menautkan bibir ikut dengan gerakan membuka-menutup, membelit bibir mereka berdua dalam ciuman panas bahkan lidah keduanya turut bergerak serima. Menyalurkan entitas konseptual mereka. Sangat menggairahkan, membagi implusifitas seksual yang tak terbendung.Mengarahkan kedua kaki Changmin, Yunho melingkarkannya kepinggul. Kembali memposisikan penis terbalut kondom tipis bersejajar dilubang anus, mulai bergerak perlahan-lahan memasukan kepala penis sembari mencium ganas bibir Changmin. Memasuki rongga mulut Changmin menghisap kuat lidah lelaki itu, memporak-porandakan isi mulut Changmin."Umm... Nnn... U-Uhh..." Mendesah di dalam mulut Yunho, Changmin menggerakan kedua tangan menuju leher Yunho menuruti permintaan pria berkulit tan itu.Tak seperti awal pertama melakukan hubungan seks, Yunho tak merasa kesulitan memasukan penis ke lubang anus Changmin. Setelah penestrasi dan disusul membombardir anus Changmin, penis Yunho bergerak luwes, masuk perlahan tanpa hambatan berarti dari dinding anus. Berhasil memasukan setengah batang penis, Yunho mengeluarkan kejantanannya sampai mencapai bibir anus, kemudian dalam hentakan cepat melesakan kepala penis memasuki anus."Ahh!" Changmin melepaskan tautan bibir keduanya, mengalihkan wajah kearah samping sembari mendesah kencang.Seolah menstrimulasi Changmin, Yunho mendorong kembali penis di dalam anus. Membuat batang penis keluar-masuk dengan erotis, menggiring desahan keduanya membaur satu sama lain. Tak puas memompa kepuasan diri melalui dinding anus yang licin nan kesat terasa disetiap inci kulit penisnya terbalut kondom, Yunho menghisap puting dada Changmin. Mengigiti puting dada yang teracung tegak dengan gemas, membuat permukaan puting dada kembali merekah, mengeluarkan asi yang dihisap kuat Yunho hingga terasa diindra pengecapnya. Tangan kiri Yunho ikut bersinergi, melakukan manuver-manuver baru pada puting dada sebelah kiri Changmin. Mengamit puting dada menggunakan kedua jari, memilin benda kecil tersebut kekiri dan kekanan, memelintirnya seraya menarik-narik puting dada lalu mencengkram daging dada mengeluarkan asi Changmin. Mendapati asi keluar akibat kedua pergerakan jemari tangannya, lidah Yunho terlihat, menjilati asi tersebut lalu mengulum puting dada yang sebelumnya dia mainkan. Menyinkronisasikan tangan pada permukaan sebelah dada yang basah usai ia hisap, Yunho menancapkan ujung ibu jari menenggelamkan puting dada Changmin, memutarinya dengan gerakan perputaran jam."Ahh-ahh-ahh!" Changmin mendesah tanpa nafas. Tubuhnya ikut terlonjak menerima hentakan demi hentakan keras dan cenderung ganas dari Yunho. Ranjang yang mereka tiduri berderit keras, begitu riuh menabuh gairah di antara kedua insan tersebut.Mengangkat tubuh Changmin hingga berada dipangkuan, sembari menggerakan pinggul Yunho terus menghisap puting dada Changmin. Membiarkan Changmin mendesah sesuka hati dengan kedua tangan lelaki itu berada dipundak, mencengkram pundak Yunho sembari meloloskan kemeja hitam yang tak terkancing sempurna tetapi masih dikenakan lelaki itu. Cukup tak adil bagi Changmin disaat dia tidak mengenakan sehelai benang, Yunho masih berpakaian, hanya mengeluarkan kejantanan tanpa melepaskan celana begitu juga dengan kemeja tersebut. Di tengah pergulatan menyalurkan hasrat biologis, pergerakan Yunho menggesekan anus Changmin memelan seketika, bersamaan dengan wajah keduanya teralih mendengar suara dari ranjang bayi.Taemin mengerang, nampak terganggu dengan suara keributan yang diciptakan kedua orang tuanya. Tidak menangis memang namun cukup mengintergrasikan Yunho dan Changmin bila mereka berdua harus meredam suara agar Taemin tak terbangun dari tidurnya.Masih menggerakan pinggul melesakan kepala penis dalam tempo pelan, Yunho kembali menghadap kearah Changmin. Mengusap pelan pipi laki-laki yang kini membekap erat mulutnya guna