The Ego
Tittle : The Ego Part I (GS)Writer : NaraYuukiGenre : Yang jelas fantasy gagalRate : TCast : Umma, Appa and otherDisclaimer: : They are not mine, but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuukiWarning : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut...Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya...Baca Warningnya dulu, ne! ..“Dryad, adalah peri hutan yang menempati hampir setengah wilayah hutan di seluruh daratan Big East. Ada dua macam suku Dryad di wilayah Big East, Reivas Dryad dan Rialis Dryad yang keduanya saling berselisih paham soal daerah perbatasan dan segala sesuatu yang bisa membuat kedua suku itu bertempur saling membunuh satu sala lain. Padahal mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama, Green Dryad yang kemudian terpecah karena perang saudara.Itu cerita lama....Kini semua Dryad berada dalam satu naungan kepemimpinan yang sama, berada pada perlindungan negara yang beberapa tahun lalu baru saja di bentuk, Cassiopeia. Negara yang terbentuk setelah perang besar yang terjadi antara para Dryad, perang yang membuat ribuan nyawa para Dryad melayang sia-sia, perang yang membawa luka dan cinta....Perang karena sebuah Ego....”. .“Ahjumma..... Dimana Umma?” tidak ku pedulikan tatapan orang-orang yang sedikit syock melihatku berlarian di halan depan istana. Istana? Tentu saja. Ummaku adalah putri mahkota dari suku Rialis sebelum melebur menjadi kerajaan Cassiopeia bersama dengan suku Reivas.“Yah! Yang Mulia.... Jangan berlarian seperti itu!” Ah, namja yang memiliki suara khas itu adalah Junsu Ahjumma, seorang yang juga merupakan sahabat Umma yang ikut membantu merawatku semenjak aku lahir.“Umma.... Ahjumma dimana Umma?” tanyaku panik. Umma sedang sakit dan tadi ketika aku masuk kamarnya Umma sudah menghilang entah kemana.“Yang Mulia... ku mohon jangan bersikp kekanakan seperti ini, eoh....”“Yah Ahjumma! Aku memang masih anak-anak!” kesalku. Usiaku baru enam belas tahun. Usia itu masih dianggap remaja bagi kami bangsa Dryad yang memiliki umur hingga ribuan tahun.“Tenanglah Yang Mulia, Ibu anda sedang mengunjungi ayah anda ditemani oleh Panglima Yoochun dan Pangeran Changmin.” Jelas Ahjumma.Aku terdiam sejenak.“Appa ya....” gumamku sepelan mungkin, “Kalau begitu aku akan menyusul Umma.”“Mwo? Yah! Yang Mulia....” omel Junsu Ahjumma.“Thunder....!” teriakku nyaring. Ku panggil harimau putih yang sebelumnya adalah milik ayah yang didapatnya dari para Elf. Tubuhnya tinggi besar seukuran Dryad dewasa, tapi Thunder sangat jinak, “Hei, mari kita lomba lari. Siapa yang bisa sampai ke tempat Appa lebih cepat dialah pemenangnya. Bila aku yang menang kau harus janji untuk tidak mengganggu anjing peliharaan Yoochun Ahjushi, bila aku yang kalah akan ku berikan lima ekor rusa dan sepuluh ekor ayam hutan untukmu.”Thunder hanya menguap malas.“Mulai!” aku mulai berlari sekencang yang aku bisa, tidak memedulikan salju yang mulai turun, ku biarkan perasaan sesak di dadaku mendingin.Whush!Ku rasakan hempasan angin yang melaluiku, Thunder sudah berada di depanku. Cih! Sepertinya kemampuan lari Appa yang katanya adalah Dryad tercepat itu tidak menurun padaku. Buktinya saja Thunder yang segendut itu mampu mengalahkan lariku.