Chapter 2 (1/1)

Chapter 2Pagi ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Hanya saja ketujuh orang yang bertangga ini berangkat bersama ke sekolah. Luhan, Sehun dan Soojung berada pada mobil sport merah milik Luhan. Sedang Minho harus rela menjadi supir dari Taemin, Jinri, dan Jongin. Bak idola sekolah ketujuh remaja itu keluar dari kendaraan masing-masing. Siapa yang tidak mengenal mereka di SM High School.Ada Choi Minho si ketua tim basket sekolah. Kim Taemin ketua klub dance. Dan tentunya ketua OSIS nan menawan Oh Luhan. Tak ketinggalan empat sahabat yang memiliki beragam karakter Kim Jongin, Oh Sehun, Choi Jinri, dan pastinya Jung Soojung. Setiap siswa memandang kagum kepada tujuh siswa yang juga bertetangga ini. Namun, ada juga yang memandang iri Soojung dan Jinri, satu-satunya perempuan di antara para pemuda tampan idaman siswi SM High School.Kini Soojung, Jinri, Sehun dan Jongin telah berada di kelas mereka untuk mengikuti pelajaran hari ini. Kebetulan mereka berada pada kelas yang sama. Sejak TK hingga sekarang mereka selalu ditakdirkan untuk satu kelas. Bertetangga, bersekolah dan menjadi teman sekelas adalah takdir yang tak dapat dihindari empat sahabat ini.O0OIstirahat telah tiba, Jongin, Sehun dan Jinri berada di kantin menikmati istirahat mereka. Jongin sedari tadi gelisah menyadari kehilangan sahabat favoritnya, Soojung. Sehun dan Jinri memandang Jongin heran.“Kau seperti cacing kepanasan, Jong-ah,” kata Jinri mengalihkan perhatian Jongin.“Ahh, bukan. Hmm, apa kalian Soojung di mana? Tumben dia tidak ke kantin,” kata Jongin salah tingkah. Sehun yang mendengar kata-kata Jongin menyeringai penuh arti.“Kau sudah merindukannya, huh? Padahal kita ini sekelas, bahkan rumah berdekatan. Tetapi kau tetap saja gelisah jika tak ada Soojung di sekitarmu,” goda Sehunsambil tersenyum jahil.“Hishh, bu-bukan begitu. Aku ha-hanya heran,” ujar Jongin sambil mengalihkan pandangannya. Dua sahabatnya yang lain hanya terkikik melihat tingkah Jongin.“Dia di perpustakaan, Jong. Ada buku yang dicari untuk referensi karya tulisnya,” ucap Jinri. Jongin hanya membulatkan mulutnya.“Baiklah, aku akan menyusulnya ke perpustakaan. Soojung suka tiba-tiba kelaparan,” kata Jongin membawa sebungkus roti isi coklat sambil beranjak dari kantin. Jinri dan Sehun hanya tersenyum m