meredam desahan. Tersenyum kecil Yunho menggenggam pergelangan tangan Changmin, melepaskan tangan lelaki bersurai kecoklatan itu agar tak lagi menutup mulut, kemudian membawa tangan Changmin kebelakang tubuh pria berkulit putih tersebut. Menautkan jari-jari tangan mereka diikuti bibir Yunho membelenggu bibir Changmin. Memberi alternatif lain untuk meredam desahan Changmin."Uhh... Nnn.. Ahh... Nghh..." Hentakan tersebut tetap tak berkurang, semakin cepat dan cepat setiap detiknya. Mengabaikan derit suara ranjang ataupun upaya Changmin meredam leguhan, Yunho tetap gigih menggempur lubang anus Changmin.Rasa panas kembali menjalar, menggerogoti tubuh dimulai dari mata menuruni leher hingga ke paha bawah, menstimulasi tekanan pada perut bawahnya dalam jumlah besar, bergolak, dengan cairan kental terus menetes-netes dari kepala penis Changmin. Terlampau sulit menahan erangan didasar kerongkongan, Changmin jadi tidak bisa bernafas normal guna menyelaraskan gerakan mereka berdua yang harmonis. Meski tak sinkron seperti beberapa saat lalu, apa boleh buat. Changmin tidak mempunyai pilihan lain, dia tidak ingin membuat Taemin kecilnya terbangun."Nahh! Uggh! Ahh!" Terdengar keras dari bongkahan pantat yang tertampar perut Yunho menjadi nada lain selain desahan serta derit ranjang bersinkronisasi. Tusukan dilakukan Yunho kian bringas, tak bertempo, konsonannya pun terdengar kacau balau. Yunho nampaknya telah tersulut oleh interaksi dinding anus Changmin. Dinding-dinding otot tersebut yang berkedut, mengerut kencang dengan detakan kembali terasa dipenis Yunho. Otot anus Changmin berkontraksi hebat menerima tiap tusukan konsisten dari Yunho.Sangat intens, perasaan yang menyatu dari kedua insan tersebut membaur. Memberi regulasi afeks yang tersubtansi begitu indah. Walau terdiskriminasi oleh penis yang membengkak memenuhi lubang anusnya, Changmin tidak bisa memungkiri bila kini dia merasa nikmat. Tak pernah dia merasakan kenikmatan seperti sekarang, melebihi hasrat yang ia rasakan sewaktu menjalin tali kasih bersama Sojin. Meski tak selaras, Changmin mengupayakan diri untuk menggerakan pinggul. Menyambut sodokan Yunho yang terasa begitu dalam, menyenangkan dan juga nikmat.Merasakan dinding anus menampakan urat-urat disepanjang permukaan yang diselingi detakan kencang, Yunho mempercepat tempo. Menghujam kepala penis mengarah satu titik di prostat Changmin, mengontribusikan dinding anus yang terangsang agar lebih menampakan eksistensinya. Semakin kencang, semakin mengunci rapat penisnya, juga berdetak kuat. Tubuh Changmin bergerak tak tentu arah, sangat gelisah dari pangkuan Yunho akibat kuatnya sensasi pergolakan penis lelaki bersurai hitam itu. Memompa Changmin dengan sedemikian rupa melalui hentakan penis Yunho, Changmin tetap ingin merasakan kenikmatan itu. Seakan kognitif keduanya saling terkoneksi, Yunho yang mengetahui hal tersebut meremas kuat kedua bongkahan pantat Changmin. Merenggutnya dalam kedua telapak tangan dalam cengkraman kuat, membuka paksa bongkahan pantat Changmin agar reward yang Yunho dapatkan lebih maksimal, merenggangkan lubang anus menggali kenikmatan yang tersaji. Sembari mencengkram sebelah bongkahan pantat Changmin, jari Yunho bergerak nakal. Bergerilya selama sesaat pada lipatan kurva bokong. Secara mengejutkan jari telunjuk Yunho memasuki lubang anus Changmin, menggerakan jari telunjuk keluar-masuk bersamaan dengan penis yang memompa tempat tersebut, disusul menampar telak bongkahan pantat yang sebelumnya dia cengkram, memproyeksikan tubuh lelaki itu hingga kini bergetar hebat menerima tamparan tangan Yunho."Ngghh! Nnh! Ahh!" Gairah kian membubung tinggi, kucuran keringat tiada henti menetes dari permukaan kulit Changmin. Tubuhnya bagai disesaki dua rasa yang berlawanan arah, panas didalam namun benar-benar basah diluar oleh kucuran keringat. Dindin