“Anak yang malang....”Aku tersenyum, angin menyampaikan gumaman Junsu Ahjumma padaku. Selalu seperti ini.... Sejujurnya aku sudah tahu kalau hidupku sangat malang, aku tahu banyak yang mengasihaniku karena hal ini. Tapi aku tidak pernah menunjukkan kesedihanku, aku mencoba tegar demi Umma yang salalu membesarkan hatiku.Andai orang-orang tahu kemalangan ini adalah anugerah terindah dalam hidupku, karena aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat dan diketahui orang lain......Lihat-lihat! Yeoja cantik yang baru saja meletakkan tangkaian mawar di atas salju putih itu adalah Ummaku. Cantik bukan? Umma adalah Dryad tercantik sepanjang masa. Beruntunglah Appaku yang bisa memilikinya, beruntunglah aku yang terlahir dari rahimnya.Tempat ini....Tempat ini adalah saksi perang besar yang terjadi beberapa tahun lalu....Di tempat inilah....Ya..... di tempat inilah yang membuatku terlahir seperti ini.Walaupun ketika perang itu terjadi sebelum aku lahir, tetapi apa yang saat itu terlihat oleh Appa dan Umma dapat ku lihat, perasaan sedih, ketakutan dan terluka.... Bahkan dalam tidurku pun aku melihat dan mendengar anak-anak para Dryad berteriak ketakutan, menangis karena perang telah merenggut orang tua mereka.Karena hal inilah banyak orang yang mengasihaniku.... Menganggapku sebagai pengikat tali simpul diantara mereka, karena aku serupa ayahku, karena aku anak ibuku, karena aku seorang Jung Hyunno.“Beruang kecil, kenapa kemari, hm?”Ku dekap tubuh Umma yang mulai dingin karena salju yang turun mulai tebal, “Yah! Berhenti menertawakanku!” ku pelototi Thunder yang menatapku dengan tatapan mengejek karena aku kalah lomba lari darinya. Cih! Lama-lama harimau gendut itu mewarisi sifat Appa, padahal aku kan anak Appa! Bukan si gendut berkaki empat itu.“Yang Mulia.... Bukankah Tuan Putri melarang anda kemari?” Park Yoochun Ahjushi menatapku. Tangan kanan Umma sekaligus suami Junsu Ahjumma ini meemang selalu bawel padaku.“Aku sudah besar Ahjushi! Aku sudah cukup dewasa untuk merasakan sakit itu.” Ucapku, “Selama ada Umma aku akan baik-baik saja.”“Dasar anak Umma....” sindir Jung Changmin Ahjushi. Adik Appa itu memang sering kali bermulut pedas, tapi aku tahu sedingin apapun sikapnya padaku, Ahjushiku itu sangatlah menyayangiku.“Ahjushi....” panggilku.“Entah kenapa Cassiopeia dipimpin bocah merepotkan sepertimu....” Changmin Ahjushi menatap nanar padaku.Aku tersenyum. Kata orang-orang aku memang sangat mirip dengan Appa. Bahkan Umma sendiri menjulukiku beruang kecil, ‘Beruang’ adalah panggilan sayang Umma untuk Appa. Siapa pun yang mengenal Appa dan kebetulan melihatku pasti akan memelukku sembari menangis tersedu, dan bila hal itu terjadi aku hanya bisa tersenyum pada mereka, berharap bisa sedikit memberkan penglipur lara untuk mereka.“Umma....” ku tatap doe eyes kelam Umma yang hitam gelap. Mata yang sangat Appa sukai. Appaku yang genit itu suka sekali menatap mata indah Umma lama-lama.“Hei, jangan mengatai Appamu genit seperti itu....” Umma mencubit hidungku.Aku meringis, Umma memang bisa membaca pikiranku.“Kau siap menemui Appamu, hm?” sentuhan tangan Umma pada pipiku terasa sangat lembut dan hangat seolah mampu mencairkan salju di sekitarku. Doe eyes indahnya yang nanar ketika menatapku itu seolah mendatangkan sembilu untukku.