Chapter 41 (1/1)
Chapter 41 Luhan mendengar suara bising begitu ia memasuki sebuah club. Dengan segera ia mencari keberadaan rekan-rekannya yang sudah menunggunya sejak tadi. Senyum menawannya tercetak begitu melihat sosok yang dicarinya, Taemin dan Minho.“Akhirnya datang juga,” sindir Minho begitu melihat tampang sahabatnya itu.“Mian, mian, pekerjaanku baru saja selesai,” kata Luhan sambil menunjukkan cengiran lebarnya.“Jadi, sudah sampai sejauh mana persiapan pernikahanmu dan Naeun?” tanya Luhan sambil duduk di sebelah Taemin.“Huh, bukankah kau yang jauh lebih tahu?” cibir Taemin malas.“Bukankah itu kejutan yang menyenangkan?” tanya Luhan sambil menyeringai jahil.Taemin meneguk winenya hingga tak bersisa dan menatap Luhan garang, “Menyenangkan sih menyenangkan. Tapi tetap saja atmosfernya jadi tidak enak sekali tadi. Keadaan sangat canggung,” omelnya panjang lebar. Minho menautkan alisnya kebingungan. Dia sama sekali tidak mengerti dengan yang dibicarakan kedua temannya ini.“Uh, pantas saja kau merekomendasikan Blanc & Eclare, ternyata,” kata Taemin sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan rencana Luhan.“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” tanya Minho mulai tidak sabar. Sedari tadi dia hanya menjadi pendengar tanpa mengerti apa yang keduanya bicarakan.“Tanya saja padanya,” dengus Taemin kesal. Minho segera menatap Luhan meminta penjelasan, sedang yang diminta hanya tersenyum misterius.“Ya, Kim Taemin sebaiknya kau saja yang menjelaskannya padaku. Kurasa Luhan sama sekali tidak berniat memberitahukan semua padaku,” pinta Minho keras kepala. Taemin hanya mendesah pelan.“Dia, temanmu itu beberapa waktu yang lalu tiba-tiba merekomendasikan seorang designer untuk merancang baju pengantinku. Dan kebetulan sekali dia adalah salah satu designer Blanc & Eclare, perusahaan fashion yang akan bekerjasama dengan perusahaanku. Jadi, yah langsung saja aku setuju,” Taemin akhirnya mengalah memberi penjelasan.“Dan parahnya lagi dia merekomendasikan designer itu sebagai pendamping pengantin wanita kami,” Minho mengernyit begitu mendengar yang satu itu. Ia lantas manatap Luhan aneh. Yah, Oh Luhan memang tampak sedikit aneh.“Dan aku tahu sekarang alasan dia merekomendasikan semua itu,” kata Taemin mengakhiri penjelasannya.“Ternyata designer itu adalah Soojung, Jung Soojung,” kata Taemin menjawab semua rasa penasaran Minho.“Mwoo?!?” seru Minho kaget. Dia lantas memandang Luhan memastikan, dan pemuda itu hanya mengangguk membenarkan.“Ba-bagaimana bisa?” Minho benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.“Yah, bisa saja jika aku yang mengaturnya,” kata Luhan sambil mengangkat bahunya acuh.“Lalu, bagaimana dengan reaksi semua orang? Kau tahu maksudku bukan?” tanya Luhan pada Taemin.“Yah, seperti itu. Kurasa Jinri bisa menerima Soojung dengan baik. Entah dengan Jongin dan Sehun. Mereka terlihat aneh,” kata Taemin sambil mengingat reaksi semua orang tadi.“Aneh?”“Kau tahu bukan rasanya bertemu seseorang yang amat kau cintai setelah sekian lama? Yah, seperti itulah,” jawab Taemin sama sekali tidak bisa mengistilahkan apa yang dilihat dan dirasakannya tadi.“Ckkks, kenapa kau biarkan Soojung bertemu Jongin dan juga Sehun?” tanya Minho kesal.“Biarkan Soojung berbahagia dan menikmati kehidupannya,” protes Minho pada Luhan.“Dan membuat mereka tidak menyelesaikan permasalahan konyol yang pernah terjadi?” tanya Luhan mengintimidasi.“Tidak, ini sudah saatnya bagi mereka untuk saling berbicara,” lanjut Luhan sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.“Dan lagi kurasa kebahagian Soojung tempatnya di sini,” tambahnya sambil tersenyum misterius. Minho dan Taemin saling berpandangan dan mendesah bersamaan. Temannya yang satu ini memang sulit sekali ditebak. O0O Kang Seulgi menyadarinya, sangat menyadarinya. Dia sudah curiga dengan rona bahagia yang dipancarkan bosnya ini sejak bertemu dengannya pagi tadi. Kim Jongin terlihat begitu bersemangat, bahkan tidak terlihat gurat-gurat kepenatan akibat pekerjaannya yang begitu banyak akhir-akhir ini. Dan sekarang Seulgi bisa menebak alasannya. Yah, kemungkinan besar karena gadis yang tengah mempresentasikan gagasannya di meeting ini.Kim Jongin nyaris tidak bekedip untuk mengamati setiap pergerakan Soojung. Setelah pertemuan dengan Soojung kemarin, akhirnya Jongin dapat bertemu dengan Soojung kembali. Oh, Jongin benar-benar kesulitan tidur hanya untuk menantikan datangnya hari esok. Sejak tadi fokusnya hanya diarahkan pada Soojung seorang. Kedua netranya sama sekali tidak bisa lepas dari sosok menawan Jung Soojung. Jongin bahkan tersenyum sendiri ketika mengingat pertemuan pertama dirinya dan Soojung kemarin. Sungguh, sekali lagi Jongin ingin menghirup aroma tubuh Soojung yang begitu memabukkannya.“Sajangnim?”“Sajangnim?” Jongin tersadar begitu mendengar dirinya dipanggil oleh Seulgi, sekretarisnya. Dia lalu tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya canggung.“Jadi bagaimana menurutmu, tuan Kim,” tanya Soojung dengan senyum dipaksakan. Sebenarnya dia sadar penuh bahwa sedari tadi Jongin memandanginya. Tapi, Soojung berusaha tidak peduli dan acuh.“Ahh, yah, aku suka konsepnya. Lanjutkan saja,” Soojung menghela napasnya sesaat. Nah, benar bukan? Jongin sama sekali tidak mendengarkan presentasinya. Buktinya jawabannya asal begitu.Jongin berdeham sejenak lalu menatap salah satu stafnya, “Eum, nona Krystal. Park Luna akan membantumu selama mengurus proyek ini dan jangan sungkan memint