“Aku ingin bertemu Appa....” ucapku mantab. Walaupun menemui Appa sama artinya mendatangkan seratus tahun mimpi buruk bagiku, aku tidak peduli! Aku ingin bertemu Appa. Aku ingin melihat wajah tampannya yang kata orang-orang menurun padaku. Aku ingin melihat Appa yang mampu mendatangkan bahagia dan nelangsa bagi Umma, aku ingin bertemu Appa yang menurunkan nama Jung yang ku sandang ini. Aku sangat ingin bertemu Appa.Andai aku bisa....Andai aku mampu....Dan semoga aku bisa melakukannya.“Kau pasti bisa Little Bear!” Changmin ahjushi mencengkeram kedua bahuku erat seolah menyalurkan keberanian padaku.Ku tatap Ahjushi, tiba-tiba ada keraguan besar yang menyergap hatiku. Aku ketakutan. Entah karena apa?“Umma di sini baby..... Umma akan selalu bersamamu. Umma akan selalu menemanimu....” Umma menggenggam erat telapak tanganku.Appa, keberanian seperti apa yang Appa miliki hingga mampu menyatukan dua seteru? Keberanian seperti apa yang Appa miliki hingga Appa mampu menaklukkan ketakutan Appa sendiri? Ajari aku Appa......Thunder sudah berjalan di depan bersama Changmin Ahjushi, aku berjalan beriringan dengan Umma yang dengan setia menggenggam erat tanganku, sedangkan Yoochun Ahjushi berjalan di belakang untuk berjaga-jaga. Walaupun perang sudah usai namun ada saja orang yang mengincar nyawa Umma untuk melakukan pemberontakan. Andai para pelaku makar itu tahu bahwa sekarang tahta kepemimpinan sudah menjadi milikku. Para pemberontak itu tidak tahu kalau aku yang kini memegang kepemimpinan tertinggi Cassiopeia karena mereka biasanya berasal dari daerah perbataaan dengan kerajaan Troll.Napasku memberat. Gerbang kokoh berwarna hitam pekat yang terlihat begitu kontras dengan warna putih salju disekitarnya mulai terlihat. Tubuhku gemetaran.... Suara itu.... Suara itu membuatku merinding dan ketakutan. Tapi aku ingin menemui Appa....Appa, apakah untuk bertemu denganmu harus melalui penderitaan seperti ini?“Gwaechana....” bisik Umma.“Umma....” aku terduduk jatuh, air mata mengalir begitu saja dari kedua bola mataku, “Umma.... Umma....” racauku.Umma mensejajarkan dirinya dihadapanku, mendekapku erat. Ku rasakan Umma mentransfer kehangatan tubuhnya padaku, kehangatan yang sama yang pernah Appa rasakan saat menghadapi ketakutannya dulu.“Umma....” aku menangis, “Wae? Kenapa begitu menakutkan? Tolong hentikan teriakan itu Umma! Mereka beretriak meminta tolong padaku, Umma....” aku terisak semakin keras. Katakanlah aku cenggeng, tapi aku sangat ketakutan. Suara-suara itu memenuhi tempurung kepalaku.“Nunna.... biar aku!”Dalam ketidakmampuanku mengendalikan diri ku lihat samar Changmin Ahjushi menyentuh kepalaku, menyalurkan sebuah energi yang menguarkan cahaya kehijauan, energi yang tidak ku ketahui apa itu, tapi aku pernah melihatnya ketika Appa mencoba menyelamatkan Umma yang saat itu nyaris keguguran ketika sedang mengandungku.Samar, kulihat seorang namja tampan tersenyum padaku, membisikkan sesuatu padaku....“Hyunno, Appa selalu bersamamu.... tidak apa-apa.... Anak Appa pasti bisa melaluinya....”Appa....Akhirnya kita bertemu juga......TBC..Iseng aja sich buat akun di sini :)..Saturday, October 12, 20137:19:45 AMNaraYuuki